Kamis, 21 Maret 2019


Inilah Tujuh Solusi Pemerintah untuk Stabilkan Harga Ayam

05 Mar 2019, 17:28 WIBEditor : Yulianto

Harga ayam mengalami penurunan. Pemerintah telah menyiapkan strategi agar harga ayam stabilternakan ayam | Sumber Foto:Humas Kementan

Mulai 1 Maret 2019 Ditjen PKH juga mewajibkan integrator menyampaikan produksi DOC (Day Old Chicken) setiap bulan melalui pelaporan online, termasuk dengan tujuan pendistribusiannya

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta—Harga daging ayam di pasar tradisional sejumlah daerah saat ini sedang mengalami penurunan. Guna menyelamatkan peternak dari kerugian yang semakin besar, menyusul turunnya harga ayam hidup (live bird), ini solusi Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) menjaga stabilitas harga ayam.

Pertamamulai 1 Maret 2019 Ditjen PKH juga mewajibkan integrator menyampaikan produksi DOC (Day Old Chicken) setiap bulan melalui pelaporan online, termasuk dengan tujuan pendistribusiannya. 

“Melalui upaya ini nantinya kita akan mengetahui produksi DOC untuk budidaya internal integrator (on farm dan integrasi/plasma) dan yang didistribusikan ke peternak mandiri. Untuk itu kami berharap agar para asosiasi peternak unggas untuk segera menyampaikan data peternak mandiri,” kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita.

Kedua, meminta pelaku usaha integrator meningkatkan serapan karkas di Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) untuk ditampung dalam cold storage sebagai cadangan.

Ketiga, karena pasar untuk komoditas unggas di Indonesia saat ini didominasi fresh commodity, sehingga produk mudah rusak, pemerintah berharap hasil usaha peternak agar tidak lagi dijual sebagai ayam segar melainkan ayam beku, ayam olahan, ataupun inovasi produk lainnya. “Jika hal ini dilaksanakan dengan baik, maka harga di peternak (farm gate) dapat segera kembali normal,” ujar Diarmita.

Keempat, untuk menstabilkan harga ayam broiler di tingkat peternak, pemerintah telah mengatur kebijakan dari aspek hulu yaitu dengan pengaturan bibit ayam, pengaturan mutu benih bibit yang bersertifikat, menyeimbangkan supply – demand dalam hal pengaturan impor Grand Parent Stock.

Kelima, pemerintah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Permentan No. 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras. Untuk meningkatkan pengawasan, kata Diarmita, pemerintah meminta peran Dinas Provinsi dan Kabupaten/Kota dan seluruh Pejabat Fungsional Pengawas Bibit ternak yang tersebar di seluruh provinsi maupun kabupaten/kota untuk melakukan pengawasan. "Jika perlu kita bekali dengan tambahan ilmu sebagai PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil)," ujarnya.

Keenam, ungkap Diarmita, pemerintah membentuk tim analisa dan tim asistensi serta tim pengawasan dalam mendukung pelaksanaan Permentan 32 Tahun 2017. Ditjen PKH juga menganalisis supply-demand ayam ras dan secara rutin, menyelenggarakan pertemuan antara peternak dengan pemerintah dan juga dengan para stakeholders ayam ras terkait.

Ketujuh, pemerintah juga meminta dibagian hilir, yakni pedagang (bakul) untuk ikut menjaga kestabilan harga. "Saya juga meminta kepada Satgas Pangan untuk mengawasi perilaku para broker dan bakul agar harga secepatnya stabil, saya berharap mulai Senin tidak ada lagi harga di bawah Rp 14.500,” tegasnya.

Baca juga:

Meskipun Harga Turun, Kebutuhan Jagung Pakan Bakal Aman Terpenuhi

Impor Gandum Hanya untuk Komponen Pakan, Bukan Pengganti

Diarmita mengatakan, kondisi daging ayam nasional saat ini memang mengalami surplus, bahkan Indonesia sudah ekspor ke beberapa negara.  "Ini kan sebenarnya positif, produksi kita berlebih dari pada produksi kita kurang. Kelebihan produksi ini harus diikuti dengan meningkatnya ekspor unggas dan produk unggas ke berbagai negara. Untuk itu pemerintah menghimbau agar para perusahaan integrator untuk terus meningkatkan ekspornya,” paparnya. 

Kata anggota dewan

Turunnya harga ayam di sejumlah pasar tradisional membuat peternak ayam di tanah air resah. Meski naik turunnya harga ayam sudah menjadi hukum dagang, Anggota Komisi IV DPR RI, Andi Akmal Pasluddin mensinyalir ada andil ulah perusahaan besar yang mengendalikan harga.

"Ini ada yang nakal di tingkat tata niaganya. Ada mafia. Sekarang kan peternakan ayam kasian karena dikuasai oleh koorporasi dari hulu ke hilirnya. Dia bermain mulai dari pakan hingga yang lain-lain," papar  Andi.

Menurut Andi, selama ini koorporasi besar nyaris menentukan naik turunnya harga dari hulu ke hilir. Mereka juga dituding sebagai biang kerok bangkrutnya usaha ternak kecil karena dibuat bergantung.Kalau untuk peternak yang saya dapatkan di lapangan keluhannya rata-rata permainan koorporasi besar. Mereka bahkan sampai mampu menentukan harga. Nah, pada saat mereka menentukan harga turun pasti bangkrut lah ini peternak kecil," katanya.

Andi mengapresiasi langkah Kementan yang terus berusaha memberangus perusahaan nakal di seluruh Indonesia. Bahkan, beberapa diantaranya ada yang masuk proses blacklist.Harus tegas dong melindungi peternak kecil. Apakah caranya dengan menekan harga supaya tidak dipermainkan atau cara-cara lain dengan mekanisme lain. Kalau perlu suatu saat menetapkan ada seperti HPP-nya," kata Andi.

 

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018