Sabtu, 17 Agustus 2019


Makin Tertarik, Timor Leste Siap Tambah Impor Unggas

10 Apr 2019, 16:14 WIBEditor : Yulianto

Direktur Jenderal Peternakan RDTL, Domingos Gusmao (kiri) bersama Dirjen PKH, I Ketut Diarmita | Sumber Foto:Humas Kementan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia untuk produk peternakan ke Timor Leste mencapai 9,5 juta dollar AS pada tahun 2018

TABLOIDSINARTANI.COM, Surabaya--- Pemerintah Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) menyatakan siap untuk menambah impor produk unggas dari Indonesia. Hal ini berdasarkan impor Day Old Chicks (DOC) Final Stock (FS) yang sudah berjalan dengan baik.

Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Peternakan RDTL, Domingos Gusmao yang menyampaikan ketertarikannya meningkatkan impor komoditi unggas, olahan ayam, dan pakan ternak dari Indonesia. “Saat ini kami telah menyetujui usulan penambahan impor dari unit usaha lain dari Indonesia yang dimulai dengan kegiatan IRA pada 8 hingga 12 April 2019 untuk komoditi unggas PT. Japfa Comfeed Indonesia," ujarnya saat entry meeting IRA di Surabaya, Senin (8/4).

Selain dihadiri Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, IRA juga dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur beserta jajaran Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Badan Karantina Pertanian, dan wakil managemen PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk.

Delegasi dari RDTL terdiri dari Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Mr Domingos Gusmao; Direktur Kesehatan Hewan Mrs Joanita Bendita da Costa, Direktur Karantina dan Biosekuriti Mr Venacio Oliviera dan Kepala Departemen Pakan Hijauan dan Nutrisi Hewan, Mr Mario J. Morais serta tiga orang pelaku usaha dari RDTL.

RDTL merupakan negara tetangga yang sangat dekat dengan Indonesia secara historis dan geografis. Perbatasan darat antara RDTL dan Indonesia, menjadi salah satu faktor yang memperlancar terjadinya hubungan perdagangan antara kedua negara.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia untuk produk peternakan ke Timor Leste mencapai 9,5 juta dollar AS pada tahun 2018. Nilai ekspor tersebut masih dapat berkembang dengan diversifikasi produk yang diekspor dan meningkatnya minat serta kepercayaan RDTL terhadap produk Indonesia.

Direktur Animal Health & Laboratory Services PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Teguh Y. Prayitno menambahkan, jika proses IRA berjalan lancar dengan dibukanya pasar ekspor bagi produk PT. Japfa Comfeed Indonesia, maka DOC yang akan dikirimkan nantinya berasal dari unit breeding Parent Stock Grati I Pasuruan dan penetasan telur Baturiti Tabanan Bali. Sedangkan ekspor pakan akan berasal dari pabrik Sidoarjo dan karkas ayam berasal dari RPA Ciomas Krian, Sidoarjo.

Sejauh ini kami sudah mengekspor 3.9 juta butir Hatching Egg Parent Stock Broiler ke Myanmar sejak tahun 2015. Rencana ekspor di tahun mendatang adalah ke Banglades berupa DOC, Brunei, Pakistan dan Vietnam berupa Hatching Egg,” kata Teguh

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Heru Tjahjono yang mewakili Gubernur Provinsi Jawa Timur menyambut baik pelaksanaan Import Risk Analysis oleh Delegasi RDTL pada unit usaha industri perunggasan di wilayahnya. Potensi komoditi perunggasan termasuk pakan ternak di Jawa Timur sangat besar.

“Saya mengapresiasi Kementerian Pertanian dan stakeholder terkait yang turut berkontribusi terhadap rencana ekspor komoditi unggas dan pakan ternak dari unit usaha di Provinsi Jawa Timur ini,” tutur Heru.

Pelaksanaan IRA oleh Delegasi RDTL terhadap unit usaha PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, diakui Domingos sebagai salah satu hasil tindak lanjut dari kerjasama Government to Government antara Republik Indonesia dan RDTL. Demikian juga untuk keberhasilan Indonesia melaksanakan kompartemen bebas AI sehingga memenuhi persyaratan perdagangan internasional.

Kerjasama bidang pembangunan pertanian termasuk peternakan antara kedua negara telah dimulai dengan penandatanganan MoU antara Menteri Pertanian Indonesia dengan Menteri Pertanian dan Perikanan RDTL pada 26 Agustus 2015. Selanjutnya ditindaklanjuti dengan Technical Agreement yang ditandatangani Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan antara kedua negara pada 19 April 2018.

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018