Kamis, 15 November 2018


Penguatan Ekonomi Pertanian Di Entikong Makin Difokuskan

06 Nov 2018, 13:53 WIBEditor : Gesha

Rombongan Bappenas dan Barantan juga lakukan kunjungan ke Wilker Karantina Pertanian di Aruk, Kalimantan Barat

Wujudkan Kesejahteraan bagi masyarakat perbatasan

TABLOIDSINARTANI.COM, Entikong --- Kawasan perbatasan negara menjadi sangat strategis untuk dijaga. Tentu penjagaan tak cukup dengan tugu perbatasan dan slogan belaka, melainkan bentuk penguatan ekonomi berbasis pertanian.

"Kesejahteraan harus dihadirkan di semua kawasan, tak terkecuali di tengah masyarakat perbatasan," tegas Sekretaris Badan Karantina Pertanian (Barantan), drh. Sujarwanto, saat melakukan kunjungan kerja di ke wilayah perbatasan ujung barat NKRI, Entikong.

Bersama Direktur Pangan dan Pertanian Badan Perencanaan Nasional, Anang Noegroho blusukan ke wilayah kerja Aruk untuk merumuskan terobosan kebijakan guna mendorong pembangunan diwilayah perbatasan Entikong.

"Sejalan dengan kebijakan Presiden, membangun dari wilayah pinggiran termasuk perbatasan antar negara, kita ingin mengidentifikasi permasalahan dan rumusan kebijakan untuk solusi dan optimalisasi pemanfaatan pembangunan fasiltas PLBN, khususnya yang berada di Kalimantan Barat," kata Sujarwanto.

Sementara itu, Anang Noegroho menyatakan bahwa Bappenas melihat masing-masing daerah perbatasan tidak bakal persis sama dalam melaksanakan pembangunan.

Perbedaan dalam pembangunan memang perlu dilakukan demi mengakomodir karakteristik dan kemampuan masing-masing wilayah, desentralisasi asimetris.

"Kebijakan desentralisasi asimetris ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan nasional Indonesia di kawasan-kawasan perbatasan, memperkuat daya saing ekonomi Indonesia secara global, dan untuk membantu daerah-daerah yang kapasitas berpemerintahan belum cukup memadai dalam memberikan pelayanan publik," kata Anang.

Berdasarkan data pemerintah daerah tentang rencana pemanfaatan lahan di Kabupaten Sanggau (termasuk Entikong) pada 2011 - 2031, wilayah tersebut terbagi dalam dua kawasan, yakni kawasan lindung dan budidaya.

Kawasan lindung atau hutannya luas mencapai 552.017,09 dan kawasan budidaya seluas 724.096,29 ha. Potensi lahan budidaya, khususnya pertanian yang besar ini masih sangat memerlukan dukungan penuh pemerintah pusat. Sebab meskipun memiliki potensi lahan luas, lahan pertanian di Kabupaten Sanggau masih terkendala pada produktifitas dan kualitas hasil panen yang masih sangat rendah.

"Malah bisa dikatakan setiap tahun hasil panen komditas pertanian selalu turun dari tahun ke tahun, dikarenakan gangguan hama dan penyakit tumbuhan. Belum lagi soal saprodi, pupuk dan benih yang harganya sangat mahal," papar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sanggau, John Hendri.

Tersebarnya hama dan penyakit tanaman tersebut dimungkinkan menyebar melalui jalur ilegal yang tidak terawasi baik.

Kepala Stasiun Karantina Kelas 1 Entikong, drh Yongky Wahyu Setiawan menyatakan ada 52 jalur ilegal di perbatasan Entikong yang merupakan wilayah Kabupaten Sanggau. Jalur ilegal ini belum dapat diawasi karena keterbatasan SDM, sarana prasarana serta wilayah yang cukup sulit.

Yongki menambahkan potensi ancaman tidak saja terhadap masuk dan tersebarnya hama penyakit hewan dan tumbuhan yang menjadi tusinya namun juga ancaman pada kejahatan lintas negara, pembalakan liar, pemancingan ilegal, perdagangan manusia, penyelundupan ekonomi, peredaran narkotika, pergerakan teroris dan konflik sosial budaya.

Sementara itu, Kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Entikong Wigrantoro Giri Pratikno menambahkan bahwa pihaknya pernah melihat adanya pasar kaget hari Sabtu dan Minggu di Serian.

Menariknya, penjual di Serian mayoritas adalah warga Indonesia, maka dari itu Entikong juga miliki potensi sebagai destinasi wisata.Karenanya, Entikong harus dibenahi dan dibangkitkan agar dapat pasar modern untuk produk pertanian dan perikanan sekaligus wisata. Hal ini tentunya dapat memberdayakan sumber daya manusia di wilayah perbatasan, menjadi daya tarik masyarakat Malaysia untuk berbelanja kebutuhan pangan ke Indonesia," tambah Wigrantoro.

Dari hasil diskusi dan kunjungan lapang, tim Bappenas akan segera menyusun dan mengusulkan program penguatan ekonomi lokal diperbatasan Entikong.

Fokus pembangunan disepakati pada basis pembangunan pertanian. "Potensi lahan dan sumber daya yang ada perlu kita dorong agar wilayah perbatasan ini mampu bangkit dan terus tumbuh menjadi wilayah dengan produk pertanian yang berdaya saing," ujar Anang.

Guna mendukung kebijakan tersebut, Karantina Entikong selaku unit vertikal Kementerian Pertanian segera disiapkan penguatan fungsi perkarantinaan.

Sarana, prasarana, SDM dan membangun kesisteman perkarantinaan dalam kerangka kerjasama BIMP EAGA bakal menjadi fokus perencanaan Barantan di tahun anggaran tahun 2019.

Disamping pemanfaatkan teknologi inovasi layanan guna memastikan layanan karantina lebih cepat, tepat dan nyaman sehingga penguatan perekonomian perbatasan melalui pembangunan pertanian dapat berjalan lancar, pungkas Sujarwanto. 

Reporter : Tiara
Sumber : HUMAS BARANTAN
BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018