
Sensus Pertanian
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Dalam upaya memahami dinamika pertanian dan merumuskan kebijakan strategis yang tepat, Hasil Sensus Tani 2023 akan menjadi tonggak penting. Melalui sensus ini, dapat mengungkap potensi luar biasa yang terkandung di dalam sektor pertanian.
Pertanian telah menjadi pilar utama perekonomian yang tetap berkembang positif di tengah guncangan pandemi Covid-19. "Indonesia telah menjadi pemain global yang dominan dalam beberapa komoditas pertanian strategis, seperti produksi minyak sawit yang menempati peringkat pertama di dunia, kakao di peringkat ketiga, dan beras di peringkat keempat," kata Kepala Biro Humas dan Hukum BPS, Margaretha Ari Anggorowati.
Ari melihat peranan penting pertanian Indonesia tersebut akan menjadi penentu masa depan sektor pertanian dan pangan secara global. Transformasi sistem pertanian dan pangan di Indonesia memiliki kekuatan untuk membentuk arah yang diambil industri pertanian dan pangan di seluruh dunia.
Peran strategis dalam pertanian dan pangan global tersebut, pertama, Indonesia sebagai salah satu pasar komoditas pangan terbesar di dunia. Populasi penduduk mencapai 270,20 juta jiwa yang didominasi penduduk usia poduktif (70,72 persen), bahkan cenderung konsumtif.
Kedua, Indonesia sebagai produsen utama (main suppliers) global sejumlah komoditas pertanian strategis. Data menyebutkan, Indonesia adalah produsen sawit terbesar pertama di dunia, produsen beras keempat di dunia (2022) setelah China, India dan Bangladesh dan produsen kakao terbesar ketiga setelah setelah Ivory Coast dan Ghana.
”Dengan data tersebut transformasi sistem pertanian dan pangan Indonesia menentukan masa depan pangan dan pertanian dunia,” ujarnya saat webinar: Sensus Pertanian Memperkuat Ketahanan Pangan yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama BPS di Jakarta, Senin (26/6).
Dengan luas lahan baku sawah mencapai 7,46 juta hektar (2019), budidaya pertanian melibatkan sekitar 27,68 juta rumah tangga (2018) atau petani sebanyak 33,49 juta jiwa. Data Februari 2023, jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian mencapai 138,63 juta orang atau 29,36 persen dari total penduduk Indonesia. Proporsi petani perempuan sebanyak 8,05 juta atau 24,04 persen dan laki-laki sejumlah 25,44 juta orang atau 75,96 persen.
Ari mengungkapkan, berdasarkan sumber penghasilan utama Indonesia (Maret 2022), desa menjadi tempat penghasilan terbesar. Tapi pedesaan juga menjadi lokasi rumah tangga miskin terbesar mencapai 65,57 persen, sedangkan di kota sebanyak 28,68 persen.
Sedangkan persentase rumah tangga petani gurem terhadap total rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan pada 2018 mencapai 58,07 persen atau 15,81 juta rumah tangga. Untuk persentase petani yang menggunakan internet sekitar 13,44 persen atau 4,50 juta petani. Sementara persentase rumah tangga usaha budidaya pertanian yang menggunakan teknologi pertanian (mekanisasi dan lainnya) sudah sekitar 47,29 persen.
Persentase petani skala kecil di Indonesia pada Tahun 2021 mencapai 72,19 persen dengan rata-rata pendapatan bersih Rp 5,23 juta pertahun. Adapun rata-rata pendapatan bersih dari bukan petani skala kecil Rp 22,98 juta pertahun.
Lima propinsi yang petani skala kecil yang menerima pendapatan bersih tertinggi yakni Lampung sebesar Rp 7.973.787, Bengkulu (Rp 7.916.390), Kalimantan Barat (Rp 7.527.884), Kalimantan Tengah (Rp 7.472.073) dan Sumatera Barat sebesar Rp 6.846.449. Sedangkan provinsi dengan rata-rata pendapatan bersih per tahun petani skala kecil terendah NTB sebesar Rp 1.638.708, DKI Jakarta (Rp 2.373.501), Gorontalo (Rp 2.738.305), DI Yogyakarta (Rp 3.744.543) dan Maluku sebanyak Rp 4.238.753.
Melalui hasil Sensus Pertanian 2023, pemerintah bisa berbagai langkah. Satu kesatuan data menjadi penting. Baca halaman selanjutnya.