
Mendag Busan ketikan turun lapang memantau harga bahan pokok
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kementerian Perdagangan memantau harga beras, minyak, dan gula menjelang Lebaran 2026 tetap stabil. Dari data real-time SP2KP, pasokan terjaga, harga sesuai HET, sehingga masyarakat bisa berbelanja dengan tenang.
Kementerian Perdagangan memastikan pasokan dan harga bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula pasir relatif stabil menjelang momen Lebaran 2026.
Pemantauan yang dilakukan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) menunjukkan bahwa sebagian besar komoditas strategis masih berada di bawah atau dekat dengan Harga Eceran Tertinggi (HET), meskipun ada fluktuasi kecil di beberapa daerah.
Dalam konferensi pers di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (24/2/2026), Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa data real-time SP2KP memperlihatkan kondisi pasar yang terkendali.
Menurut data terbaru SP2KP per 24 Februari 2026, dari 16 komoditas pokok yang dipantau di DKI Jakarta, 13 komoditas tercatat mengalami penurunan harga, sementara hanya satu yang naik ringan yaitu telur ayam ras.
Harga beras premium turun 0,26 persen menjadi sekitar Rp16.332 per kilogram, sedangkan beras medium turun ke Rp14.053 per kg, dan gula pasir curah turun 0,45 persen menjadi sekitar Rp18.375 per kg.
Sementara minyak goreng sawit curah turun ke Rp19.701 per liter.
Data tersebut menguatkan gambaran bahwa pasar cukup terkendali menjelang puncak permintaan Ramadhan dan Lebaran, yang secara tradisional sering diikuti lonjakan harga dan permintaan terhadap kebutuhan pokok.
“Beberapa harga memang ada yang naik sedikit di atas Harga Eceran Tertinggi, tapi sebagian besar tetap sama atau bahkan di bawah HET,” ujar Budi Santoso dalam keterangannya kepada media.
Ia menekankan peran penting SP2KP dalam memberikan data real-time yang akurat untuk menilai dinamika pasar secara nasional.
Tidak hanya dari statistik, Budi menegaskan bahwa pengecekan langsung ke lapangan menjadi bagian penting dari pemantauan.
“Kami terus koordinasi agar pasokan tidak terhambat, sehingga menjelang Lebaran semua kebutuhan pokok dapat terjamin baik dari sisi harga maupun ketersediaan,” jelasnya.
Pemantauan dan operasi pasar ini tidak hanya bersifat administratif, tapi juga kolaboratif.
Melalui SP2KP, Kemendag dapat segera menanggapi jika terjadi kenaikan harga signifikan di daerah tertentu dengan melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah, distributor, dan pelaku pasar.
Contoh nyata hasil pemantauan tersebut pernah tercatat pada Januari 2026 di Jambi, ketika data SP2KP menunjukkan bahwa dari 15 komoditas pokok hanya satu komoditas yang naik harga (cabai rawit merah), sedangkan komoditas lain seperti bawang merah, bawang putih dan beras premium justru turun harga.
Para pelaku pasar dan distributor juga terlibat aktif dalam menjaga stabilitas pasar.
Koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha kecil menengah (UKM) menjadi kunci agar distribusi kebutuhan pokok berjalan tanpa hambatan, terutama di daerah-daerah yang potensial mengalami lonjakan harga.
Dengan kondisi saat ini, pemerintah optimis bahwa stabilitas harga bahan pokok akan terus terjaga sampai puncak permintaan Lebaran, memberikan rasa aman bagi masyarakat yang sedang menyiapkan kebutuhan rumah tangga menjelang hari raya.