
Penyuluh pertanian tak lagi bisa mengandalkan cara lama. Smart farming dan agribisnis kini jadi kunci
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Penyuluh pertanian tak lagi bisa mengandalkan cara lama. Smart farming dan agribisnis kini jadi kunci, mendorong produktivitas, efisiensi, serta mencetak petani modern yang siap bersaing global.
Peran penyuluh pertanian kini dituntut berubah total. Tidak lagi sekadar mendampingi petani dengan cara-cara konvensional, tetapi harus mampu mendorong transformasi pertanian modern berbasis teknologi dan bisnis.
Penyuluh Pertanian Ahli Utama, Dedi Nursyamsi, menegaskan masa depan pertanian Indonesia tak bisa lagi bergantung pada pola lama.
Menurutnya, transformasi menyeluruh menjadi kunci jika Indonesia ingin bertahan sekaligus bersaing di level global.
“Kalau kita bicara masa depan pertanian, penyuluh itu harus bisa membawa bangsa ini ke level yang lebih tinggi. Minimal swasembada berkelanjutan dulu, setelah itu baru kita bicara daya saing global,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ada tiga faktor utama yang menjadi pengungkit produktivitas pertanian nasional, yakni inovasi teknologi, regulasi dan kebijakan pemerintah, serta kualitas sumber daya manusia (SDM). Namun selama ini, perhatian kerap hanya tertuju pada teknologi semata.
“Orang sering lupa bahwa produktivitas itu bukan hanya soal teknologi. SDM dan kebijakan itu sama pentingnya,” tegasnya.
Mengacu pada sejarah, Indonesia pernah mencatat lonjakan produksi signifikan melalui program BIMAS dan INMAS pada periode 1969–1989.
Saat itu, produktivitas meningkat hingga sekitar 77 persen dengan rata-rata pertumbuhan 3,83 persen per tahun.
Namun setelah memasuki era 1990-an, tren tersebut mengalami perlambatan drastis.
“Sejak 1990-an sampai sekarang, kenaikan produktivitas kita sangat kecil, hanya sekitar 0,01 ton per hektare per tahun. Ini yang harus kita perbaiki,” jelasnya.
Indonesia sendiri pernah mencapai swasembada beras pada 1984. Tetapi menurutnya, tantangan saat ini jauh lebih kompleks.
Bukan hanya soal produksi, melainkan juga efisiensi, keberlanjutan, hingga daya saing di pasar global.
Pemerintah kini mendorong konsep swasembada pangan berkelanjutan, di mana produksi tidak hanya tinggi, tetapi juga stabil, ramah lingkungan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
Berbagai program strategis pun telah dijalankan, mulai dari perbaikan irigasi, distribusi pupuk, optimasi lahan rawa, hingga pencetakan sawah baru.
Meski demikian, Dedi Nursyamsi menilai kebijakan tersebut tidak akan maksimal tanpa perubahan di tingkat lapangan.
“Kalau hanya kebijakan tanpa perubahan di petani, hasilnya tidak akan optimal. Di sinilah peran penyuluh menjadi sangat penting,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa konsep panca usaha tani yang selama ini menjadi fondasi pertanian Indonesia tetap relevan, tetapi perlu diperkuat dengan pendekatan baru.
“Dulu kita berhasil karena panca usaha tani. Tapi sekarang harus ditambah smart farming dan agribisnis,” katanya.
Konsep smart farming menjadi salah satu kunci utama. Pendekatan ini mengintegrasikan teknologi, data, dan efisiensi dalam sistem pertanian modern.
Tidak hanya sebatas penggunaan alat digital atau internet of things (IoT), tetapi juga mencakup cara berpikir dan pengelolaan usaha tani yang lebih presisi.
Dalam praktiknya, smart farming mencakup penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), pemanfaatan produk biosains seperti varietas unggul, biofertilizer, dan biopestisida, serta digitalisasi berbasis data.
“Kita sudah punya banyak inovasi. Tinggal bagaimana kita mengimplementasikannya secara luas di lapangan,” tambahnya.
Selain itu, pendekatan agribisnis juga dinilai tak kalah penting. Petani tidak lagi cukup hanya fokus pada produksi, tetapi harus memahami seluruh rantai nilai pertanian.
“Agribisnis itu bukan hanya menanam dan panen. Tapi seluruh sistem, dari input, produksi, pengolahan, sampai pemasaran,” jelasnya.
Dengan pendekatan ini, petani didorong untuk terhubung dengan pasar, industri, lembaga keuangan, hingga teknologi. Tujuannya, agar petani mampu meningkatkan nilai tambah dan tidak hanya bergantung pada hasil panen semata.
“Petani harus naik kelas jadi petani pengusaha,” tegasnya.
Transformasi ini, menurutnya, juga menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi para penyuluh pertanian.
Mereka kini bukan hanya menjadi pendamping, tetapi juga agen perubahan yang menentukan arah masa depan pertanian Indonesia.