Tuesday, 10 March 2026


Vaksin Oral Jadi Pilihan, Kasus Rabies di NTT Turun Signifikan

29 Oct 2025, 16:08 WIBEditor : Herman

Pemberian Vaksin pada Anjing menurunkan kasus rabies di NTT

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Upaya pemerintah menekan penyebaran rabies di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menunjukkan hasil positif.

Melalui kolaborasi lintas sektor dan inovasi vaksinasi, angka kasus rabies di daerah tersebut kini mulai menurun signifikan.

Sejak kasus pertama dilaporkan pada Mei 2023, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah, lembaga internasional, dan mitra pembangunan seperti Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) dan Mission Rabies bergerak cepat memperkuat pengendalian penyakit yang ditularkan melalui gigitan hewan penular rabies (HPR) itu.

Hingga 22 Oktober 2025, tercatat 227.585 dosis vaksin telah disuntikkan dari total 418.304 dosis yang dialokasikan atau sekitar 54,4 persen.

Jumlah ini menjadikan tahun 2025 sebagai periode dengan stok vaksin rabies tertinggi di NTT dalam tiga tahun terakhir.

“Dengan ketersediaan vaksin yang mencukupi, kami dapat mempercepat perlindungan bagi masyarakat dan hewan peliharaan, terutama di daerah rawan penularan,” ujar Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Hendra Wibawa, di Jakarta, Selasa (28/10).

Selain vaksinasi konvensional, Kementerian Pertanian juga memperkenalkan vaksin oral sebagai terobosan untuk menjangkau wilayah kepulauan dan daerah sulit akses.

Tahun ini, sebanyak 30.000 dosis vaksin oral disiapkan, dan 7.488 dosis di antaranya telah digunakan di kawasan perbatasan Indonesia–Timor Leste.

Program ini diiringi dengan pelatihan vaksinator di Kabupaten Belu dan Malaka guna memastikan pelaksanaan vaksinasi berjalan efektif dan aman.

“Kami terus mendorong inovasi seperti vaksinasi oral agar cakupan vaksinasi lebih luas, termasuk di daerah perbatasan,” kata Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar, Imron Suandy.

Imron menambahkan, dengan dukungan masyarakat dan pemerintah daerah, pihaknya optimistis angka rabies di NTT akan terus menurun.

Langkah pembatasan pergerakan hewan penular rabies yang diberlakukan Gubernur NTT sejak Agustus 2025 juga terbukti efektif.

Jumlah kasus rabies menurun dari 4.436 kasus pada Agustus menjadi 3.349 kasus pada September.

Penurunan ini menunjukkan kebijakan pembatasan mobilitas hewan antarwilayah berperan penting dalam menekan laju penularan rabies di daerah tersebut.

Selain vaksinasi, Kementerian Pertanian juga memperkuat sistem pemantauan melalui integrasi aplikasi SIZE (Sistem Informasi Zoonosis dan Emerging Infection) dan iSIKHNAS (Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional).

Sistem ini memungkinkan pelaporan kasus secara real-time dari daerah ke pusat.

Reporter : Desi
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018