
Kementan menegaskan komitmennya menolak masuknya quarter leg chicken impor dan mengajak GOPAN serta asosiasi unggas bersatu menjaga kedaulatan pangan dan melindungi peternak rakyat.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Kementan menegaskan komitmennya menolak masuknya quarter leg chicken impor dan mengajak GOPAN serta asosiasi unggas bersatu menjaga kedaulatan pangan dan melindungi peternak rakyat.
Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan sikapnya: tidak akan membuka keran impor quarter leg chicken atau paha ayam dari luar negeri.
Brasil, Amerika Serikat, hingga negara produsen lainnya disebut-sebut siap membanjiri pasar Indonesia dengan produk murah mereka, namun Kementan memastikan pintu tetap tertutup rapat demi melindungi peternak rakyat.
Dalam pertemuan dengan Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) dan sejumlah asosiasi unggas, Kamis (07/08) Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda mengingatkan pentingnya kekompakan di kalangan pelaku usaha perunggasan.
“Kalau yang besar-besar tidak kompak, pemerintah juga pusing. Bisa saja akhirnya dibuka impor dari Brasil atau Amerika. Dan kalau chicken leg quarter sudah masuk, wassalam peternak rakyat kita,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah tidak mungkin hanya memperjuangkan kepentingan satu atau dua orang. “Kami fokus pada kepentingan ratusan ribu peternak. Inilah mengapa asosiasi seperti GOPAN dibutuhkan, menjadi penyambung aspirasi dan mitra strategis kami dalam merumuskan kebijakan,” ujarnya.
Kementan memastikan Indonesia saat ini berada pada posisi surplus ayam dan telur. Bahkan, beberapa negara sudah tertarik menjadi tujuan ekspor unggas Indonesia.
“Saya sudah dua kali bersurat secara formal bahwa ayam dari luar, no way. Justru kita dorong ekspor ayam dan telur,” paparnya.
Meski begitu, surplus produksi belum sepenuhnya terasa bagi peternak mandiri berskala kecil dan menengah. Harga pakan, fluktuasi pasar, hingga persaingan global masih menjadi tantangan.
Karena itu, Kementan mengajak semua asosiasi, termasuk Pinsar dan organisasi peternak lainnya, memperkuat sinergi menjaga stabilitas produksi dan harga.
“Percuma regulasi sudah bagus kalau peternak belum merasakan manfaatnya. Kita ingin jumlah peternak mandiri bertambah, bukan berkurang. Yang besar kita dorong makin besar, yang kecil kita dukung naik kelas,” jelasnya.
Ia menegaskan, stabilitas perunggasan nasional bukan hanya urusan pemerintah, tapi juga hasil kerja sama semua pihak.
“Kalau peternak mandiri makin banyak, makin jaya perunggasan kita. Bersama GOPAN, kita bisa menjaga kedaulatan pangan unggas dan memperluas pasar ekspor,” pungkasnya.
Dengan komitmen ini, Kementan berharap industri unggas Indonesia tetap kokoh menghadapi tekanan impor dan terus memberikan kesejahteraan bagi peternak rakyat.



