
Riza dan Mocaf
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Singkong selama ini menjadi produk pangan yang kerap terpinggirkan dan inperior. Padahal potensi pasar singkong, termasuk produk olahannya cukup besar. Bahkan jika serius, bangsa Indonesia bisa menggoyang dunia dengan singkong.
“Mari kita menggoyang dunia dengan singkong. Kita majukan singkong. Jika dulu singkong dianggap inperior, kita balik menjadi barang superior. Kita gerakkan bahwa kenyang tidak harus nasi,” kata Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi saat webinar Mengenal Lebih Dekat dengan Singkong, Sabtu (3/7).
Ada beberapa langkah dan strategi yang pemerintah ambil. Pertama, mendesain market driven-nya. Bagaimana singkong menjadi pangan yang luar biasa. “Mari kita tangani sisi konsumsinya dan hilirnya,” katanya.
Kedua, bagaimana menjadi singkong sebagai life style dan cocok untuk kalangan milenial dan sebagai tren baru. Untuk itu, Suwandi berharap, pelaku usaha bisa membuat produk pangan singkong dengan kemasan yang menarik.
Ketiga, gerakan mengonsumi pangan lokal. Misalnya, menjadikan pangan lokal, termasuk singkong menjadi bagian menu di hotel, restauran dan katering (horeka). Di Bali, sudah ada paraturan gubernur untuk memprioritaskan pangan lokal sebanyak 30 persen untuk hotel, sedangkan restauran dan katering 60 persennya pangan lokal.
Selain itu, Suwandi juga menegaskan, dalam rapat dan pertemuan di Kementerian Pertanian, khususnya di Ditjen Tanaman Pangan, diwajibkan menyediakan pangan lokal. “Kita mengharapkan juga ada lomba pangan lokal, lalu dibuat branding yang bagus untuk pemenangnya. Perguruan tinggi juga bisa membuat branding pangan lokal,” pintanya.
BACA JUGA:
- Serba-Manfaat-Singkong-bukan-lagi-Pangan-Inferior
- Legitnya-Tape-Ketan-Daun-Jambu-Ibu-Dasiti-dari-Kota-Udang
Petakan sentra produksi
Sementara itu untuk mendorong peningkatan produksi, Suwandi menjelaskan, pihaknya telah membuat peta (mapping) sentra produksi singkong, bagaimana kemitraan yang kecil dan besar. Sentra di Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan sampai ke NTT.
Data Ditjen Tanaman Pangan, luas areal penanaman singkong tahun 2019 sebesar 628.305 ha dan produksi sebanyak 16,35 juta ton. Program pengembangan tahun 2020 seluas 11.175 ha. “Posisi sentra produksi dan pengembangan diversifikasi kita sudah mapping semua. Ada di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, bahkan tidak hanya singkong, tapi juga pangan lokal lainnya,” tuturnya.
Suwandi mengapresiasi pelaku usaha yang sudah membuat kemitraan dengan petani di Lampung Utara dan Lampung Tengah. Luasan budidaya singkong mencapai 50 ribu ha dan petani dibeli dengan harga flat Rp 1.500/kg.
Sementara itu Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), Arifin Lembaga mengatakan, pihaknya juga sudah merancang program wilayah yang akan menjadi sumber pangan berbasis lokal. Di wilayah itu akan didorong agar pangan lokal dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.
“Kita juga buat program menumbuhkan demand produk olahan singkong agar meningkatkan kebutuhan dan nilai jualnya dari petani ke produsen pengolahan. Kami MSI akan membantu dalam penyerapannya,” katanya.
Misalnya, ungkap Arifin, di wilayah sentra produksi singkong, masyarakatnya atau petani diajarkan mengolah menjadi Mocaf (modified cassava flour). MISI juga akan menyampaikan ke Pemda agar membangun sarana penampungan untuk food secutry.
“Jika terjadi masalah distribusi pangan di wilayahnya, masyarakat bisa mengonsumsi singkong yang telah diolah. Semoga program ini bisa berjalan dengan dukungan pemerintah,” katanya.