
Dari jahe hingga lengkuas, deretan tanaman obat ini tengah jadi incaran pabrik jamu dan industri herbal. Permintaannya melonjak tajam, bikin petani lokal bisa kebanjiran peluang cuan alami!
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Dari jahe hingga lengkuas, deretan tanaman obat ini tengah jadi incaran pabrik jamu dan industri herbal. Permintaannya melonjak tajam, bikin petani lokal bisa kebanjiran peluang cuan alami!
Industri jamu dan herbal Indonesia tengah menunjukkan geliat yang makin kuat. Permintaan terhadap bahan baku alami meningkat tajam, terutama dari kelompok tanaman rimpang yang sudah lama dikenal sebagai warisan obat tradisional Nusantara.
Fenomena ini terungkap dalam Workshop Herba Medika “The New Era of Downstream Processing for Herbs and Medicinal Plants” yang digelar di Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Rempah, Obat, dan Aromatik (BRMP-TROA), Selasa (11/11/2025).
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Muh Agung Sunusi, SP, M.Si, menjelaskan bahwa sepuluh jenis tanaman obat kini paling banyak diburu oleh industri dalam negeri.
Rimpang jahe emprit menempati posisi teratas dengan kebutuhan mencapai 1.901 ton per tahun, diikuti jahe merah yang dibutuhkan sekitar 864 ton.
Kencur juga masuk daftar teratas dengan 705 ton, sementara pegagan dibutuhkan 605 ton dan temulawak 483 ton.
Adas, kunyit, akar alang-alang, rimpang lempuyang emprit, serta lengkuas juga masuk dalam daftar bahan baku yang permintaannya cukup tinggi, masing-masing mencapai ratusan ton.
Agung menekankan bahwa lonjakan permintaan ini tak hanya berasal dari industri besar, tetapi juga dari UMKM yang bergerak di bidang jamu gendong, minuman rempah, dan suplemen herbal modern.
“Sejak pandemi COVID-19, kesadaran masyarakat akan pentingnya bahan alami meningkat drastis. Tren itu masih bertahan hingga sekarang,” ujarnya.
Meski potensi lokal besar, beberapa tanaman seperti adas dan pegagan masih sebagian dipenuhi dari impor karena produksi domestik belum mencukupi. Pemerintah pun mendorong petani mengembangkan tanaman obat di lahan pekarangan, kebun campuran, atau sistem tumpangsari agar pasokan dalam negeri lebih kuat.
Selain itu, Kementerian Pertanian tengah menyiapkan program kemitraan antara petani dan industri pengolah. Dengan pola kontrak tanam, industri bisa memastikan pasokan bahan baku sesuai standar, sedangkan petani mendapat kepastian pasar dan harga.
Agung menekankan bahwa kualitas menjadi kunci agar produk herbal Indonesia mampu bersaing, mulai dari kadar air, senyawa aktif, hingga cara pengeringan harus sesuai prosedur.
Ia optimistis, pengembangan tanaman obat yang serius bisa menjadikan subsektor hortikultura sebagai penggerak ekonomi hijau berbasis biodiversitas lokal.



