Friday, 18 June 2021


Mekanisasi dan Daya Tarik Kaum Milenial

08 Jun 2021, 12:45 WIBEditor : Yulianto

Mekanisasi dan milenial | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah kini mendorong modernisasi pertanian melalui mekanisasi pertanian. Mekanisasi perlu diterapkan untuk mengantisipasi penyusutan jumlah petani. Tapi di sisi memberikan daya tarik bagi generasi muda terjun ke dunia pertanian.

Harus diakui, sektor pertanian selama ini dianggap kumuh dan miskin, sehingga tidak menarik bagi generasi muda. Apalagi pertanian masih mengandalkan cara konvensional yang mengakibatkan biaya produksi pertanian mahal, sehingga berdampak pada keuntungan petani.

Karena itu mekanisasi menjadi sangat penting untuk menarik minat generasi muda ke sektor pertanian. Dengan mekanisasi juga akan menurunkan biaya produksi, meningkatkan produktivitas serta efisiensi tenaga kerja dan waktu. Penggunaan alat mesin pertanian terbukti mampu menekan biaya produksi dan mampu meningkatkan nilai tambah petani.

Bantuan Alsintan

Upaya mendorong penggunaan alsintan di petani, sejak tahun 2015, Kementan telah melakukan perubahan kebijakan dalam alokasi belanja pertanian dengan mendistribusikan ribuan alsintan. Hingga 2019, pemerintah telah menginvestasikan sebanyak Rp 12,5 triliun untuk pengadaan alsintan.

Total yang telah terdistribusi ke petani sebanyak 463.009 unit alsintan pra panen. Dengan rincian traktor roda dua (TR2) 140.308 unit, traktor roda empat (TR4) 11.118 unit, pompa air 107.633 unit, rice transplater atau alat tanam 19.966 unit, cultivator 13.735 unit, excavator mini 453 unit, excavator standar 416 unit, handsprayer 154.166 unit, implement alat tanam jagung 1.940 unit, combine harvester dan beberapa unit alsintan lainnya.

Bukti mekanisasi memberikan keuntungan bagi petani adalah penggunaan Traktor Roda 2 (TR2) untuk pengolahan tanah. Jika secara konvensional atau manual, maka untuk menggarap lahan seluas 1 ha dibutuhkan setidaknya 320-400 jam atau sekitar 2 minggu, dengan estimasi biaya sekitar Rp 2 juta/ha. Sebaliknya dengan TR2 bisa digarap hanya dalam tempo 4-16 jam dengan biaya Rp 1,2 juta.

Begitu juga dengan penanaman padi menggunakan rice transplanter. Petani hanya memerlukan waktu 3-6 jam/ha dengan biaya Rp 600 ribu. Bandingkan dengan sistem tanam manual membutuhkan waktu sampai 200 jam atau seminggu.

Saat panen padi, menggunakan combine harvester hanya perlu waktu 2-5 jam/ha. Sementara jika secara konvesional dikerjakan petani hingga berminggu-minggu. Bahkan, dengan bantuan combine harvester dapat mengurangi tingkat kehilangan gabah, sehingga terjadi peningkatan nilai tambah sekitar Rp 14 triliun yang diterima petani.

Selanjutnya saat mengeringkan gabah. Jika petani menggunakan mesin pengering, maka rendemannya menjadi baik, gabah utuhnya juga lebih besar dibandingkan gabah rusaknya. Jadi efisiensinya bisa 40 persen.

Penggunaan alsintan ternyata akan memberikan keuntungan. Dengan berbagai keuntungan itu, mengundang generasi muda mulai beralih ke sektor pertanian. Bukan hanya kenaikan produktifitas, tapi menurunnya biaya produksi, berkurangnya susut pasca panen.

Tenaga kerja dan waktu juga lebih efisien.  Misalnya, petani yang biasanya tanam sekali setahun, dengan alsintan bisa dua sampai tiga kali. Penggunaan alsintan ini secara signifikan berdampak pada kenaikan harga yang diterima petani, sehingga bisa mengangkat status petani. Terlihat kini Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) tetap naik.

Pemberian bantuan alsintan ternyata mengangkat level mekanisasi Indonesia. Sebarapa terangkatnya? Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Hendy Fitriandoyo
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018