
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman bersama milenial saat berkunjung ke pertanian modern di Kalimantan
Kerangka pertanian modern berfokus pada pengembangan sumberdaya manusia, terutama generasi milenial. Para generasi muda nantinya berperan sebagai operator yang mengendalikan teknologi untuk bertani. Kementerian Pertanian memberikan dukungan penuh kepada generasi muda yang ingin terjun ke dunia pertanian, termasuk menyediakan seluruh perlengkapan pertanian secara gratis.
Di lokasi pertanian modern nantinya akan menempatkan generasi milenial atau petani muda di garis depan pengelolaan dan operasional pertanian. Tujuannya untuk memodernisasi sektor pertanian dan menarik minat generasi muda terjun ke dunia pertanian. Pertanyaannya sejauh mana keterlibatan petani muda?
Peran generasi milenial nantinya dilibatkan dalam seluruh aspek usaha tani mulai hulu hingga hilir, dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Untuk itu, dalam pengelolalan pertanian modern akan dilakukan peningkatan kapasitas melalui pelatihan teknis dan manajerial yang intensif.
Mentan Amran Sulaiman berharap dengan membangun pertanian modern, generasi muda bisa mendapatkan penghasilan minimal Rp 10 juta/orang/bulan. Nilai penghasilan tersebut dianggap cukup menarik bagi generasi muda. "Pendapatan yang diperoleh jauh lebih tinggi daripada gaji pegawai," tegasnya. Namun, Amran mengingatkan, pendapatan tersebut bukanlah gaji dari pemerintah, melainkan proyeksi dari usaha yang bisa diperoleh petani milenial.
Saat ini sudah ada 20 ribu pemuda yang mendaftar menjadi petani milenial. Dari jumlah itu sudah 3 ribu yang diterima untuk membantuk mencetak sawah. Nantinya generasi muda tersebut akan tergabung dalam sebuah kelembagaan yang bernam Brigade Pangan. Dalam satu Brigade Pangan itu terdiri dari 15 anak muda yang memegang satu paket bantuan yang terdiri 2 traktor roda empat, 4 hand traktor, 2 combine harvester dan 3 rice transplanter.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono menambahkan, pertanian Indonesia memang membutuhkan kontribusi besar dari petani milenial untuk mewujudkan pertanian yang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan di masa depan. Sektor pertanian Indonesia saat ini masih didominasi petani berusia lebih tua.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, sekitar 38,02% petani Indonesia termasuk dalam generasi baby boomers yang berusia antara 41-56 tahun, sementara petani muda hanya mencapai 21,93% atau sekitar 6,2 juta orang. ”Sektor pertanian memerlukan kontribusi dari kalangan anak muda yang dikenal dengan sifat inovatif, adaptif, dan kreatif. Anak muda memiliki kemampuan untuk membawa perubahan besar dalam sektor ini, terutama dengan memanfaatkan teknologi modern yang dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian,” tuturnya.
Menurutnya, peran petani milenial sangat penting dalam upaya mewujudkan swasembada pangan nasional, salah satu prioritas utama pemerintah Indonesia. Karena itu, pemerintah akan terus mendukung dan memfasilitasi para anak muda yang ingin berkarya di bidang pertanian, baik melalui akses terhadap teknologi, pelatihan, maupun kebijakan yang mendukung pengembangan sektor pertanian yang lebih modern.
Dukungan tersebut diharapkan dapat mempercepat transformasi pertanian Indonesia, menjadikannya lebih produktif dan berkelanjutan. “Dengan potensi besar yang dimiliki petani milenial, saya berharap generasi muda bisa lebih aktif terlibat dalam sektor pertanian dan berkontribusi dalam menciptakan sistem pangan yang lebih stabil dan mandiri bagi Indonesia,” tuturnya