
Mentan dan WA mentan saat memantau Minyakita di Surabaya
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --Menjelang Ramadan, pemerintah mengunci harga MinyaKita agar tak melejit. Lewat operasi pasar dan stok besar di Bulog, harga minyak goreng wajib bertahan di HET Rp15.700 per liter.
Pemerintah menegaskan harga minyak goreng rakyat MinyaKita tidak boleh melampaui harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter menjelang Ramadan 2026. Penegasan ini disampaikan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah tidak akan ragu menindak pihak-pihak yang mencoba memainkan harga MinyaKita di pasaran.
Menurutnya, kelangkaan dan lonjakan harga minyak goreng seperti yang pernah terjadi sebelumnya tidak masuk akal, mengingat Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia.
“Masih ingat minyak goreng dulu sempat langka. Masuk akal tidak? Kita produsen terbesar dunia. Tahun ini ditindak. Tidak ada imbauan, kalau ada yang main-main, langsung ditindak,” kata Amran, Minggu (25/1/2026).
Amran menjelaskan, pemerintah telah memperkuat peran BUMN pangan untuk menjaga pasokan minyak goreng di dalam negeri.
Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2025 yang mewajibkan produsen menyalurkan minimal 35 persen dari realisasi Domestic Market Obligation (DMO) MinyaKita kepada Perum Bulog dan atau BUMN pangan sebagai distributor lini 1.
Menurutnya, volume minyak goreng yang dikuasai BUMN kini meningkat signifikan. Dari sebelumnya hanya sekitar 60–70 ribu kiloliter, kini mencapai 700 ribu kiloliter yang dikelola Bulog dan ID FOOD. Stok tersebut disiapkan untuk kebutuhan operasi pasar jika terjadi gejolak harga.
“Sekarang 700 ribu kiloliter. Minyak goreng ada di Bulog dan ID FOOD, jadi pemerintah bisa langsung hadir lewat operasi pasar,” ujarnya.
Berdasarkan Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1028 Tahun 2024, harga MinyaKita ditetapkan berjenjang, yakni Rp13.500 per liter di tingkat distributor lini 1 (D1), Rp14.000 per liter di D2, Rp14.500 per liter di tingkat pengecer, dan HET di tingkat konsumen sebesar Rp15.700 per liter.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi minyak kelapa sawit Indonesia pada 2024 mencapai 45,44 juta ton, dengan ekspor sebesar 22,98 juta ton. Indonesia menguasai sekitar 48,38 persen pangsa pasar ekspor minyak sawit dunia.
Amran menegaskan, kebijakan pengamanan harga MinyaKita dilakukan untuk melindungi daya beli masyarakat, khususnya menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Saat ini, stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) MinyaKita yang dikelola Bulog dan ID FOOD tercatat sekitar 7 ribu kiloliter per 22 Januari 2026.