Senin, 22 Juli 2019


Agar Harga Ayam Stabil, Peternak Minta Perketat Impor GPS

04 Apr 2019, 12:09 WIBEditor : Gesha

Jika dilihat runutan, importasi GPS yang kelewat batas menjadi penyebab DOC yang membludak | Sumber Foto:INDARTO

Supply DOC nya sebanyak 70 juta ekor per minggu. Sedangkan permintaan di dalam negeri hanya sebanyak 50 juta ekor per minggu.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Dua minggu terakhir, harga ayam hidup (livebird) di tingkat peternak tengah anjlok. Banyak faktor penyebabnya, peternak sempat menuding adanya importasi grand parent stock (GPS) yang kelewat batas.

"Stok Day Old Chicken (DOC)  berlebih itu salah satu dikarenakan adanya pemasukan GPS dan parents stock (PS) yang berlebih. Sehingga untuk mengontrolnya harus ada pengetatan, " papar salah satu peternak ayam Kecamatan Walantaka, Kab. Banten, Andry Sucipto, di Jakarta, Kamis (4/4).

Andry juga memaparkan kondisi harga livebird di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabotabek) kurun dua minggu terakhir anjlok hingga Rp 11 ribu/kg. Bahkan, di sejumlah daerah di Jawa Tengah (Jateng) sempat turun drastis sebesar Rp 9 ribu/kg, dari harga sebelumnya Rp 15 ribu-Rp 16 ribu/kg.

Turunnya harga ayam (potong) dikarenakan oversupply, atau stok DOC dan live birds berlebih. "Supply DOC nya sebanyak 70 juta ekor per minggu. Sedangkan permintaan di dalam negeri hanya sebanyak 50 juta ekor per minggu. Sesuai hukum pasar, karena stoknya berlebih, harganya jatuh," katanya.

Karena stok DOC-nya  berlebih, pemerintah sebenarnya bisa memfasilitasi peternak untuk ekspor live birds. " Kalau kebutuhan di dalam  negeri hanya 50 juta ekor  per minggu, sedangkan stoknya 70 ekor  juta per minggu, sisanya yang 20 juta ekor per minggu bisa di ekspor," ujarnya.

Bagi peternak ayam tak ada masalah dengan produksi. Peternak saat ini beli DOC Rp 6.000 per ekor. " Karena kualitas DOC bagus, ayam yang kami pelihara secara rutin bisa dipanen pada usia 25 hari. Nah , yang jadi masalah saat ini adalah supply DOC dan live  birds terlalu banyak. Sehingga perlu dukungan pemerintah untuk melakukan penataan," papar Andry.

Andry mengakui, selama setahun bisa produksi ayam potong sebanyak enam kali. Sekali panen rata-rata sebanyak 2.000 ekor. " Karena kami ini masuk peternak kecil dengan populasi 40 ribu ekor per tahun," ujarnya.

Agar produksi ayam yang dipelihara sehat dan bagus, Andry setuju apabila sejumlah perusahaan atau produsen DOC meningkatkan kualitas produksinya (DOC-nya). Artinya, hanya DOC yang  berkualitas saja yang dijual ke peternak. Sedangkan yang tak bagus bisa dimusnahkan.

Tak Jual Ayam Hidup

Guna menstabilkan harga ayam potong, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui  Ditjen PKH sudah mengeluarkan 10 langkah terobosan. Diantaranya, penyediaan cold storage dan bagi pelaku usaha agar tak menjual ayam hidup.

Langkah yang dilakukan Kementan tersebut diapresiasi Andry Sucipto. "Kalau bagi kami peternak kecil setuju  saja dengan langkah yang akan dilakukan pemerintah. Kami  bersama peternak lainnya bisa saja bergabung untuk membangun cold storage. Tentu saja, pemerintah harus melakukan penjaminan harga kalau kami diharusnya tak menjual ayam hidup," papar Andry.

Bahkan, Andry sangat mendukung langkah Kementan untuk melakukan setting telur ayam teta 1-2 minggu di perusahaan parents stock  (PS).  Diharapkan dengan  cara ini secara masif bisa mengurangi  beredarnya DOC di pasaran.

"Kami juga sangat mendukung upaya Kementan dalam melakukan pengawasan atau pengaturan budidaya ayam ras. Sebab, kalau usaha ternaknya bisa berkelanjutan perlu ada regulasi dan pengawasan khususnya bagi importir GPS," pungkas Andry. 

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018