Jumat, 16 Januari 2026


Bunga Palsu Bikin Usaha Bunga Layu

28 Jan 2019, 16:24 WIBEditor : Yulianto

Meski bisnis bunga sedang layu, tapi masih ada peluang

Saat ini terjadinya perlambatan ekonomi yang dirasakan pelaku usaha bunga

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Usaha bunga saat ini tengah layu. Penyebabnya adalah gara-gara maraknya peredaran bunga plastik atau atificial.

“Banyaknya pemakaian bunga palsu atau bunga artificial meresahkan para pelaku usaha bunga asli saat ini. Hal tersebut terlihat dari banyaknya penggunaan bunga palsu saat acara pernikahan,” ungkap Ketua II Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo), Hesti Widayani saat FGD Peningkatan Akses Perempuan terhadap Program Pembangunan Pertanian di PTP Nusantara 8 Gunung Mas, Bogor, beberapa waktu lalu.

Kondisi itu menurut Hesti mengakibatkan terjadinya perlambatan ekonomi yang dirasakan pelaku usaha bunga. Lebih parahnya, beberapa pelaku usaha terpaksa harus gulung tikar menutup usahanya.

Untuk menyikapi masalah tersebut, Hesti mengatakan, pelaku usaha harus lebih gencar mengenalkan bunga asli kepada masyarakat. Salah satu usaha agar bunga asli tetap diminati adalah dengan terus memperkenalkan warna dan jenis bunga yang baru.

Apalagi kini banyak juga rangkaian bunga yang dikombinasikan dengan tanaman-tanaman tropis asli Indonesia seperti tanaman jahe-jahean dan pisang-pisangan. Misalnya, bunga jenis Zingi beraceae (jahe-jahean) bagus untuk dikombinasikan dengan bunga-bunga yang asalnya dari Eropa.  Itu dapat digunakan sebagai ide kreatif lainnya agar bunga asli tetap diminati. Pelaku usaha harus memperkenalkan ke konsumen,” ujarnya.

Ketua II Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo), Hesti Widayani

Persoalan lain yang dirasakan pelaku usaha bunga adalah adanya PPN 10% yang harus ditanggung produsen. Jika PPN dibebankan ke konsumen, maka mereka cenderung menolak, bahkan membuat konsumen bunga asli semakin menurun.

“Masalah PPN 10% ini yang kita juga masih diperjuangkan. Dari pemerintah kemarin saat acara Hari Florikultura Nasional mengiyakan akan menurunkan PPN dari 10% menjadi 1%, itu sangat menggembirakan buat kami, namun masih harus terus di follow up,” tutur Hesti.

Perkembangan ekonomi sebagai usaha bunga memang sedang melambat, namun tidak menutup peluang yang bagus dalam usaha florist ini. “Usaha bunga bukannya mempunyai masa depan suram, hanya saja sekarang sedang melambat. Karena mau bagaimana pun, sejak manusia masih di dalam perut, lahir, ulang tahun, menikah, bahkan sampai kita meninggal pasti membutuhkan bunga, jadi bunga itu tidak akan surut,tutur Hesti.

Dengan makin berkembangnya pemasaran melalui online, Hesti mengungkapkan, pelaku usaha bunga harus bisa memanfaatkan teknologi itu. Bahkan beberapa florist telah merasakan dampak pemasaran dengan pemesanan handbouquet yang mengalami peningkatan. Perubahan tersebut dapat menjadi suatu tren baru.

 

 

Reporter : Pipiet Endwiyatni/Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018