
Wawancara dengan Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer, Kementerian Perdagangan, Dr. Miftah Farid, STP, M.SE
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Pertanian menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan di tengah berbagai krisis. Bahkan tren kenaikan ekspor komoditas pertanian cukup bagus.
Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan ekspor pertanian, Tabloid Sinar Tani berksempatan mewawancari Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer, Kementerian Perdagangan, Dr. Miftah Farid, STP, M.SE. Berikut hasil wawancaranya.

Sejauh mana perkembangan ekspor komoditas pertanian ?
Kalau kita menengok mundur ke belakang, 5 tahun terakhir ekspor pertanian trandnya bagus. Tapi kalau bicara tahun lalu, dari sisi nilai memang turun 10%. Hal tersebut terjadi karena ada faktor best year pada 2022 yang kenaikannya cukup tinggi, sehingga pada tahun 2023 menurun 10%.
Namun bila dilihat dari sisi volume kita naik sekitar 7%. Ini adalah hal yang wajar karena pertanian merupakan produk primer, sehingga terjadi tren positif selama 5 tahun terakhir terutama saat covid.
Bagaimana peluang ekspor pertanian kedepan?
Ada beberapa negara yang diprediksi akan ada kenaikan purchasing, seperti China, India, Turki, Peru dan negara lainnya. Hal ini terjadi karena negara-negara non tradisonal pertumbuhan ekonominya diatas 3%. Sehingga kita melihat ekspor secara keseluruhan tetap optimis. Kementerian Pedagangan bukan hanya fokus pada negara-negara tradisonal, namun juga negara-negara non tradisional.
Apa tantangan ekspor yang harus diantisipasi ?
Dari sisi ekspor, potensi masih besar karena ada yang belum kita garap. Kita melihat tantangan tidak hanya dalam negeri, namun juga ada di luar negeri. Paling krusial adalah perubahan konsumen behavior. Kita melihat konsumsi hasil pertanian akan lebih rendah, konsumen juga lebih selektif dan lebih aware terhadap kesehatan, terhadap lingkungan.
Ini yang perlu kita pertimbangkan dalam bisnis maupun dalam policy kita. Di Eropa ada rencana penerapan kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR). tahun 2025, ini menjadi tantangan yang harus dihadapi petani kita.
Karena itu secara G to G, pemerintah menyampaikan ke Komisi Eropa tuga hal. Pertama, tekait fleksibiliti atau jangan kaku terhadap petani kecil dan UKM. Kedua, kita mendorong ke Komisi Eropa terkait penerimaan prakter sustainability yang sudah ada. Ketiga, kita minta EUDR jangan diskriminasi.
Dari berbagai upaya G to G yang kita lakukan ada 17 negara yang terdampak EUDR akan melakukan penandatanganan bersama untuk disampaikan ke Komisi Eropa. Seburuk-buruknya bila EUDR dijalankan pada 1 Januari 2025, yang harus kita lakukana adalah adaptasi.
Apa upaya pemerintah untuk hal itu?
Dalam adaptasi ini pemerintah hadir. Salah satunya dengan program New Export Breakthrough (NEXT) dengan pendampingan dari Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional. Tahun ini kita fokus ke sektor perkebunan. Dalam program NEXT, pemerintah menyiapkan beberapa kegiatan.
Pertama, pendampingan terkait kapabilitas eksportir (pengetahuan mereka terkait ekspor). Kedua produk development, yaitu sertifikasi pelaku usaha. Saat ini sudah kita jalankan untuk food safety.
Ketiga market entry. Bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya melalui perwakilan perdagangan di luar negeri yang ada di 44 kota di 30 negara yang tugasnya mempromosikan produk-produk Indonesia.
Misalnya virtual business machine dengan perwakilan atau mengikuti pameran di luar negeri. Untuk pertanian ada pameran Biofach tahun ini di Jerman. Selain itu pameran di dalam negeri yang sifatnya internasional seperti Trade Expo Indonesia (TEI) yang merupakan satu-satunya pameran multi product berplatform B to B yang menjadi kesempatan untuk sektor pertanian. Tahun ini TEI menjadi spesial karena sepsial karena ditambah beverage and Agriculture, 9-12 Oktober di ICE-BSD
Kementerian Perdagangan juga menjadikan tahun ini sebagai Tahun IG. Baca halaman selanjutnya.