Jumat, 22 Februari 2019


Harga Cabai Merosot, Inilah Solusi Kementan

05 Peb 2019, 13:35 WIBEditor : Gesha

Harga cabai merosot, tapi perlu kerjasama berbagai pihak | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Seminggu terakhir, harga cabai yang diterima petani tengah merosot, merata di seluruh sentra produksi. Kementerian Pertanian (Kementan) tentu tidak tinggal diam, langsung melakukan konsolidasi untuk mencari solusi yang cepat, tepat dan bisa dieksekusi. 

Direktur Jenderal Hortikutura, Suwandi langsung mengumpulkan petani cabai andalan yang tergabung dalam champion cabai dari 20 dinas pertanian kabupaten sentra utama, dinas-dinas pertanian sentra cabai, KTNA, HKTI dan Satgas Pangan, Senin (4/2).

"Kita dorong sektor hilir, seperti logistik distribusi, substitusi bahan olahan industri dengan cabai lokal, pengembangan industri olahan skala rumah tangga hingga bazar dan pasar lelang cabai," terang Suwandi.

Selain itu Kementan bangun koordinasi dengan pihak asosiasi penerbangan Indonesia untuk meringankan biaya kargo dan mendorong pemerintah daerah tetap menginisiasi pasar lelang cabai.

"Kita tidak bisa menyelesaikan semua masalah sendiri-sendiri, tapi perlu dukungan dari berbagai sektor," tambahnya.

Bahkan yang terpenting saat ini agar ongkos kargo pesawat untuk mengirim ke luar Jawa lebih murah. "Saat ini banyak dikeluhkan naiknya biaya angkut pesawat," jelasnya.

Dari hasil koordinasi dengan berbagai pihak, dihasilkan beberapa solusi yang bersifat jangka pendek, menengah dan panjang. Jangka pendek yang bisa dilakukan antara lain: Pemda dan ASN membeli langsung ke petani, membuka pasar tani di pusat keramaian, melakukan menjalin kemitraan dengan industri makanan, mencari alternatif angkutan yang lebih murah.

Untuk jangka menengah meningkatkan provitas untuk menekan BEP dan pengembangan industri olahan.  Sedangkan untuk jangka panjang bisa dilakukan dengan  penumbuhan unit pengolahan atau BUMD dengan dukungan logistik modern.

Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia, Hamid menjelaskan bahwa pelaku usaha cabai Indonesia harus mampu mengembangkan diri baik teknologi maupun pemasaran. 

"Kalau kita bisa meningkatkan kemampuan dan teknologi, misal di budidaya atau pengolahan, banyak permasalahan cabai yang bisa kita selesaikan," terangnya. 

Minimal dengan demikian dapat mengurangi resiko kerugian akibat harga fluktuatif.

"Masalah sebenarnya bukan harga yang murah saja, tetapi biaya produksi kita yang mahal, nah kita harus bisa mengurangi biaya usaha tani agar cabai dan petani kita bisa tetap eksis," tuturnya.

Sepuluh Jurus

Agar harga dan pasokan stabil, Ditjen Hortikultura sebenarnya mempunyai 10 jurus yakni pertama, gunakan benih unggul sehingga produksi dan provitas naik; Kedua ikuti anjuran manajemen pola tanam, diversifikasi tanam dan tumpang sari dari petani champion.

Ketiga pupuk organik ramah lingkungan dibuat sendiri sehingga efisien biaya; keempat, pestisida hayati ramah lingkungan dibuat sendiri;

Kelima, terapkan cara pasca panen yang baik; keenam hirilisasi olahan pasta, goreng dan lainnya dengan skala rumah tangga dan usaha kecil;

Ketujuh, bangun kemitraan dengan usaha olahan dan pasar; kedelapan, membentuk koperasi sehingga terkoordinir, teknologinya seragam dan hasil pasarnya bersama-sama.

Kesembilan, membentuk pasar lelang di level farmgate sehingga petani peroleh harga tertinggi, cash and carry dan tercipta one region produk bersama champion.

Kesepuluh membangun sistem logistik dan coldstorage untuk menyimpan produk dalam jumlah besar untuk memasok antar pulau maupun ekspor.

“10 jurus tersebut sebagian merupakan solusi jangka pendek dan sebagian solusi jangka menengah dan panjang," ujar Suwandi.

Kementan bersama Pemda dan Penyuluh membina petani untuk efisiensi input dengan cara memproduksi sendiri pupuk organik dan pestisida hayati ramah lingkungan,  memfasilitasi benih unggul serta sarana pasca panen sesuai skala prioritas.

Kementan juga sudah menerapkan manajemen tanam sesuai kebutuhan riil setiap bulannya.  Penanaman cabai juga tetap berbasis kawasan, namun harus dihitung berdasarkan kapasitas kebutuhan di masing-masing daerah.

Karenanya, upaya tersebut harus dipatuhi oleh petani, maka pemerintah daerah harus tegas dan mengawal ketat.

Reporter : Dessy Puspitasari
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018