Thursday, 29 October 2026


Go Ekspor BARANTIN Bongkar Potensi Tanaman Hias Jawa Barat, Sudah Tembus 40 Negara!

28 Oct 2026, 14:00 WIBEditor : Gesha

Tanaman hias Jawa Barat ternyata sudah menembus lebih dari 40 negara! Go Ekspor BARANTIN membongkar potensi pasar dunia dan tantangan yang harus dihadapi eksportir.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung – Tanaman hias Jawa Barat ternyata sudah menembus lebih dari 40 negara! Go Ekspor BARANTIN membongkar potensi pasar dunia dan tantangan yang harus dihadapi eksportir.

Tanaman hias asal Jawa Barat punya peluang besar untuk merambah pasar dunia. Buktinya, komoditas ini sudah menembus lebih dari 40 negara. 

Namun, agar ekspor terus meningkat, pelaku usaha tidak cukup hanya menghasilkan tanaman yang menarik.

Kualitas harus terjaga, pasokan tersedia secara rutin, dan persyaratan negara tujuan juga wajib dipenuhi.

Karena itu, Badan Karantina Indonesia (Barantin) mendorong pelaku usaha tanaman hias untuk memperkuat kesiapan ekspor sejak awal.

Pendampingan ini penting agar produk yang dikirim tidak ditolak karena masalah kesehatan tanaman maupun dokumen yang belum sesuai.

Kepala Pusat Pengembangan SDM Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Badan Karantina Indonesia, Wasis Wisnu Saputra, mengatakan bahwa peran karantina bukan sekadar memeriksa komoditas di pintu keluar dan masuk wilayah Indonesia. 

Karantina juga membantu pelaku usaha, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga eksportir, agar produknya memenuhi persyaratan negara tujuan.

Menurut Wasis, salah satu masalah yang masih dihadapi dalam ekspor tanaman hias adalah temuan organisme pengganggu, seperti moluska dan serangga.

Jika ditemukan organisme yang tidak diperbolehkan, kiriman tanaman berisiko mendapat teguran atau penolakan dari negara pengimpor.

Untuk mencegah masalah tersebut, Barantin menyediakan layanan klinik ekspor di balai karantina yang tersebar di berbagai provinsi.

Melalui layanan ini, pelaku usaha bisa berkonsultasi mengenai persyaratan ekspor, pemeriksaan karantina, dan dokumen yang harus disiapkan.

Wasis mengimbau petani dan eksportir memanfaatkan layanan tersebut sebelum mengirim produk.

Dengan memahami aturan sejak awal, pelaku usaha bisa mengurangi risiko kerugian akibat kiriman yang tidak memenuhi ketentuan.

Pentingnya pendampingan ini sejalan dengan peluang besar tanaman hias Jawa Barat.

Potensi dan tantangan pengembangan komoditas tersebut dibahas dalam web series Go Ekspor BARANTIN edisi ke-14 bertema Kupas Tuntas: Tanaman Hias Jawa Barat Tembus Pasar Dunia. 

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Barat, Rabu (28/10/2026), itu disiarkan melalui kanal YouTube.

Kepala BKHIT Jawa Barat, drh. Cahyono, menjelaskan bahwa wilayahnya memiliki kondisi alam yang mendukung budidaya berbagai jenis tanaman hias. Kawasan dataran tinggi, iklim yang sesuai, dan pengalaman petani menjadi modal untuk mengembangkan komoditas ini.

“Sentra sertifikasi ekspor tanaman hias di Jawa Barat antara lain berada di Bogor, Cimahi, Kuningan, Bandung Barat, dan Sukabumi. Di wilayah-wilayah tersebut, kegiatan produksi dan ekspor didukung pembinaan dari jajaran karantina,” sebutnya.

Untuk diketahui, tanaman hias asal Jawa Barat telah dipasarkan ke berbagai negara. Beberapa tujuan utamanya adalah Thailand, Tiongkok, dan Singapura di Asia, Amerika Serikat di kawasan Amerika, serta Belanda di Eropa.

Meski pasarnya sudah luas, jumlah tanaman yang disertifikasi untuk ekspor justru menurun pada 2026.

Cahyono menyebut jumlahnya mencapai 277.000 batang sepanjang 2025. Sementara itu, hingga September 2026, jumlah yang tercatat baru sekitar 53.000 batang.

Kondisi pasar global yang sedang menantang menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Karena itu, menurut Cahyono, pelaku usaha perlu mencari pembeli baru dan memperkenalkan tanaman khas Indonesia yang memiliki keunikan tersendiri.

Selain permintaan pasar, ada tiga persoalan yang perlu dibenahi. Pertama, tanaman harus memenuhi standar kesehatan yang ditetapkan negara tujuan.

Kedua, petani dan UMKM perlu menjaga ketersediaan produk agar bisa memenuhi pesanan secara rutin. Ketiga, biaya pengiriman perlu ditekan agar harga jual tetap bersaing.

“Masalah pengiriman juga tidak bisa dianggap sepele. Tanaman hias membutuhkan penanganan yang baik agar tidak rusak selama perjalanan. Sementara itu, penerbangan langsung dari Indonesia menuju sejumlah negara tujuan masih terbatas. Kondisi ini membuat Thailand memiliki keunggulan karena pilihan rute penerbangannya lebih banyak,” jelasnya.

Cahyono juga mengingatkan bahwa setiap negara memiliki aturan karantina yang berbeda.

Ada negara yang menetapkan persyaratan khusus terkait organisme pengganggu tumbuhan, bagian tanaman yang boleh dikirim, hingga dokumen tambahan. Karena itu, petani dan eksportir perlu memeriksa persyaratan tersebut sebelum menerima pesanan dari luar negeri.

Meski telah memiliki pasar tersendiri, eksportir tanaman hias Jawa Barat memiliki peluang menjangkau pasar Eropa melalui Belanda. 

Atase Perdagangan KBRI Den Haag, Anisa Hapsari, menjelaskan bahwa Belanda bukan hanya pembeli tanaman hias, tetapi juga pusat perdagangan dan distribusi bunga serta tanaman di dunia.

Di tahun 2025, nilai ekspor bunga dan tanaman Belanda mencapai sekitar 7,2 miliar euro. Besarnya perdagangan tersebut membuka peluang bagi eksportir Indonesia untuk menjangkau pembeli yang lebih luas melalui jaringan distribusi Belanda.

“Namun, untuk masuk ke pasar ini, pelaku usaha harus menawarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pembeli. Anisa menyarankan agar Indonesia mengutamakan tanaman tropis yang memiliki bentuk, warna, atau karakter daun yang khas,” sebut Anisa.

Dirinya menyebutkan, tanaman hias seperti Anthurium, phalaenopsis, dan monstera sudah dikenal di pasar Eropa.

Sementara itu, philodendron, alocasia, dan aglaonema berpeluang dikembangkan untuk pasar khusus karena bentuk dan warna daunnya menarik.

Meski peluangnya terbuka, pembeli Belanda memiliki sejumlah pertimbangan sebelum membeli. Mereka memperhatikan kesehatan tanaman, keseragaman ukuran, ketersediaan pasokan, kepatuhan terhadap aturan impor, dan harga setelah ditambah biaya pengiriman.

“Artinya, petani tidak cukup hanya menghasilkan tanaman yang bagus. Ukuran dan kualitas tanaman juga perlu seragam, sedangkan jumlah produksi harus disesuaikan dengan kemampuan memenuhi pesanan,” pesan Anisa.

Di sisi lain, media tanam pun perlu diperhatikan. Sebagian pembeli, misalnya, lebih menyukai cocopeat daripada tanah. Karena itu, kebutuhan pembeli sebaiknya dikomunikasikan sejak awal agar produk yang dikirim sesuai dengan permintaan.

Pelaku usaha juga perlu mengikuti aturan kemasan yang berlaku di pasar tujuan.

Salah satunya adalah peraturan Kemasan dan Limbah Kemasan Uni Eropa atau Packaging and Packaging Waste Regulation mulai berlaku pada 12 Agustus 2026, ketentuan ini perlu diperhatikan saat menyiapkan kemasan untuk pengiriman ke Eropa.

Agar lebih siap, Anisa menyarankan eksportir memilih dua hingga tiga jenis tanaman yang paling siap dijual.

Setelah itu, mereka perlu memeriksa persyaratan impor, membuat katalog berbahasa Inggris yang mencantumkan nama ilmiah dan harga, serta mencari importir yang sesuai.

Bagi pemula, pesanan percobaan atau trial order bisa menjadi langkah awal sebelum menjalin kontrak jangka panjang.

Pelaku usaha juga dapat mencari calon pembeli melalui pameran internasional, termasuk Royal FloraHolland Trade Fair di Belanda yang dijadwalkan berlangsung pada 3–5 November 2026.

Belajar dari Eksportir Kaktus

Peluang pasar internasional sudah dirasakan Aldi Ridwan, pemilik CV Istana Bunga Kaktus di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Perusahaannya membudidayakan kaktus dan sukulen di lahan sekitar 2.500 meter persegi.

Usaha tersebut didukung empat greenhouse untuk pembibitan, satu packing house atau tempat penyiapan dan pengemasan produk, serta kerja sama dengan 14 mitra tani.

Setelah lebih dari 10 tahun menjalankan ekspor, produknya telah menjangkau lebih dari 10 negara di Asia, Eropa, dan Amerika.

Lima pasar terbesarnya pada 2026 adalah Thailand, Rusia, Amerika Serikat, Filipina, dan Polandia.

Pengalaman Aldi menunjukkan bahwa menembus pasar ekspor membutuhkan proses. Sebelum mengirim tanaman ke Belanda, ia lebih dulu mengirim sekitar 100–200 tanaman ke Thailand sebanyak empat kali dalam setahun untuk menguji kualitas produk.

Setelah melalui tahapan tersebut, pengiriman ke Belanda dilakukan dua kali setahun dengan jumlah minimal 10.000 tanaman setiap pengiriman.

Aldi berharap pasar ekspornya terus berkembang. Ia menargetkan penambahan pengiriman dari Jawa Barat sebanyak 10.000 tanaman lagi pada bulan berikutnya.

Menurut Aldi, petani dan eksportir perlu memahami jenis tanaman yang diminati pembeli.

Kebutuhan pengecer, pedagang grosir, dan kolektor bisa berbeda sehingga produk yang ditawarkan harus disesuaikan dengan target pasar.

Selain menjaga kualitas, kelengkapan dokumen juga menentukan kelancaran ekspor. Dokumen yang diperlukan antara lain sertifikat fitosanitari, invoice atau faktur, packing list atau daftar barang, sertifikat asal jika dipersyaratkan, serta dokumen CITES untuk tanaman yang termasuk dalam ketentuan perdagangan internasional spesies yang dilindungi.

Aldi juga melihat peluang pada tanaman hibrida asli Indonesia, termasuk sansevieria dan Hoya, yang memiliki karakter unik dan diminati pasar tertentu. Peluang tersebut bisa dimanfaatkan petani selama produk yang ditawarkan sesuai dengan permintaan dan mampu dipasok secara berkelanjutan.

Diikuti Kualitas dan Ketertelusuran

Dari sisi produksi, Jawa Barat memiliki modal yang kuat. Ketua Tim Tanaman Buah dan Hias dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat, Astutiningsih, menyampaikan bahwa provinsi ini menempati posisi pertama nasional untuk 10 dari 20 jenis tanaman hias yang tercatat dalam statistik Badan Pusat Statistik (BPS).

Pada 2025, produksi krisan Jawa Barat mencapai sekitar 201 juta tangkai atau 42,5 persen dari produksi nasional. Produksi anggrek pot tercatat sekitar 1,5 juta pot, sedangkan mawar menyumbang 21,5 persen dari produksi nasional.

Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi tanaman hias Jawa Barat. Namun, peningkatan produksi perlu diikuti perbaikan kualitas dan pencatatan agar komoditas yang dihasilkan semakin siap memasuki pasar ekspor.

“Salah satu tantangannya adalah ketergantungan pada benih anggrek impor dari Taiwan. Selain itu, masih banyak jenis tanaman hias yang belum tercatat dalam statistik sehingga gambaran potensi produksi belum sepenuhnya lengkap,” jelasnya.

Untuk memperkuat sektor ini, pemerintah daerah mendorong registrasi kebun dan penerapan Good Agricultural Practices (GAP), yaitu praktik budidaya pertanian yang baik.

“Melalui registrasi kebun, asal tanaman dapat diketahui dengan lebih jelas. Sementara itu, penerapan GAP membantu petani memperbaiki proses budidaya agar mutu produk lebih terjaga. Kedua hal tersebut penting untuk membangun kepercayaan pembeli dan memenuhi persyaratan pasar tertentu,” bebernya.

Sejumlah negara, seperti Tiongkok, Jepang, dan Taiwan, menerapkan ketentuan tertentu terkait proses produksi dan asal tanaman. Karena itu, pencatatan kegiatan budidaya sejak di kebun dapat membantu petani mempersiapkan produk untuk pasar yang lebih luas.

Pada akhirnya, peluang ekspor tanaman hias Jawa Barat tidak hanya bergantung pada banyaknya produksi.

Petani juga perlu menghasilkan tanaman yang sehat, menjaga keseragaman mutu, memahami kebutuhan pembeli, dan memastikan persyaratan ekspor terpenuhi.

Dukungan karantina, pemerintah daerah, penyuluh, petani, eksportir, dan akademisi diperlukan agar proses tersebut berjalan beriringan. 

Dengan kerja sama yang kuat, tanaman hias Jawa Barat diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan pasar di lebih dari 40 negara, tetapi juga membuka peluang baru yang memberikan nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018