Sunday, 24 October 2021


Rahasia di Balik Demplot  

18 Sep 2021, 13:07 WIBEditor : Yulianto

Petani di lahan demplot | Sumber Foto:Dok.Sinta

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Mendengar aku lupa. Melihat aku ingat. Melakukan aku bisa. Ini barangkali moto paling kuat yang jadi pegangan dalam mempelajari sesuatu. Begitu juga dalam penyuluhan. Penyuluhan pasti memberi informasi tapi itu tidak cukup. Penyuluhan harus menunjukkan bukti dan akhirnya memberikan pengalaman kepada petani untuk melakukan sehingga mereka bisa. 

Mereka diberitahu, diperlihatkan contoh dan diajak untuk mencoba melakukan sampai mereka bisa melakukan sendiri. Tapi tunggu dulu, BISA itu belum tentu MAU. Oleh karena itu mereka harus diberikan kemudahan  dan kebijakan yang menunjang agar mereka mendapat manfaat lebih, sehingga adopsi teknologinya meledak. 

Keterkaitan Penelitian dan Penyuluhan memang bukan omong kosong. Informasi dan materi penyuluhan tidak lepas dari produk penelitian yang sudah teruji baik di Laboratorium, Rumah Kaca maupun Uji Lapangan. Dua yang pertama dilakukan dalam kondisi lingkungan, air, kelembaban, temperatur dan hama/penyakit yang terkontrol,  dan yang ketiga merupakan uji adaptasi teknologi terhadap kondisi riel di lapangan, walaupun biasanya masih dalam kondisi dan proteksi ideal tanpa berhitung untung rugi.  Inilah yang dipertontonkan ke masyarakat.

Cukupkah itu untuk mengajak petani menggunakan teknologi? Tentu saja belum cukup. Indikator keberhasilan penyuluhan bukan dari tampilan pertanaman subur dan produktivitas tinggi di lahan percontohan, tetapi apabila petani mau menggunakan teknologi tersebut.

Demplot atau demfarm harus memberi pengalaman kepada petani dalam kondisi sebenarnya. Mereka harus terlibat melakukan agar mereka bisa. Oleh karena itu biasanya demplot dilakukan di lahan petani dan petani ikut terlibat dalam pelaksanannya. Merekalah yang melakukan kegiatan di lapangan di bawah bimbingan, dengan menggunakan semua sarana produksi yang diperlukan.  

Demplot yang dibicarakan kali ini adalah tentang demplot padi hibrida yang menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan, sebenarnya sudah dicanangkan pada tahun 2000 seluas 1 juta hektare. Tapi sampai sekarang luas sawah yang ditanam padi hibrida hanya sekitar 100 ribu hektare, padahal di negara tetangga, Thailand, 90 persen petani sudah menggunakan padi hibrida.

Lagi-lagi, promosi padi hibrida pun, seperti halnya promosi yang lain, memang tidak cukup dengan memperlihatkan tampilan demplot yang baik dan subur secara fisik. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan petani, terutama ketersediaan benih, sarana produksi dan harga, baik harga sarana produksi maupun hasilnya. Ujung-ujungnya keuntungan menjadi faktor yang menentukan.  Apalagi benih padi hibrida harganya cukup tinggi dan harus diganti setiap akan tanam baru. Kondisinya harus kondusif bagi petani dari hulu sampai hilir. 

Padi hibrida sudah waktunya menjadi andalan dan petani memperoleh hasil yang terbaik, yang produktivitas dan untungnya tinggi sehingga hidupnya lebih sejahtera. Kita juga menghadapi era tanaman GMO (Genetically Modified Organism) yang baru-baru ini penggunaannya sudah mendapat lampu hijau, walaupun konsumsi produk GMO asal impor sudah berlangsung cukup lama.

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018