
Kegiatan Protein Up: Exploring New Opportunities in the Poultry Industry yang digelar di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Yogyakarta.
TABLOIDSINARTANI.COM, Yogyakarta --- Sistem produksi telur cage-free mulai menjadi perhatian serius di industri perunggasan nasional. Bukan sekadar menjawab perubahan preferensi konsumen, sistem pemeliharaan tanpa kandang baterai ini dinilai membuka peluang baru bagi pelaku usaha untuk menciptakan nilai tambah sekaligus membangun bisnis yang lebih berkelanjutan.
Peluang tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam kegiatan Protein Up: Exploring New Opportunities in the Poultry Industry yang digelar di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Yogyakarta.
Forum yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) itu mempertemukan lebih dari 150 pelaku industri, peternak, akademisi, dan pemangku kepentingan perunggasan.
Layer Farm Manager WMU, Ir. Arif Afiata Rahmat, S.Pt., IPP, mengatakan perubahan menuju sistem cage-free seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi teknis pemeliharaan ayam. Menurutnya, sistem tersebut dapat dikembangkan menjadi model bisnis yang mampu menjawab kebutuhan pasar.

“Cage-free perlu dilihat sebagai model bisnis berkelanjutan yang mampu mempertahankan produktivitas sekaligus menghasilkan telur berkualitas sesuai dengan permintaan konsumen,” ujar Arif.
Keseriusan terhadap peluang tersebut terlihat dari langkah WMU yang tengah melakukan ekspansi populasi ayam petelur cage-free. Populasi yang saat ini berada di kisaran 200.000 ekor ditargetkan meningkat menjadi 500.000 ekor pada 2027.
Dengan ekspansi tersebut, WMU diproyeksikan menjadi salah satu produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara. Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa sistem cage-free mulai dipandang sebagai bagian dari strategi pengembangan bisnis, bukan lagi sekadar respons terhadap tren pasar.
Namun, beralih ke sistem cage-free bukan perkara mengganti kandang. Perubahan sistem pemeliharaan tersebut membutuhkan kesiapan menyeluruh, mulai dari teknologi perkandangan, manajemen pemeliharaan, biosekuriti, hingga pengelolaan nutrisi.
drh. Kokot Februhadi, Sales Specialist Kaleter, menjelaskan bahwa saat ini tersedia berbagai pilihan teknologi perkandangan yang dapat diterapkan pada peternakan cage-free. Pilihan tersebut antara lain floor system, aviary, hingga mobile house.

“Seiring dengan semakin berkembangnya sistem produksi ayam petelur cage-free dan semakin banyaknya pilihan peralatan yang tersedia, proses transisi menjadi lebih mudah dan semakin menarik bagi perusahaan yang ingin masuk ke pasar cage-free,” jelas Kokot.
Perubahan sistem pemeliharaan juga berpengaruh terhadap kebutuhan nutrisi ayam. Ayam yang dipelihara dalam sistem cage-free memiliki ruang gerak lebih luas sehingga tingkat aktivitasnya berbeda dibandingkan ayam yang dipelihara dalam kandang konvensional.
Nutritionist & Business Development Manager DMC, drh. Henri E. Prasetyo, M.Vet., mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam menyusun strategi pakan.
“Strategi nutrisi perlu mempertimbangkan tingkat aktivitas ayam yang lebih tinggi, kesehatan kaki dan kerabang telur, serta peluang menghasilkan telur dengan kualitas dan nilai fungsional yang lebih baik melalui pendekatan precision nutrition,” ungkap Henri.
Aspek kualitas telur juga menjadi perhatian. Hasil pengujian yang dilakukan WMU terhadap telur dari sistem cage-free dan kandang baterai menunjukkan adanya perbedaan pada sejumlah komposisi nutrien.
Beberapa parameter, seperti karoten, Omega-3, Omega-9, DHA, dan protein, ditemukan lebih tinggi pada telur dari sistem cage-free. Sementara sejumlah parameter lainnya ditemukan lebih tinggi pada telur yang dihasilkan dari sistem kandang baterai.
Meski menawarkan peluang pasar, sistem cage-free juga menuntut pengelolaan kesehatan ayam yang lebih komprehensif. Ruang gerak yang lebih luas membuat manajemen peternakan harus mampu memastikan ayam tetap sehat sekaligus dapat mengekspresikan perilaku alaminya.
Guru Besar FKH UGM, Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, menekankan pentingnya penguatan manajemen kesehatan dalam penerapan sistem tersebut.

“Penerapan sistem tersebut perlu didukung dengan biosekuriti yang lebih kuat, pengelolaan litter dan kotoran yang efektif, ventilasi yang baik, pengelolaan kualitas air, serta pemantauan kesehatan flok secara berkala,” katanya.
Menurut Michael, kebebasan bergerak yang menjadi karakteristik cage-free harus diimbangi dengan manajemen pemeliharaan yang baik. Dengan begitu, aspek kesejahteraan ayam dapat berjalan seiring dengan produktivitas dan kesehatan flok.
Pembahasan cage-free dalam forum tersebut juga mendapat perhatian dari PINSAR Indonesia. Ketua Bidang Promosi, Pameran, dan Kampanye Gizi PINSAR Indonesia, Ricky Bangsaratoe, menilai tema Protein Up sangat relevan dengan dinamika industri perunggasan saat ini.
“Bagi peternak di Indonesia, tema Protein Up: Exploring New Opportunities in the Poultry Industry sangat relevan karena industri terus berkembang dan harus merespons perubahan kebutuhan konsumen serta dinamika pasar,” ujar Ricky.
Ia mengatakan peluang pengembangan industri tidak hanya berkaitan dengan cage-free. Forum tersebut juga membahas pencegahan penyakit, manajemen pakan, efisiensi nutrisi, serta perkembangan teknologi perkandangan.
“Berbagai topik yang dibahas dalam kegiatan ini merupakan elemen penting dalam membangun industri perunggasan Indonesia yang semakin maju, sehat, efisien, berkelanjutan, dan kompetitif,” tambahnya.
Di sisi pasar, permintaan terhadap telur cage-free juga mulai mendapatkan dorongan dari sektor hotel, restoran, dan katering (HORECA).
Lead of Supply Chain Engagement Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, mengatakan sejumlah perusahaan telah memasukkan telur cage-free dalam kebijakan pengadaan mereka.
“Permintaan terhadap telur cage-free terus meningkat, salah satunya didorong oleh kebijakan pengadaan dari perusahaan-perusahaan di sektor HORECA, seperti Swiss-Belhotel International, SuperIndo, Marriott, Hilton, Sodexo, Burger King, dan Circle K,” jelas Sandi.
Menurutnya, perusahaan-perusahaan tersebut menjadi bagian dari lebih dari 3.000 perusahaan secara global yang telah menyatakan komitmen menggunakan 100% telur cage-free.
Perubahan juga terlihat dari sisi konsumen. Berdasarkan survei GMO Research pada 2025, sebanyak 81% konsumen Indonesia yang disurvei menilai ayam petelur seharusnya dipelihara dalam sistem cage-free. Bahkan, 55% responden menyatakan lebih tertarik berbelanja di jaringan restoran dan supermarket yang hanya menggunakan telur cage-free.
Rangkaian perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa cage-free mulai memasuki fase baru dalam industri telur nasional. Perubahan tidak lagi berhenti pada model perkandangan, tetapi merambah ke strategi bisnis, teknologi, kesehatan ayam, formulasi nutrisi, hingga kebijakan pengadaan perusahaan.
Bagi pelaku usaha, perubahan tersebut sekaligus menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Ketika permintaan pasar terus berkembang, kemampuan peternak dan perusahaan untuk menjaga produktivitas, kualitas telur, kesehatan ayam, efisiensi produksi, serta memenuhi standar yang dibutuhkan pasar akan menjadi bagian penting dalam menentukan keberlanjutan bisnis telur cage-free.