Senin, 18 Februari 2019


Tortilla Jagung, Bisnis Keroyokan Wanita NTB

19 Okt 2018, 19:00 WIBEditor : Gesha

Tortilla Jagung Putri Rinjani jadi bisnis keroyokan wanita NTB | Sumber Foto:IYE!

TABLOIDSINARTANI.COM, Lombok Tengah --- Jagung memang sudah lama menjadi makanan pokok warga Nusa Tenggara Barat. Namun kini, jagung diolah keroyokan menjadi keripik jagung yang dikenal dengan nama tortilla dan mampu menghidupi masyarakat dusun Tapon Timur, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Pelopor usaha kreatif tersebut adalah Hajjah Zaenab, pimpinan Ketua Pusat Pelatihan Mandiri Perikanan dan Kelautan (P2MPK) Putri Rinjani. Ditangannya, istri-istri yang sebagian besar ditinggal suaminya menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) bisa berdaya mandiri. Zaenab harus telaten mendidik dan melatih ibu-ibu. Saat bersamaan, ia pontang-panting memburu pasar keripik tortilla dengan berkeliling kampung menumpang sepeda motor.

Zaenab bercerita memulai usaha pembuatan tortilla jagung pada tahun 2013. Itupun dilakukannya setelah merintis usaha makanan basah dan kue kering. “Saat itu keripik yang sudah ada paling hanya singkong saja. Sedangkan disini banyak jagung dan pastinya bisa diolah juga menjadi keripik,” tuturnya.

Produk keripiknya ia titipkan ke jaringan toko oleh-oleh dan ternyata produknya disukai konsumen sehingga permintaan keripik tortilla terus meningkat. Belakangan, ia dibantu GIZ (Deutsche Gesellschaft Fur Internationale Zusammenarbeit) di Mataram yang memberikan pendampingan manajemen dan pemasaran. Dari situ, usaha keripiknya semakin berkembang.

Tak ingin sukses sendirian, dirinya pun merangkul ibu-ibu di sekitarnya untuk turut membantu membuat tortilla jagung. Namun di sela-sela pembuatan, dirinya juga menyempatkan diri untuk melatih dan menularkan ilmu meracik keripik tortilla kepada banyak ibu yang tergabung dalam sejumlah kelompok usaha produktif.

Kini sudah ada sekitar 38 kelompok usaha produktif yang dibentuk dari tangan dinginnya. Setiap kelompok tersebut terdiri dari 10 orang ibu-ibu, otomatis sudah ada sekitar 380 orang ibu-ibu yang terlibat menjadi mitra bisnis tortillanya. Untuk mitra produksi, Zaenab menyediakan bahan baku. Ia akan membeli produksi keripik mentah yang mereka hasilkan dengan harga Rp 25.000 per kilogram. 

Hasil Menggiurkan

Untuk menjaga kualitas, Zaenab melakukan pengawasan langsung saat pemilihan bahan baku hingga proses produksi Jagung yang dipilih, misalnya, harus benar-benar matang di pohon agar warna kuning butiran jagung nyaris tidak berubah setelah diolah. 

Membuat produk tortilla dari bahan jagung sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Bahan utama yang digunakan adalah biji jagung giling yang telah mengalami proses pengeringan atau penjemuran kurang lebih selama 2-3 hari. Biji jagung tersebut kemudian diayak hingga terpisah dari benda pengganggu dan dicuci sampai bersih. 

Tahap berikutnya adalah penggilingan. Jagung yang telah digiling selanjutnya direndam selama satu hari satu malam agar membuatnya semakin lunak dan lembut sehingga akan mudah dibuat menjadi adonan. 

Tahap selanjutnya adalah pengukusan. Setelah dikukus, jagung digiling kembali sambil ditambahkan dengan tepung terigu dan juga garam serta bumbu. Saat pencampuran tersebut, jagung digiling berkali-kali sampai mengahasilkan adonan lembaran setebal satu millimeter.

Setelah itu, oven (panggang) selama 5 menit untuk menghasilkan tortilla renyah. Sebelum dikemas, tortilla digoreng pada minyak mendidih selama 40-60 detik, kemudian tiriskan dan tambahkan bumbu. 

Bisnis keroyokan ini bisa menghasilkan 500 kilogram keripik tortilla per minggu. Sebanyak 25 kilogram keripik tortilla mentah ia kirim ke pelanggannya di Jakarta dan Banyuwangi (Jawa Timur) per minggu dengan harga Rp 35 ribu per kilogram.

Sisanya digoreng, dikemas, dan dititipkan ke toko penjual oleh-oleh dan tiga hotel di Mataram. Untuk tiap kemasan 125 gram tortilla bermerek dagang TaponA dijual Rp 15 ribu dan kemasan 65 gram Rp 6 ribu.

Zaenab mengaku, pemasaran tortilla jagungnya hanya dilakukan dari mulut ke mulut dan menitipkannya ke toko oleh-oleh. Sebagian besar orang yang sudah mencicipi tortilla jagung dari P2MPK Putri Rinjani, membuat testimoni di media sosial/online.

“Banyak yang ingin pesan online juga. Bahkan beberapa waktu lalu ada buyer dari Afrika Selatan ingin kami memasok sebanyak 10 ton per bulannya. Tapi kami tolak karena kita belum sanggup untuk pasok rutin segitu karena kita mesti merangkul lagi sejumlah dusun untuk bisa berproduksi sampai ton,” jelasnya.

 

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018