Thursday, 30 June 2022


Hadapi Perubahan iklim, BPP Kostratani Ayah Latih Petani jadi Agen CSA

18 May 2022, 10:58 WIBEditor : Yulianto

Pelatihan CSA di BPP Ayah, Cilacap | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Kebumen--- Perubahan iklim membuat cuaca menjadi sulit ditebak. Untuk itu, petani pun harus bisa mengantisipasinya. Dengan hadirnya Pertanian Cerdas Iklim (Climate Smart Agriculture/CSA) diharapkan bisa meningkatkan produktivitas tanaman dan pendapatan petani. 

CSA merupakan pendekatan yang mentransformasikan dan mengorientasikan ulang sistem produksi pertanian dengan rantai nilai pangan. Sehingga sistem produksi pertanian dan rantai nilai pangan mendukung pertanian berkelanjutan yang dapat memastikan ketahanan pangan dalam kondisi perubahan iklim.

Keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia salah satunya dicirikan melalui penerapan teknologi pertanian di tingkat petani. Tetapi saat ini, kapasitas petani dalam penerapan teknologi pertanian masih perlu ditingkatkan.

Apalagi dengan adanya dampak perubahan iklim yang saat ini semakin ekstrem. Misalnya, cuaca yang tidak menentu akibat kekeringan, hujan dengan curah tinggi serta terus menerus yang mengakibatkan banjir, ledakan hama dan penyakit bisa menyebabkan gagal panen.

Perubahan pola musim hujan dan kemarau yang semakin tidak menentu dapat mempengaruhi kegiatan budidaya tanaman, sehingga menyebabkan penurunan produktivitas, produksi dan mutu hasil pertanian. Karena itu, climate change menjadi ancaman yang sangat serius jika tidak bisa segera diantisipasi dalam dunia pertanian.

Sejalan akan hal tersebut, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kostratani Kecamatan Ayah di Kabupaten Kebumen, menyelenggarakan  Training of Farmer (TOF) Teknologi Berbasis Climate Smart Agriculture (CSA). Tujuannya untuk mempersiapkan peserta TOF sebagai agen CSA dan meningkatkan kapasitas (pengetahuan dan keterampilan) peserta TOF tentang pertanian cerdas iklim.

Peserta berasal dari 24 kelompok tani di Kecamatan Ayah. Adapun materi yang disampaikan  antara lain kebijakan Kementan dalam mendukung peningkatan ketahanan pangan, peran poktan dalam tata kelola irigasi yang bersinergi dengan P3A konsep dasar CSA.

Selain itu, penerapan CSA dalam High Value Crops, penetapan waktu tanam berdasarkan kalender tanam, pembuatan dan penggunaan pupuk organik serta MOL, penggunaan perangkat uji tanah sawah untuk menentukan pupuk dasar N,P,K, penggunaan varietas unggul adaptif padi cekaman iklim.

Petani juga diajak mengembangkan kelembagaan petani dalam mendukung penerapan teknologi CSA, penggunaan bibit muda dan tanam jajar legowo. Petani juga diajarkan bagaimana memahami emisi gas rumah kaca, teknologi irigasi Intermitten dan Alternate Wetting and Drying (AWD) di lahan, serta penerapan pengendalian OPT ramah lingkungan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pun mendorong adanya berbagai inovasi dan teknologi seperti Climate Smart Agriculture atau CSA untuk menghadapi perubahan iklim.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembanga SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi di beberapa kesempatan sering menyampaikan, akibat dari perubahan iklim ekstrem, terjadi serangan hama penyakit tanaman di mana-mana dan sehingga menyebabkan sistem produksi di sentra pangan dunia terganggu.

“Gunakan smart farming agar dapat menggenjot produksi pertanian kita. Climate Smart Agriculture  dapat menyelamatkan produksi pertanian kita,” tegas Dedi.

Koordinator BPP Kecamatan Ayah, Sugeng Haryadi berharap para peserta TOF dapat mengaplikasikan dan mentransfer ilmu yang telah diperoleh selama mengikuti ToF ini kepada petani di kelompoknya.

Reporter : Sugeng Hariyadi/ Yeniarta
Sumber : BBPP Ketindan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018