Sabtu, 25 Mei 2019


Begini Solusi Agar Harga Karet Menguat

11 Mar 2019, 12:29 WIBEditor : Gesha

Petani karet berharap jika harga lebih baik sehingga bisa merasakan keuntungan yang terbaik | Sumber Foto:ISTIMEWA

Mulai dari replanting, negosiasi dengan negara produsen karet, hingga konsumsi dalam negeri

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Palembang --- Harga karet yang menjadi tumpuan petani Banyuasin sempat anjlok beberapa waktu silam. Sebagai bagian dari komoditas andalan Indonesia, pemerintah menyiapkan beragam solusi agar harga karet menguat sehingga petani bisa merasakan keuntungan.

Dimulai dari jangka panjang dengan mempersiapkan replanting tanaman karet agar produktif. Pemerintah menargetkan sebanyak 50 ribu hektar per tahun pertanaman karet akan diremajakan, sehingga menghasilkan produktivitas yang baik. Indonesia punya potensi 700 ribu ha tanaman karet yang saat ini umurnya sudah 20-25 tahun. “Dari potensi tanaman karet yang sudah tua itu, akan kami remajakan 50 ribu ha/tahun,” ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono.

Kemudian, pemerintah  melakukan negosiasi dengan sejumlah negara produsen karet. Negara-negara yang tergabung dalam International Trase Rubber Community (ITRC), seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand  dalam jangka pendek sepakat mengurangi ekspor sebanyak 240 ribu ton.

Menurut Kasdi, dari kesepakatan tersebut, komposisinya  antara lain, Thailand sebanyak  124 ribu ton, Indonesia sebanyak 98 ribu ton dan Malaysia 18 ribu ton. “Nah, persoalannya, kesepakatan tersebut kapan akan dimulai. Tapi, prinsipnya pada April mendatang dilaksanakan,” papar Kasdi.

Kasdi juga mengatakan, sesuai kesepakatan bersama, negara produsen karet dalam waktu  3 bulan tidak melakukan ekspor. “Saat pemerintah melakukan negosiasi dengan negara produsen karet lainnya, saat ini harga karet petani sudah mulai naik,” jelas Kasdi.

Langkah selanjutnya, kata Kasdi, mendorong meningkatkan konsumsi karet dalam negeri. Diantaranya, mendorong pemerintah provinsi (Pemprov) dan pemerintah daerah (Pemda) untuk menggunakan karet sebagai campuran aspal jalan dan bantalan rel kereta.

“Untuk peningkatan penyerapan karet dalam negeri, Presiden Jokowi sudah mengintruksikan supaya Kementerian PUPR bersinergi dengan Kemendagri,”  kata Kasdi.

Ia juga menjelaskan, saat ini penggunaan karet sebagai campuran aspal jalan di Kementerian PUPR hanya untuk jalan nasional. “Nah, ke depan pemerintah kabupaten/kota juga didorong menggunakan campuran karet untuk aspal jalan. Sehingga, serapan karet dalam negeri akan banyak,”kata Kasdi.

Menurut Kasdi, agar petani karet mendapatkan harga yang bagus, Kementan juga mengembangkan diversifikasi olahan karet ke petani (kelompok tani). “Supaya petani karet punya nilai tambah, jangan hanya menjual getah saja, Karena itu, kita ajari mereka cara mengolah karet menjadi crum rubber yang kadarnya 50-60%. Petani juga bisa mengolah karet menjadi bahan sarung tangan, dan lain-lain,” papar Kasdi.

 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018