Senin, 19 Agustus 2019


Dari Benih Bunga Sampai Kangkung, Kian Prospektif di Pasar Asia dan Eropa

25 Jun 2019, 18:23 WIBEditor : Gesha

Benih sayuran dan bunga dari Indonesia tak hanya untuk memenuhi pasar domestik saja tetapi juga internasional | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

"Karena kami dapat pesanan dari luar kemudian dilakukan pembenihan di sini kemudain diekspor. Contohnya, benih bunga yang sudah banyak diekspor ke Eropa. Kalau sayur yang paling banyak adalah kangkung,” papar Ricky.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Bisnis benih hortikultura, tanaman pangan maupun perkebunan hingga saat ini masih prospektif. Bahkan, pasar benih tak hanya diminati di dalam negeri. Tapi, sejumlah benih sayur dan hortikultura saat ini sudah diekspor sampai ke Eropa.

Ketua Umum Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) Ricky Gunawan mengatakan, benih yang diproduksi 70 anggota Asbenindo juga tak ada masalah.

Sebab, produk benih hortikultura sebagian sudah swasembada. Sedangkan sebagian produk benih lainnya seperti jagung sudah swasembada. 

“Kalau yang sudah swasembada, tak perlu ekspor. Sedangkan yang belum ada boleh impor sesuai aturan Kementerian Pertanian (Kementan),” kata Ricky Gunawan, di sela Halal Bihalal bertema Asbenindo Berkomitmen Meningkatkan Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura , di Jakarta (25/6).

Menurut Ricky, prospek bisnis perbenihan di tanah air cukup bagus. Sebab, ada beberapa benih yang sudah diekspor.

"Karena kami dapat pesanan dari luar kemudian  dilakukan pembenihan di sini kemudain diekspor. Contohnya, benih bunga yang sudah banyak diekspor ke Eropa. Kalau sayur yang paling banyak adalah kangkung,” papar Ricky.

Selain kangkung, menurut Ricky, ada sejumlah produk benih hortikultura lainnya yang sudah diekspor, seperti paprika.

“Kalau sayuran banyak diekspor ke China, dan kami ke depan akan mengarahkan ekspor produk benih ke sejumlah negara Asean dan China,” ujar Ricky.

Ricky juga menjelaskan, ekspor benih bunga ke Eropa dan sayuran (seperti kangngkung,red) sudah dilakukan sejumlah anggota Asbenindo lebih dari lima tahun lalu.

Karena prospeknya cukup bagus, sebanyak 70 perusahaan perbenihan anggota Asbenindo diharapkan terus mempertahankan produk benih berkualitas yang dihasilkan. "Ada sekitar 20 persen dari anggota Asbenindo yang sudah memenuhi pasar ekspor.  Selain ekspor, mereka juga tetap komitmen untuk memenuhi kebutuhan benih di dalam negeri,” ujarnya.

Asbenindo yang berdiri sejak tahun 1991 juga mendorong perusahaan perbenihan untuk selalu meningkatkan kualitas produknya. Sebab, dengan meningkatkan kualitas produksinya, mereka akan mampu bersaing di pasar bebas.

Guna meningkatkan kualitas produk benih yang dihasilkan, lanjut Ricky, Asbenindo akan melakukan kerjasama dengan Badan Litbang Pertanian untuk melakukan riset bersama.

Mengingat, tak semua perusahaan perbenihan yang tergabung di dalam Asbenindo memiliki fasilitas riset. Sebab, untuk membangun lab sendiri biayanya mahal.

Tak heran, apabila hanya sejumlah perusahaan besar swasta/multinasional dan BUMN saja yang punya fasilitas riset. 

“Kalau kami hitung, hanya sekitar 10 perusahaan anggota Asbenindo yang punya fasilitas riset. Karena itu, untuk menyelesaikan masalah ini, kami perlu kerjasama dengan Badan Litbang Pertanian. Kalau kami meginginkan varietas baru, bisa dilakukan riset bareng-bareng,” pungkas Ricky. (

 

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018