Wednesday, 21 October 2026


Kualitas Gizi MBG Jadi Harga Mati, Sudaryono Tak Ragu Tutup SPPG yang Bandel

27 Jul 2026, 18:33 WIBEditor : Gesha

Kepala BGN Sudaryono menegaskan kualitas gizi adalah harga mati dalam program MBG. SPPG yang membandel dan tak memenuhi standar harus siap ditutup permanen.

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA – Kepala BGN Sudaryono menegaskan kualitas gizi adalah harga mati dalam program MBG. SPPG yang membandel dan tak memenuhi standar harus siap ditutup permanen.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan kualitas gizi menjadi tolok ukur utama dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Karena itu, pemerintah tidak akan memberi toleransi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang mengabaikan standar keamanan pangan, higienitas, sanitasi, maupun mutu gizi.

Penegasan itu disampaikan Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta, Senin (27/7/2026). 

Menurutnya, esensi Program MBG bukan sekadar membagikan makanan kepada masyarakat, tetapi memastikan setiap penerima manfaat memperoleh asupan gizi yang berkualitas sesuai standar yang ditetapkan.

"Sekali lagi ini namanya Makan Bergizi Gratis, bukan makan enak gratis, bukan makan banyak gratis. Mencukupkan gizinya lah yang menjadi tolok ukurnya. Kami ingin menunya tersaji baik, gizinya terpenuhi, dan perputaran ekonomi lokal juga jalan," tegas Sudaryono.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa BGN mulai memperketat pengawasan terhadap seluruh dapur MBG di Indonesia.

Sudaryono menegaskan pihaknya tengah melakukan pembenahan menyeluruh agar pelaksanaan program strategis nasional itu tidak tercoreng oleh pengelola yang mengabaikan standar operasional.

"Kami mencoba untuk bersih-bersih, kami mencoba untuk kemudian yang melanggar kami berikan sanksi," ujarnya.

Sebagai bentuk ketegasan, BGN telah menutup 833 SPPG secara permanen. 

Penutupan dilakukan setelah dapur-dapur tersebut terbukti tidak memenuhi standar meski telah diberikan kesempatan untuk melakukan perbaikan.

Menurut Sudaryono, berbagai pelanggaran masih ditemukan di lapangan, mulai dari persoalan higienitas, sanitasi, kualitas makanan yang tidak memenuhi standar, kasus keracunan pangan, hingga belum tersedianya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang layak.

"Terkait higienis, sanitasi, keracunan, kemudian kualitas yang tidak baik, tidak memenuhi standar yang kita inginkan. Kemudian IPAL-nya," katanya.

Ia menjelaskan, penutupan permanen bukan keputusan yang diambil secara tiba-tiba. 

Seluruh SPPG yang bermasalah terlebih dahulu diberikan evaluasi dan tenggat waktu untuk memperbaiki kekurangan. 

Namun, apabila tidak menunjukkan perubahan, operasional dapur langsung dihentikan.

"Kami kasih tenggat waktu untuk diperbaiki tapi tidak diperbaiki, maka kami suspend secara permanen," ujar Sudaryono.

Data BGN menunjukkan Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok rentan lainnya. 

Dalam pelaksanaannya, setiap SPPG diwajibkan memenuhi standar keamanan pangan, mutu gizi, kebersihan, serta tata kelola operasional agar makanan yang disalurkan benar-benar aman dikonsumsi.

Meski ratusan dapur ditutup, Sudaryono memastikan layanan kepada penerima manfaat tidak akan terganggu. 

BGN telah menyiapkan skema pengalihan distribusi ke SPPG lain yang berada di sekitar lokasi sehingga seluruh penerima manfaat tetap memperoleh makanan bergizi sesuai jadwal.

"Kami memastikan jangan sampai yang tadinya menerima manfaat jadi tidak menerima. Begitu di-suspend, secara otomatis kami akan membagi porsi layanan kepada dapur-dapur lain di sekitar situ," katanya.

Sikap tegas tersebut merupakan kelanjutan dari komitmen Sudaryono sejak dilantik sebagai Kepala BGN pada pekan lalu. 

Saat itu, ia telah mengingatkan seluruh pengelola SPPG bahwa pemerintah tidak akan ragu menghentikan operasional dapur yang terus mengabaikan standar.

"Apabila tetap tidak menunjukkan perbaikan, operasionalnya akan dihentikan," ujar Sudaryono.

Ia juga mengingatkan seluruh pengelola SPPG agar tidak menganggap remeh standar yang telah ditetapkan pemerintah. 

Menurutnya, satu dapur yang bermasalah dapat merusak kepercayaan publik terhadap Program MBG yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto.

"Jangan sampai nila setitik, kemudian rusak susu sebelanga," tegasnya.

Ke depan, BGN akan menerapkan sistem reward and punishment terhadap seluruh SPPG. 

Dapur yang mampu menjaga kualitas pelayanan, keamanan pangan, dan mutu gizi akan diberikan apresiasi. 

Sebaliknya, pengelola yang tetap membandel akan dikenai sanksi tegas hingga penutupan permanen. 

Langkah ini dilakukan untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya menjangkau jutaan penerima manfaat, tetapi juga benar-benar memberikan manfaat gizi yang aman, sehat, dan berkualitas bagi masyarakat.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018