Sabtu, 17 Agustus 2019


Nugget dan Sosis Indonesia Bisa Dinikmati di Jepang

08 Jan 2019, 16:45 WIBEditor : Yulianto

Dirjen PKH, Ketut Diarmita (empat dari kiri) saat acara Bakpia, di Jakarta, Selasa (8/1) | Sumber Foto:Fitri

Pemerintah Jepang mengakui kemampuan Indonesia dalam mengendalikan penyakit yang bersifat zoonis

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Pemerintah terus mendorong ekspor produk peternakan, terutama produk olahan. Bahkan kini nugget dan sosis Indonesia telah berhasil menembus pasar Negeri Matahari Terbit, Jepang.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita mengakui, bahwa Pemerintah Jepang sudah mengakui kemampuan Indonesia dalam mengendalikan penyakit yang bersifat zoonis. Karena itu, negara tersebut menerima produk olahan ternak Indonesia seperti nugget dan sosis dari Indonesia.

“Pasar Jepang itu standarnya tinggi. Negara tersebut juga sangat kritikal terhadap aturan karena perlindungan terhadap penduduknya tinggi. Karena itu mereka melakukan assesment di perusahaan yang akan mengekpor ke Jepang,” tuturnya pada acara Bincang Asyik Pertanian Indonesia (Bakpia) di Jakarta, Selasa (8/1). Dalam acara tersebut juga hadir Kepala Dinas Peternakan Provinsi Aceh, Rahmandi Msi dan General Manager Ekspor-Impor PT Prima Food Indonesia, Jessica.

Ketut mengatakan, pemerintah telah melakukan terobosan peningkatan ekspor ke beberapa negara untuk unggas. Diantaranya, ke Myanmar, Papua Nugini dan Jepang. Pada tahun 2018 sudah ada ekspor daging ayam olahan, DOC dan pakan ternak.

Selain itu, Kementan memanfaatkan potensi ekspor ke negara ASEAN dan Timur Tengah, terutama komoditas kambing dan domba. Indonesia juga mengekspor sebanyak 2.500 ekor kambing dan domba ke Malaysia.

“Kita ingin ekspor terus meningkat, manfaat ekspor yang didapat bukan hanya meningkatkan pendapatan pelaku usaha, tetapi juga menambah devisa serta mengangkat martabat bangsa Indonesia di mata dunia, kata Ketut. Peluang pasar untuk komoditas peternakan di pasar global masih sangat terbuka. “Adanya permintaan dari negara di daerah Timur Tengah dan negara lain di kawasan Asia sangat berpotensi untuk dilakukan penjajakan,” tambahnya.

Ketut mengatakan keunggulan lainnya produk peternakan Indonesia adalah sudah adanya sertifikasi halal. Karena itu menjadi daya tarik untuk ekspor produk peternakan ke Timur Tengah dengan penduduk mayoritas muslim. “Termasuk dukungan terhadap pengembangan pariwisata halal yang secara internasional mulai berkembang pesat dewasa ini, ujarnya.

Sementara itu General Manager Ekspor-Impor PT Prima Food Indonesia (anak perusahaan PT. Charoen Pokphan Indonesia), Jessica mengakui, untuk bisa mengekspor produk olahan ternak, seperti nugget dan sosis ke Jepang memang melalui porses yang cukup panjang.

Jepang sebagai negara maju yang sangat memperhatikan mutu menerapkan persyaratan yang sangat ketat. Bahkan mereka sampai mengirimkan tim karantina untuk memastikan lokasi dari farm hingga fasilitas produksi. “Semua itu diperiksa ketat,” katanya.

Selain itu menurut Jessica, pihaknya juga mengirimakan surat rekomendasi ke Jepang untuk bisa divalidasi agar bisa ekspor. Itu baru selesai dalam jangka waktu 2 tahun. Selama ini sudah diperpanjang dua kali, tahun ini akan ada perpanjangan lagi. Mudah- mudahan kita masih bisa ekspor,” tuturnya.

Selain Jepang, ungkap Jessica, pihaknya juga mengekspor produk ternak ke Papua Nuguni dan Timor Leste. Targetnya tahun 2019 ini, bisa menembus pasar Timor Tengah, Singapura dan Brunei Darussalam. “Untuk Singapura kita menunggu kerjasama G to G (government to government),” ujarnya.

 

Reporter : Yuli
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018