Wednesday, 21 October 2026


Jalan Panjang Kembalikan Kejayaan Bawang Putih Indonesia

10 May 2019, 16:03 WIBEditor : Gesha

Benih bawang putih yang ditanam merupakan varietas lokal, yakni Sangga Sembalun, Karanganyar, Lumbu Kuning, Lumbu Hijau dan Lumbu Putih. Dengan rata-rata produksinya minimal 8,9 ton per hektar.

Benih bawang putih yang ditanam merupakan varietas lokal, yakni Sangga Sembalun, Karanganyar, Lumbu Kuning, Lumbu Hijau dan Lumbu Putih. Dengan rata-rata produksinya minimal 8,9 ton per hektar.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Tahun 1994-1995 menjadi puncak kejayaan bawang putih asal Indonesia. Makanya pada tahun itu, bawang ptuih dijuluki sebagai ‘white diamond’ karena mampu membawa petaninya pergi menjalankan ibadah haji. Tetapi kejayaan ini mulai luntur (1996), sejak bawang putih asal Cina masuk. Harganya lebih murah hingga 50 persen dibandingkan asal Indonesia. Akhirnya lama-kelamaan bawang putih Indonesia mulai tidak diminati pasar.

Untuk mengembalikan kejayaan ‘white diamond’, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian mulai menggerakan kembali petani untuk mau menanam bawang putih.

Dengan program yang bertahap, mulai dari tahun 2019 yang ditargetkan berupa swasembada benih bawang putih, lalu di tahun 2021 targetnya adalah swasembada bawang putih (baik benih maupun konsumsi).

“Dulu sebelum tahun 2017, pertanaman bawang putih hanya di 2 kabupaten, Temanggung dan Lombok Timur (Sembalun). Sekarang sudah ada di 80 kabupaten dan rencananya tahun ini akan bertambah di 110 kabupaten dengan target luas areal pertanamannya 20-30 ribu hektar,” kata Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi saat diwawancara oleh tabloidsinartani.com.

Benih bawang putih yang ditanam merupakan varietas lokal, yakni Sangga Sembalun, Karanganyar, Lumbu Kuning, Lumbu Hijau dan Lumbu Putih. Dengan rata-rata produksinya minimal 8,9 ton per hektar.

“Itu tergantung daerahnya. Di Temanggung dapat mencapai hingga 16 ton per hektar. Di Wonosobo dan Sukabumi mencapai 14 ton per hektar,” terang Suwandi.

Memang pada awal mula penanaman bawang putih untuk mencapai swasembada benih bawang putih 2019, sebagian dipakai menggunakan benih impor asal Cina. Tetapi benih impor ini setelah uji lapangan dan DNA persis sekali dengan yang Sangga Sembalun.

“Jadi ketika benih impor itu masuk, kita namakan Benih Lokal Sangga Sembalun karena sifat dan karakteristiknya sama persis dengan Sangga Sembalun. Ketika mulai menghasilkan, kita namanya Sangga Sembalun. Tetapi itu hanya 20 ribu ton saja yang digunakan sebagai benih di sini (Indonesia). Baru sisanya menggunakan benih lokal dan sekarang pure benar-benar benih lokal semuanya,” jelas Suwandi.

 

Benih bawang putih lokal yang ditanam di sini (Indonesia), tidak jauh berbeda dengan yang impor. Bahkan aromanya lebih tajam (kuat). Jadi kalau nanti digunakan untuk konsumsi, akan jauh lebih irit.

“Kita tunggu saja 2021 karena tahun tersebut sudah dapat dikonsumsi secara umum. Kalau sekarang paling yang reject diolah menjadi pasta,” terang Suwandi.

Untuk areal pertanaman, sebagian besar dari APBN dan wajib tanam dari importir bawang putih. Tetapi sebagian kecilnya ada dari swasta dan swadaya petani.

Suwandi menjelaskan kalau untuk tahun ini sebagian besar dari APBN karena wajib tanam yang hanya 5 persen sudah terkunci. Tidak boleh ditambah-tambah, tetapi lahannya harus bertambah. “Jadi yang wajib tanam ini sebelum melakukan impor, harus menanam bawang putih dulu 25 persen. Begitu sudah disetujui oleh Kemendag (SPI), baru pertanamannya dituntaskan hingga 100 persen sampai dengan setahun lamanya. Kalau tidak dikerjakan ya akan dicabut izin impornya,” jelasnya.

Bagaimana apabila terjadi kegagalan panen? Suwandi menjelaskan untuk saat ini gagal panen bawang putih sangat rendah sekali karena dari mulai pra tanam hingga pascapanennya benar-benar dipantau oleh Dinas.

Walaupun panen, harus ada penggantian untuk petaninya dari si importir itu. “Jadi kalau gagal mereka (importir) harus memberikan kompensasi selama 3 bulan kepada petaninya. Lalu menanam lagi baik di lahan yang lama maupun di lahan yang baru. Tergantung petaninya mau menanam di lahan yang mana," bebernya.

Areal pertanaman bawang putih sendiri tidak mengganggu pertanaman lainnya karena kebanyakan ditanam di lahan yang tidak terpakai, misalnya semak-belukar. Walaupun menggunakan lahan pertanaman lain seperti di Temanggung (tembakau), dilakukan dengan cara tumpangsari atau pergiliran tanaman," tuturnya.

Budidaya RamLi

Rencana kedepannya agar bawang putih lokal kembali berjaya adalah dengan efisiensi teknologi dan input, diharapkan kedepannya benih bawang putih bukan menggunakan umbi lagi, melainkan biji (TSS) seperti di bawang merah.

“Dengan TSS jauh lebih efisien. Saya ambil contoh di bawang merah yang mampu mengefisienkan hingga 63 persen. Dengan umbi untuk tanam 1 hektar membutuhkan 1 ton dengan biaya Rp 40-45 juta, sedangkan dengan biji (TSS) biaya yang dikeluarkan hanya Rp 10-15 juta saja per hektarnya. Tetapi ya kelemahnnya ada tambahan hari (kurang lebih 20 hari) untuk penyemaiannya,” jelas Suwandi.

Selain itu, Teknik budidayanya juga harus diperhatikan. Misalnya dalam pemasangan plastik mulsa.

Suwandi menjelaskan ketika akan ditutup dengan plastik mulsa, sebaiknya lahannya harus ‘clean and clear’. Baru setelah bersih ditutup. “Jangan masih kotor sudah ditutup dengan plastik mulsa, yang ada malah nanti muncul ulat. Gagal panen deh ujung-ujungnya.”

Melakukan budidaya bawang putih yang dianjurkan saat ini adalah ramah lingkungan (RamLi).

Apalagi pertanaman bawang putih harus di areal yang tinggi dengan iklim sejuk/dingin. Biasanya petani di dataran tinggi lebih paham dengan budidaya ramah lingkungan.

“Baru setelah itu hilirnya, yakni gudang penyimpanannya untuk jadi benih. Ada yang menggunakan cold storage ada pula yang masih sederhana. Asalkan bisa jadi benih,” ujar Suwandi.

Untuk yang disimpan di cold storage biasanya lebih cepat untuk digunakan sebagai benih. Hanya perlu 2,5 bulan sudah jadi benih, sedangkan kalau yang di gudang biasa bisa memakan waktu hingga 4 bulan. Tetapi tidak jadi soal karena targetnya adalah menjadi benih.

Untuk masalah pergudangan canggih atau tidak itu adalah kehendak importir bermitra dengan petani. Apakah dia menyedikan cold storage atau hanya gudang biasa.

“Yang jelas dengan program swasembada bawang putih ini tentu membuka peluang baru dalam usaha menyerap lapangan kerja di di daerah,” pungkas Suwandi. 

Reporter : Clara
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018