
Petugas Karantina memeriksa Mutu pertanian
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Dengan terbentuknya Barantin dan pandangan dari pakar FAO, harapan akan kebijakan karantina yang semakin tajam dan efektif kini tampak semakin menguat.
Presiden Joko Widodo mempersatukan badan karantina dari berbagai kementerian menjadi Badan Karantina Indonesia (Barantin).
Keputusan ini meraih pujian luas, termasuk dari Guru Besar Entomologi Fakultas Pertanian UGM, Prof. Ir. Y. Andi Trisyono, M.Sc., Ph.D., yang melihatnya sebagai peluang bagi rekan-rekan di Barantin untuk tumbuh dan berkembang dalam melindungi negeri.

Andi, yang saat ini juga merupakan anggota Food and Agriculture Organization (FAO) Expert Panel on Pesticide Management, menyatakan lembaga baru ini membuka peluang bagi karantina untuk tumbuh menjadi entitas yang lebih besar dan lebih unggul.
Andi menyatakan bahwa jika dikelola dengan baik sesuai mandatnya, lembaga baru ini berpotensi menjadi setara dengan lembaga perkarantinaan di Australia atau Amerika Serikat.
Hal ini disebabkan oleh cakupan tugas yang luas dan tanggung jawab langsung kepada Presiden. Menurut Andi, peran karantina memiliki dampak besar dalam melindungi negara, terutama dari ancaman penyakit hewan, hama penyakit tumbuhan (Organisme Pengganggu Tumbuhan), dan hama penyakit ikan.
Kapabilitas SDM
Andi menjelaskan contoh sederhana dalam memperkuat karantina di masa mendatang, yakni dengan meningkatkan kapabilitas pejabat fungsional karantina dalam memahami secara mendalam satu spesies Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) yang telah masuk dalam daftar. Tidak hanya berhenti pada pencatatan, namun juga mengikuti perkembangan OPTK tersebut di negara lain dan menilai risikonya terhadap Indonesia.
"Dengan pendekatan ini, banyak ahli akan memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk mengantisipasi serta mencegah masuknya OPTK ke wilayah NKRI. Hal yang sama berlaku untuk hewan dan ikan. Persiapan semacam ini perlu dilakukan sejak sekarang dan terus ditingkatkan," ungkap Andi.
Selanjutnya, Andi menekankan bahwa organisasi global seperti FAO juga membutuhkan individu dengan kompetensi khusus, seperti ahli dalam bidang hama penyakit tumbuhan, hewan, dan ikan. Ia berharap suatu hari nanti posisi-posisi tersebut dapat diisi oleh para profesional dari lingkungan karantina.
Selain itu, peluang juga terbuka untuk mengembangkan dan mengusulkan Standar Internasional untuk Tindakan Perlindungan Fitosanitasi (ISPM) yang sesuai dengan situasi di Indonesia, serta terkait dengan aspek keamanan pangan, kesehatan, dan perdagangan global.
Dalam konteks ini, peran strategis Barantin di masa depan harus diperkuat sebagai negara berdaulat dalam pelaksanaan peraturan SPS-WTO untuk melindungi kesehatan manusia, hewan, ikan, dan tumbuhan, serta sebagai alat ekonomi penting dalam perdagangan dunia.
Andi menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara impor dan ekspor produk pertanian, sehingga Indonesia tidak hanya mengandalkan produk impor. Tujuannya adalah untuk menjadi negara yang juga dapat mengekspor berbagai produk pertanian dan turunannya ke berbagai negara.
Pandangannya menggarisbawahi bahwa dengan melihat cakupan dan peran perkarantinaan baik di tingkat nasional maupun internasional, perannya semakin meningkat.
Dinamika Karantina
Selanjutnya, Andi menekankan, peran Barantin semakin penting, terutama mengingat perubahan iklim dan pemanasan global yang akan mempengaruhi dinamika dan adaptasi hama penyakit tumbuhan (OPT dan OPTK), serta hama dan penyakit pada hewan dan ikan di seluruh dunia.
Andi memberikan contoh kasus beberapa tahun yang lalu di mana penyebaran hama ulat Spodoptera frugiperda (Fall Armyworm/FAW) pada pertanaman jagung di berbagai negara menimbulkan keprihatinan global. Dalam situasi ini, FAO turun tangan untuk bekerja sama dengan seluruh negara dalam penanganan masalah tersebut.
"Peran aktif Karantina dalam pencegahan dan eradikasi wabah OPTK di kawasan karantina diharapkan menjadi fokus ke depan," tegas Andi.
Andi menjelaskan bahwa situasi ini semakin menuntut tingkat profesionalisme dan kompetensi yang semakin tinggi. Kepakaran dan kemampuan dalam bidang teknis akan menjadi dasar yang kuat untuk mengembangkan Barantin ke depan.
Ketika datang pada kebijakan dan pengambilan keputusan perkarantinaan, Andi menegaskan bahwa itu harus didasarkan pada dasar ilmiah.
Ini mengharuskan semua yang terlibat dalam bidang perkarantinaan untuk selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan dalam teknologi, pengetahuan, dan ilmu pengetahuan untuk tetap berada dalam tren terbaru.
Tantangan ini menekankan perlunya manajemen internal yang mampu melahirkan ahli-ahli berkualitas yang berasal dari internal Barantin."Menurut saya, ini sangat penting," ujar Andi.
Dengan tantangan berat yang dihadapi di masa depan, Andi berharap agar Barantin dipimpin oleh individu yang profesional, yang memiliki pemahaman teknis yang mendalam tentang karantina dan terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang selalu berkembang. Menurutnya, dunia terus berubah, dan pengetahuan terus berkembang.
"Kita tidak ingin karantina hanya mengikuti tren, tetapi kita berharap karantina Indonesia menjadi pemain yang diakui dan bahkan menjadi pengatur tren di panggung dunia," ungkap Andi dengan semangat.