Minggu, 14 April 2024


DPR RI : Akurasi dalam Penyusunan Neraca Daging Nasional Harus Tepat

25 Mar 2024, 08:16 WIBEditor : Gesha

Perhitungan neraca daging Nasional haruslah akurat | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Amin AK dari Komisi VI DPR RI memperhatikan langkah pemerintah yang terus menerapkan kebijakan impor untuk memenuhi kebutuhan daging domestik. Dia menegaskan bahwa perhitungan neraca daging, terutama estimasi kebutuhan dalam negeri dan kemampuan produksi lokal, harus akurat.

"Pemerintah mengimpor daging dengan tujuan menjaga stabilitas harga dan ketersediaannya bagi masyarakat. Namun, keterlambatan dalam pemberian Surat Perizinan Impor (SPI) oleh pemerintah kepada importir juga menyebabkan hambatan dalam pasokan daging bagi masyarakat," kata Amin.

Menyusul data prognosa neraca pangan nasional yang dikumpulkan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada 27 Januari 2024, diperkirakan bahwa impor daging sapi, bakalan, dan kerbau untuk tahun 2024 akan mencapai 389.024 ton, sementara produksi dalam negeri hanya diperkirakan sebesar 422.649 ton.

"Keputusan mengenai volume impor pangan, termasuk daging, harus berdasarkan perbandingan antara kebutuhan di dalam negeri dan kapasitas produksi domestik. Oleh karena itu, saya meminta pemerintah mampu melakukan perhitungan neraca daging secara nasional dengan akurat," ujar Amin.

Amin juga menyoroti peran Bapanas dalam menentukan volume impor daging, menekankan pentingnya sinkronisasi dengan data produksi dalam negeri.

"Jika Bapanas kemudian mengoreksi volume impor daging dari 389.024 ton menjadi 145.251 ton, atau sekitar 37,33 persen dari rencana semula, itu menandakan adanya masalah dengan data produksi dalam negeri kita," jelas anggota DPR dari Dapil Jatim IV ini .

Di sisi lain, Kementerian Pertanian, sebagai penyedia data, seharusnya dapat memberikan penjelasan tentang populasi sapi dan kerbau sebenarnya di dalam negeri, serta produksi daging setiap tahunnya.

“Perbedaan atau koreksinya sangat besar. Sehingga sangat mungkin berdampak pada neraca antara kebutuhan dan pasokan. Jangan sampai gara-gara data yang tidak akurat, baik peternak rakyat maupun konsumen dirugikan akibat kesalahan data ini,” tambah Politisi Fraksi PKS ini.

Selain itu, tambahnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga perlu memperhitungkan waktu yang tepat dalam memberikan izin impor sapi bakalan dan daging beku. Kemendag juga harus memprioritaskan kesejahteraan para peternak sapi lokal.

"Dengan manajemen impor yang cermat, kita dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga," katanya. "Sementara itu, peternak sapi rakyat tidak akan mengalami kerugian karena fluktuasi harga yang tiba-tiba."

Ketidaklengkapan data di lapangan juga memengaruhi volume impor. Penggabungan data jumlah sapi bakalan dan sapi siap potong dalam negeri berdampak pada ketersediaan daging domestik.

Menurut data yang dikumpulkan oleh importir, peningkatan konsumsi daging yang ditetapkan pemerintah menjadi 2,9 kg per kapita seharusnya diimbangi dengan peningkatan volume impor.

Jika tidak, kemungkinan terjadinya lonjakan harga daging di pasar, terutama menjelang Idul Fitri 1445 H mendatang.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018