
Panen Nanas petani Subang lebih suka untuk pemenuhan pasar domestik
TABLOIDSINARTANI.COM, Subang --- Meskipun peluang ekspor nanas menggiurkan, ternyata petani nanas Subang lebih memilih penuhi pasar domestik yang masih terbuka lebar.
"Dengan brix (tingkat manis) kami yang mencapai 18, sebenarnya banyak penawaran untuk luar negeri. Tapi kami fokus untuk supply ke pabrik yang sudah pre order sampai puasa (Bulan Ramadhan, red) nanti. Targetnya 500 ton, sekarang sisa 100 ton lagi," beber salah satu petani nanas Subang, Efrizal.
Tak hanya memasok ke pabrik pengolahan, nanas segar dari petani Subang juga memasok ke daerah lainnya seperti Surabaya, Kediri, Kupang dan Yogyakarta.
"Kalau kaidah budidaya kami, bisa produksi sekitar 7 ton per minggu. Sedangkan permintaan sendiri minta 3 ton-5 ton/minggu untuk Yogyakarta, 2 ton untuk Kediri dan Surabaya sebanyak 1,5 ton per minggu," beber Efrizal.
Ketika ditanya mengapa belum tertarik dengan ekspor, Efrizal mengakui banyak persyaratan ekspor yang rumit menurutnya. "Pertama dari kualitas/standar yang ketat karena ini perlu perlakuan khusus,mulai dari pemetikan dan juga masalah harga," tuturnya.
Termasuk sistem pembayaran yang dianggap ribet oleh petani. "Kalau dari pabrik, kami dapat harga flat dan pembayaran cash and carry. Jadi begitu dibawa ke pabrik langsung dibayar," beber Efrizal.
Dirinya juga mengakui jika sekarang pabrik pengolahan biasa datang langsung ke petani nanas di Subang karena sudah sangat dikenal kualitasnya. "Kami mau budi daya nanas dengan brix 20 keatas dan harga jual Rp 30.000/ buah. Jaminan tidak manis, uang kembali 2 kali lipat dan bobot diatas 1,5 kg per butir," cerita Efrizal.
Sehingga petani nanas Subang tidak perlu khawatir tentang pasar buah yang diusahakannya. Tak perlu pasar luar, cukup penuhi domestik bisa dirasakan sendiri keuntungannya oleh mereka.