Tuesday, 20 October 2026


BBPP Ketindan Gelar Pelatihan Pembuatan Pestisida Nabati dari Tanaman Obat

12 May 2022, 10:58 WIBEditor : Yulianto

Pelatihan pembuatan pestisida nabati dari tanaman obat

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Salah satu program Kementerian Pertanian yang saat ini telah berjalan adalah Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks). Program ini diluncurkan untuk meningkatkan produksi dalam negeri serta meningkatkan daya saing di pasar internasional.

Program ini dicanangkan sebagai upaya keras peningkatan volume ekspor. Selain itu, hal ini dalam rangka megoptimalkan sumber daya yang kita miliki untuk mengurangi impor komoditas pertanian.

Banyak peraturan baru melibatkan persyaratan untuk kontrol proses seperti sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yang merupakan pendekatan untuk pencegahan, pemantauan, dan pengendalian bahaya yang dapat diterapkan untuk setiap proses produksi.

Hal itu menjadi tantangan sekaligus hambatan bagi negara eksportir. sehingga dibutuhkan alternatif pengendalian Organisme Penggangu Tumbuhan (OPT) yang ramah lingkungan. Salah satunya dengan memanfaatkan plasma nutfah dan tanaman yang berpotensi sebagai biofarmaka.

Tanaman dapat berfungsi sebagai obat bagi manusia, ternyata dapat juga menjadi obat bagi tanaman yang terserang OPT. Tanaman obat tersebut dapat berfungsi sebagai bakterisida, fungisida moluskisida dan insektisida atau sebagai pestisida organik.

Banyaknya manfaat dari tanaman obat tersebut mendorong upaya untuk menyebarluaskan informasi ini, sekaligus mentransfer teknologi tepat guna. Terutama dalam mengolah dan memanfaatkannya sesuai fungsi tersebut agar produk pertanian layak ekspor dan rendah residu kimia.

Untuk membantuk petani dalam mengatasi OPT dengan ramah lingkungan, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan meningkatkan kompetensi dan pengetahuan petani dengan menggunakan pestisida nabati. Kegiatan ini dilaksanakan melalui pelatihan tanaman obat sebagai pestisida yang diikuti oleh 30 orang peserta dari Provinsi Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB.

Kepala BBPP Ketindan, Sumardi Noor mengatakan, petani harus mengusai ilmu yang diberikan widyaiswara dan narasumber pada pelatihan ini. Materi-materi yang disampaikan sangat berbobot, sehingga sangat memberi manfaat bagi petani apalagi untuk komoditas ekspor.

Materi yang disampaikan antara lain teknik produksi tanaman obat, pengenalan tanaman obat sebagai pestisida, teknik pembuatan pestisida nabati, teknik aplikasi pestisida nabati, teknik pengemasan pestisida nabati dan Analisa usaha produksi. “Semua materi bisa diserap karena dari hulu ke hilir disampaikan pada pelatihan ini,” ujarnya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, saat ini pertanian Indonesia tengah memasuki era 4.0. Sektor pertanian terus bergerak ke arah yang maju, mandiri dan modern. Untuk itu, sumber daya manusia pertanian seperti penyuluh, petani dan para praktisi pertanian lainnya harus terus ditingkatkan untuk menerapkan inovasi teknologi pertanian.

Kunci pembangunan suatu bangsa diawali dari pembangunan SDM. “Kuncinya adalah pembangunan SDM-nya, pendidikannya, pelatihannya, penyuluhnya,” tegas Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.

Reporter : Yeniarta (BBPP Ketindan)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018