Sunday, 24 October 2021


Mengapa Desiminasi Padi Hibrida Tak Berjalan Mulus?

18 Sep 2021, 12:52 WIBEditor : Yulianto

Dempfarm padi hibrida di Sukamandi | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Peningkatan produksi padi menjadi persoalan yang terus bergulir dari tahun ke tahun, bahkan dari era pemerintahan ke era pemerintahan berikutnya. Bahkan menjadi pekerjaan rumah (PR) yang hingga kini belum bisa terselesaikan dengan baik.

Apalagi tantangan peningkatan produksi kini kian berat, dari mulai kondisi iklim yang kian sulit diprediksi, makin menyusutnya lahan pertanian, dan kondisi lahan pertanian yang ‘sakit’. Dalam upaya menjaga produksi pangan, khususny padi, berbagai inovasi teknologi, baik sistem budidaya hingga varietas unggul baru sudah banyak diperkenalkan ke masyarakat, khususnya petani.

Namun faktanya, tak mudah untuk bisa kembali mencapai swasembada pangan. Data BPS angka tetap produksi padi di Indonesia tahun 2020 sebesar 54,65 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah itu naik 0,08%  dibandingkan dengan 2019 yang sebesar 54,60 juta ton GKG.

Salah satu teknolgi yang sudah cukup lama, bahkan hampir 20 tahun diperkenalkan dan mampu meningkatkan produksi padi adalah padi hibrida. Pertanyaannya mengapa respon masyarakat, khususnya petani sangat rendah dalam mengadopsi padi hibrida?

Sementara di negara tetangga rata-rata 90 persen petani mereka sudah menggunakan benih padi hibrida. Di Indonesia dengan luas tanam lebih dari 10 juta ha, baru sekitar 100-2000 ribu ha petani yang menanam padi hibrida. Padahal awal tahun 2000 sudah dicanangkan penanaman padi hibrida 1 jt ha.

Padahal sudah terbukti padi hibrida diyakini mampu menaikan produktivitas minimal 2 ton/ha. Artinya, jika ingin menaikkan produksi, maka solusinya adalah menggunakan padi hibrida. Kalkulasinya, dengan lahan 1 juta hektar (ha) dalam 2 musim tanam (MT), akan ada tambahan produksi 4 juta ton. Itu luar biasa kalau Indonesia fokus mengembangkan padi hibrida.

Dengan kondisi seperti ini, seharusnya tidak sulit bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi padi. Pertanyaannya lagi, ada apa dengan Indonesia? Padahal pencanangan penggunaan varietas hibrida di Indonesia sudah 20 tahun lalu. Namun perkembangannya sangat memprihatinkan.

Kondisi Petani

Ada beberapa hal mengapa proses desiminasi padi hibrida di Indonesia kurang berjalan dengan baik. Prinsif dasar desiminasi dan adopsi inovasi yang pertama adalah awerness. Seperti diketahui banyak petani yang sudah mendengar dan mengetahui padi hibrida. Namun pertanyaannya? Apakah petani ada minat atau interest untuk menanam padi hibrida? Mungkin ada yang berminat dan sudah mencoba. Ada yang berhasil, namun mungkin ada yang gagal.

Bagi petani yang berhasil, biasanya petani akan mengadopsi, tapi luasan tidak lebih dari 200 ribu ha. Jika dibandingkan luas tanam di Indonesia, maka sangat kecil. Kemudian bagaimana petani selanjutnya mereflikasi. Biasanya jika petani sudah mengadopsi, maka akan mereflikasi. Artinya, tahapan proses adopsi sebuah teknologi masih sangat relevan, meski hal tersebut merupakan ilmu dasar penyuluhan.

Setidaknya ada filosopi adopsi inovasi yang hingga kini masih dianggap relevan. Dalam bahasa Sunda Kareungeu yakni petani mendengar ada padi hibrida. Namun hal itu tidak cukup harus Kadeuleu yakni melihat bahwa menanam padi itu ternyata tidak sulit dan hasilnya bagus. Selanjutnya Karaba (terpegang) dan Karasa (terasa) manfaat keuntungannya.

Filosopi itu masih bisa diterapkan hingga kini. Apalagi dengan era digital saat ini, petani akan makin mudah dalam mengetahui inovasi teknologi, khusus filosopi Kareungeu dan Kadeuleu. Mungkin belum sampai pada Karaba dan Karasa. Jadi tahapan ini mesti mendapat perhatian semua pihak.

Dalam proses penyuluhan sebuah inovasi teknologi, hal lain yang perlu mendapat perhatian adalahtarget grup. Ada petani inovator yakni petani yang mencari teknologi, early adopter (penerap awal, biasanya petani maju) dan petani adopter.

Namun kebanyakan di Indonesia adalah late major (penerap akhir). Lebih parah lagi, petani lagard yang jumlahnya mencapai 20 persen. Di Indonesia, petani yang menentang terhadap teknologi baru masih ada. Jika ada dalam satu kelompok, maka biasanya petani lagard akan terbawa dengan petani yang maju. Untuk padi hibrida, petani Indonesia masih masuk dalam kategori late major.

Bisa juga dikatakan, kategori petani di Indonesia ada yang peniru yakni petani yang mengikut saja dengan sekitarnya. Ada juga penggugu yakni petani pendengar dan mau melaksanakan apa yang disuluhkan kepada mereka. Ada juga pemburu, biasanya petani maju yang mau memburu teknologi untuk kemajuan. Terakhir, pengempu yakni petani yang mengajarkan ke petani lainnya. Karena itu, kondisi petani ini tidak bisa diabaikan.

Demfarm atau pilot project

Dalam kegiatan demfarm atau pilot project seharusnya prinsif yang dipegang bukan trial and error, tapi trial and succes. Kata kuncinya adalah farmer fild day (FFD). Jadi dalam demplot atau demfarm harus ada FFD yang pelaksanaannya saat aplikasi teknologi.

Misalnya untuk desiminasi padi hibrida, maka mulai dari seed treatment, persemaian, pengolahan tanah, saat tanam hingga panen menjadi keharusan dihadiri petani. Bahkan di era digital, semua pelaksanaan demfarm tersebut harus terdokumentasikan, bukan hanya dalam foto, tapi bisa video. Jadi akan percuma jika tahapan tersebut tidak terdokumentasikan.

Sebagai salah satu metode penyuluhan yang efektif, setiap aplikasi inovasi dalam demfarm harus didokumentasikan dan dipublikasikan dangan menarik. Dengan demikian, demfarm ini tadak hanya bagus untuk ditonton, tetapi menjadi tuntunan bagi penyuluh dan petani.

Jangan sampai kemudian demfarm ini hanya menjadi menara gading, tapi seharusnya menjadi acuan dan rujukan berusahatani padi hibrida yang mudah diterapkan petani. Karena itu, setiap aplikasi inovasi teknologi perlu terdokumentasikan dengan baik. Namun semua pihak, baik pemerintah dan peneliti juga mendukung perkembangan padi hibrida. 

 

Reporter : Mulyono Machmur
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018