
Gerdal Tikus di Subang
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Tikus sawah dengan nama Ratus argentiventer menjadi hama tanaman padi yang sulit diatasi. Kecepatan perkembangbiakannya dan dampak merusak yang tinggi pada tanaman membuatnya menjadi ancaman konstan bagi pertanian.
Parahnya, serangan tikus ini tak hanya terjadi pada sejak mulai pertanaman hingga masa panen, sehingga menyebabkan kerusakan tanaman yang signifikan. Berbagai cara pun dilakukan petani untuk mengatasi hama pengerat tersebut. Paling penting yang perlu petani lakukan adalah manajemen hama tikus.
Dosen Proteksi Tanaman IPB University, Swastiko Priyambodo mengungkapkan, tikus telah menjadi hama padi sejak zaman dahulu. Bahkan dalam relief Candi Borobudur, tergambarkan hama tersebut. Terdapat beberapa spesies tikus yang biasa dikenal dan menjadi hama, serta sumber penyakit (reservoir) bagi manusia. Diantaranya, tikus rumah (Rattus tanezumi), tikus pohon (Rattus tiomanicus), tikus sawah (Rattus argentiventer), tikus got (Rattus norvegicus), dan tikus ladang (Rattus exulans).
Pakar rodensia IPB University mengatakan, keberadaan tikus dapat dicegah dan diatasi dengan beberapa cara. Pengendalian tikus pada suatu habitat dapat dilakukan melalui pendekatan pengelolaan tikus terpadu (integrated rodent management) yang dilakukan secara kontinyu dan konsisten. Dari mulai pengelolaan sanitasi dengan program pembersihan lingkungan secara rutin hingga pengendalian kimiawi atau rodentisida.
“Pemberian bahan kimia racun dapat mematikan ataupun mengganggu aktivitas tikus dalam makan, minum, kopulasi, dan reproduksi,” tambahnya. Pengendalian kimia ungkap Swastiko juga dapat menggunakan teknik fumigasi, bahan kimia penolak dan pemandul tikus. Termasuk menggunakan patogen tikus seperti virus, bakteri, nematoda, cacing pita dan protozoa yang dapat menganggu proses fisiologis hingga membunuh tikus.
“Manajemen tikus tanpa bahan kimia beracun sering kali melibatkan protozoa, namun penerapannya di lapangan seringkali kompleks dan mahal,” ujarnya. Meskipun efektif, Swastiko menilai, metode ini terkadang kalah bersaing dengan rodentisida kimia yang lebih terjangkau dan mudah ditemukan.
Sebaliknya, penggunaan rodentisida non-toksik seperti Rodol dari hasil uji coba di IPB University kurang efektif, karena kurang diminati tikus. Umumnya, menurut Swastiko, petani menggunakan rodentisida sebagai umpan beracun, bahkan mengkreasikan dari tumbuhan beracun.
Meski memberikan dukungan kreasi petani ini, ia menilai cara ini juga tetap tidak efektif. Bahkan ia mengimbau agar petani tetap waspada terhadap rodentisida ilegal, yang sangat toksik dan berbahaya bagi konsumen dan petani. “Meskipun harganya murah dan terbukti ampuh, penggunaan sembarangan sebaiknya dihindari,” tegasnya.
Perlu menajemen tikus untuk mengatasi hama tersebut. Seperti apa? Baca halaman selanjutnya.