Wednesday, 21 October 2026


Pakar IPB Ungkap Racikan Pakan Sapi Induk agar Sehat, Subur, dan Produktif

15 Sep 2026, 12:21 WIBEditor : Gesha

Pakar IPB mengungkap strategi pakan hijauan untuk sapi induk, mulai dari komposisi hingga waktu pemberian agar ternak sehat, subur, dan produktif.

TABLOIDSINARTANI.COM, Tanjung Sari – Pakar IPB mengungkap strategi pakan hijauan untuk sapi induk, mulai dari komposisi hingga waktu pemberian agar ternak sehat, subur, dan produktif.

Jangan asal memberi rumput jika ingin sapi induk tetap sehat dan produktif. 

Pakar nutrisi ternak IPB University mengungkap strategi pemenuhan pakan hijauan yang dinilai penting untuk menjaga kondisi tubuh, mendukung kesuburan, sekaligus meningkatkan produktivitas sapi induk.

Strategi tersebut disampaikan pakar nutrisi ternak IPB University, Dr. Iwan Prihantoro, saat memberikan pelatihan kepada peternak yang tergabung dalam Kelompok Tani Ternak (KPT) Maju Sejahtera, Desa Wawasan, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Lampung Selatan, Sabtu (5/9/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) 2026 yang dinaungi Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) IPB University. 

Program tersebut mengusung tema “Optimalisasi Performa Produksi Sapi Induk Laktasi melalui Inovasi Sistem Seleksi dan Budidaya Ternak Aplikatif” dan diikuti 28 peternak lokal.

Dalam pemaparannya, Dr. Iwan menekankan bahwa produktivitas sapi induk, terutama saat memasuki fase laktasi, sangat dipengaruhi kecukupan nutrisi setiap hari.

Karena itu, hijauan seharusnya menjadi fondasi utama dalam ransum. 

Pakan berbasis hijauan dianjurkan berada pada kisaran 60–70 persen bahan kering ransum, sedangkan konsentrat digunakan sebagai pelengkap untuk menutup kekurangan nutrisi.

“Pendekatan yang kami bawa bukan merumuskan ransum yang rumit atau mahal, melainkan bagaimana peternak mampu memaksimalkan potensi hijauan lokal agar pakan ternak selalu cukup, murah, dan tersedia sepanjang tahun,” ujar Dr. Iwan.

Menurut Dr. Iwan, ada empat prinsip yang perlu diperhatikan peternak dalam memenuhi kebutuhan pakan sapi induk.

Pertama, jumlahnya harus mencukupi. Hijauan diberikan minimal 10–12 persen dari bobot badan ternak per hari dalam bentuk bahan kering.

Kedua, kualitas hijauan juga menjadi faktor penting. 

Pakan harus dalam kondisi segar, bersih, tidak berjamur, serta dipanen pada umur yang tepat.

Ketiga, komposisi nutrisi harus seimbang. Peternak dapat mengombinasikan rumput unggul maupun rumput lokal dengan tanaman legum seperti lamtoro, kaliandra, dan indigofera.

Porsi legum sekitar 30–40 persen dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein, kemudian dilengkapi dengan hasil samping pertanian yang tersedia di sekitar peternakan.

Keempat, pakan harus tersedia secara berkelanjutan. 

Artinya, peternak tidak cukup hanya mengandalkan hijauan yang tumbuh secara spontan di sekitar kandang.

Budidaya tanaman pakan perlu direncanakan, termasuk pengaturan waktu tanam, pemanenan, pengolahan hingga penyimpanan.

Hal menarik lainnya, kebutuhan nutrisi sapi induk ternyata tak bisa disamaratakan. 

Pakan perlu disesuaikan dengan kondisi fisiologis dan fase reproduksi ternak.

Pada fase bunting awal hingga tengah, sapi induk dapat diberikan hijauan berkualitas sedang untuk mempertahankan kondisi tubuh ideal. 

Peternak juga perlu mencegah induk mengalami kegemukan berlebihan.

Memasuki fase bunting akhir, kebutuhan nutrisi mulai meningkat. 

Pada tahap ini, tambahan legum atau sumber protein dan mineral diperlukan untuk mendukung kebutuhan induk.

Sementara itu, awal laktasi menjadi fase yang paling krusial.

Pada periode tersebut, konsumsi dan kualitas pakan perlu berada pada tingkat maksimal. 

Pasalnya, induk membutuhkan nutrisi untuk mendukung produksi susu sekaligus memulihkan kondisi reproduksinya setelah melahirkan.

Setelah memasuki fase kering atau pascasapih, perhatian kembali diarahkan pada pemulihan cadangan tubuh induk sebagai persiapan menghadapi siklus kebuntingan berikutnya.

Agar strategi pemberian pakan lebih mudah diterapkan peternak, Dr. Iwan juga mengenalkan konsep “Piring Pakan”.

Konsep tersebut membagi komponen ransum berdasarkan fungsi masing-masing. 

Rumput menjadi sumber serat dan energi dasar, sementara legum hijauan berperan sebagai sumber protein dan mineral.

Hasil samping pertanian lokal dapat dimanfaatkan sebagai tambahan energi maupun protein. 

Di sisi lain, kebutuhan air minum bersih dan garam mineral juga harus tersedia secara bebas bagi ternak.

Dengan pola tersebut, peternak diharapkan bisa memanfaatkan sumber daya lokal tanpa harus selalu bergantung pada pakan yang mahal.

Dr. Iwan juga membekali peternak dengan lima langkah praktis untuk menghadapi potensi kekurangan hijauan, terutama ketika musim kemarau.

Langkah pertama adalah melakukan pendataan dan pengelompokan ternak berdasarkan fase fisiologis.

Sapi induk yang memasuki bunting akhir dan laktasi harus menjadi prioritas dalam pemenuhan nutrisi.

Kedua, peternak perlu memetakan seluruh sumber pakan yang tersedia. 

Bukan hanya kebun rumput, tetapi juga tanaman legum, limbah pertanian hingga lahan sela.

Ketiga, waktu panen harus diperhatikan. Hijauan idealnya dipanen pada fase vegetatif yang tepat. 

Jika terlalu muda, kandungan nutrisi dan serat belum optimal. 

Sebaliknya, jika terlalu tua, kandungan serat meningkat sementara nilai nutrisinya menurun.

Keempat, kelebihan hijauan pada musim hujan sebaiknya tidak dibiarkan terbuang. 

Hijauan dapat diolah menjadi silase atau hay sebagai cadangan pakan ketika musim kemarau.

Kelima, peternak perlu melakukan evaluasi secara berkala. 

Pemantauan dapat dilakukan setiap 2–4 minggu dengan melihat kondisi tubuh ternak, nafsu makan, kondisi feses, kesehatan hingga pertumbuhan pedet.

Kecukupan pakan juga dapat diamati melalui sejumlah indikator kondisi ternak.

Dr. Iwan menyebut skor kondisi tubuh atau Body Condition Score (BCS) ideal berada pada kisaran 2,75–3,25. 

Kondisi ini menunjukkan sapi tidak terlalu kurus maupun terlalu gemuk.

Selain itu, sapi yang mendapatkan pakan cukup umumnya memiliki nafsu makan baik, aktivitas memamah biak teratur, feses padat agak lunak dengan warna cokelat kehitaman, serta bulu yang terlihat mengilap.

Dari sisi reproduksi, siklus birahi juga menjadi indikator penting. 

Siklus yang teratur, sekitar 18–24 hari, serta tidak terjadi perkawinan berulang menjadi salah satu tanda bahwa kondisi reproduksi induk berjalan baik.

Melalui pendampingan tersebut, peternak KPT Maju Sejahtera diharapkan mulai mengubah pola pengelolaan pakan dari sekadar mencari hijauan yang tersedia menjadi sistem budidaya pakan yang terencana.

Dengan demikian, persoalan kekurangan pakan tidak hanya ditangani ketika kemarau sudah datang, tetapi dipersiapkan sejak jauh-jauh hari.

“Hijauan yang berkualitas akan menghasilkan induk yang sehat, dan induk yang sehat dipastikan meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan peternak,” pungkas Dr. Iwan.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018