
Sosialisasi Buku Pedoman Sistem Produksi Ayam Petelur Bebas Sangkar
TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung – Usaha budidaya ayam petelur kini tidak lagi semata-mata berorientasi pada peningkatan produksi telur. Aspek kesejahteraan hewan menjadi perhatian penting seiring meningkatnya tuntutan konsumen dan pasar global.
Menyikapi hal tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) mulai mendorong penerapan sistem budidaya ayam petelur bebas sangkar atau cage-free sebagai bagian dari transformasi menuju peternakan yang adaptif, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.
Komitmen tersebut ditandai melalui Sosialisasi Buku Pedoman Sistem Produksi Ayam Petelur Bebas Sangkar, hasil kolaborasi Kementan dengan Catalyst Thailand, yang digelar di Bandung.
Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat pemahaman bersama mengenai standar produksi cage-free, meningkatkan kapasitas teknis para pemangku kepentingan, serta membuka ruang diskusi agar penerapannya lebih efektif di lapangan.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Hary Suhada, mengapresiasi Catalyst sebagai mitra teknis yang berperan aktif dalam penyusunan pedoman tersebut.

Ia menegaskan, pedoman ini disusun sebagai respons atas dinamika industri perunggasan global yang semakin menekankan aspek keamanan pangan, keberlanjutan, dan kesejahteraan hewan.
“Industri perunggasan Indonesia terus tumbuh signifikan. Namun, seiring meningkatnya kesadaran konsumen dan tuntutan pasar global, dibutuhkan rujukan teknis dan standar operasional yang mampu menjawab kebutuhan tersebut. Pedoman ini diharapkan menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam menerapkan sistem produksi ayam petelur bebas sangkar secara tepat dan berkelanjutan,” ujar Hary.
Ia menjelaskan, meningkatnya komitmen global terhadap penggunaan telur cage-free membawa implikasi langsung bagi pasar domestik sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha nasional untuk meningkatkan daya saing.
Karena itu, kehadiran pedoman resmi dinilai penting untuk memberikan kepastian standar, tata kelola produksi, serta praktik terbaik yang dapat diadaptasi secara bertahap sesuai kondisi teknis dan sosial-ekonomi di lapangan.

“Pedoman ini memperhatikan aspek biologis, teknis, sosial-ekonomi, hingga keberlanjutan lingkungan. Lebih dari itu, dokumen ini menjadi instrumen penting dalam mendorong transformasi industri perunggasan nasional menuju sistem produksi yang lebih modern, adaptif, dan berorientasi pasar,” tambahnya.
Sementara itu, President of Catalyst Co. Ltd., Wadchara Pumpradit, menilai peluncuran pedoman cage-free sebagai langkah penting dan inspiratif. Menurutnya, Indonesia menunjukkan kepemimpinan nyata di kawasan dalam pengembangan standar kesejahteraan hewan dan pertanian berkelanjutan.
“Dengan adanya pedoman ini, Indonesia telah meletakkan fondasi kuat bagi pengembangan standar dan sertifikasi sistem produksi ayam petelur bebas sangkar ke depan. Ini tidak hanya membanggakan bagi Indonesia, tetapi juga berpotensi menjadi tolok ukur bagi negara-negara di kawasan ASEAN,” katanya.
Dari kalangan akademisi, Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Indrawati Yudha Asmara, mengungkapkan bahwa tantangan utama penerapan sistem cage-free terletak pada manajemen lingkungan, nutrisi, dan biosekuriti.
Untuk itu, integrasi pendekatan ilmiah dengan pemanfaatan teknologi, seperti Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan, menjadi kunci menjaga kesehatan ternak sekaligus mengoptimalkan produktivitas.