
Petani muda mulai bermunculan di Kecamatan Patimuan. Brigade Pangan Gemah Ripah mendorong regenerasi petani meski menghadapi tantangan lahan tergenang.
TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap – Petani muda mulai bermunculan di Kecamatan Patimuan. Brigade Pangan Gemah Ripah mendorong regenerasi petani meski menghadapi tantangan lahan tergenang.
Program Brigade Pangan (BP) mulai menunjukkan dampak positif terhadap regenerasi petani di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Kehadiran Brigade Pangan tidak hanya mendorong penerapan mekanisasi pertanian, tetapi juga menarik minat generasi muda untuk kembali mengelola lahan sawah.
Hal itu disampaikan anggota Brigade Pangan Gemah Ripah, Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap, Kudrat Setianto.
Menurutnya, sejak Brigade Pangan berjalan pada September tahun lalu, keterlibatan petani muda di wilayah tersebut terus meningkat.
"Alhamdulillah regenerasinya jalan. Sekarang lagi gencar-gencarnya. Dengan adanya Brigade Pangan ini harapannya bisa menarik minat para milenial untuk bertani," kata Kudrat saat ditemui di areal persawahan Patimuan.
Meski demikian, ia mengakui masih banyak tantangan yang harus dihadapi petani di lapangan. Salah satu persoalan utama adalah kondisi lahan yang kerap tergenang air, terutama saat musim tanam (MT) I.
Di hamparan sawah seluas sekitar 25 hektare yang dikelola Brigade Pangan Gemah Ripah, genangan air masih menjadi pemandangan sehari-hari.
Bahkan saat kondisi air dinilai sedang surut, kedalamannya masih mencapai sekitar 30 hingga 40 sentimeter.
Akibat kondisi tersebut, petani tidak bisa langsung melakukan tanam di sawah.
Mereka harus menggunakan sistem persemaian kering terlebih dahulu sebelum bibit dipindahkan ke lahan.
"Kita tidak pakai sistem sebar benih. Bibit disemai dulu di darat, umur sekitar satu minggu baru dipindahkan ke sawah supaya tidak tenggelam," jelasnya.
Bahkan dalam praktiknya, bibit bisa mengalami dua hingga tiga kali proses pindah tanam sebelum benar-benar tumbuh optimal di lahan.
Menurut Kudrat, penyebab utama genangan berasal dari buruknya sistem drainase.
Tandon air yang seharusnya menampung aliran menuju Segara Anakan kini mengalami sedimentasi sehingga kapasitasnya berkurang drastis.
Selain itu, kondisi klep pengatur air juga banyak yang sudah rusak dan tidak dapat menutup maupun membuka secara maksimal.
Akibatnya, air yang seharusnya mengalir keluar justru kembali menggenangi areal persawahan.
"Harusnya air dibuang ke Segara Anakan. Tapi karena di sana sudah dangkal, air balik lagi ke sawah. Debit air di sini juga besar, apalagi saat curah hujan tinggi," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat jadwal tanam MT I hampir setiap tahun mengalami keterlambatan. Petani terpaksa menunggu air surut sebelum bisa mulai menanam.
"Sering benih sudah tua, tapi sawah belum bisa ditanami. Belum lagi kalau sudah ditanam muncul hama seperti keong," katanya.
Upaya mengurangi genangan sebenarnya sudah dilakukan dengan menggunakan pompa air.
Namun solusi tersebut dinilai belum efektif karena lokasi penampungan air sudah tidak lagi mampu menampung debit yang masuk.
"Kita sudah pakai pompa, tapi percuma kalau penampungannya sudah tidak kuat. Yang perlu dibenahi itu pendangkalan tandon dan saluran airnya," ujar Kudrat.
Selain tantangan infrastruktur, petani juga harus memilih varietas padi yang mampu bertahan di kondisi lahan tergenang dan air payau.
Selama ini Brigade Pangan Gemah Ripah mengandalkan varietas Biosalin dan Cilamaya Muncul karena dinilai lebih adaptif dibandingkan varietas lain.
"Kalau air lagi tinggi, varietas itu masih berani. Yang lain banyak yang tidak berkembang," katanya.
Produktivitas padi di wilayah tersebut pun sangat bergantung pada kondisi air.
Saat kondisi normal, hasil panen dapat mencapai sekitar 1,2 hingga 1,3 ton per satuan lahan.
Namun ketika genangan tinggi, produksinya dapat turun menjadi sekitar 8 hingga 9 kuintal.
Sementara itu, Ketua Gapoktan Sri Mulia Desa Bulupayung, Samiun, mengatakan mekanisasi pertanian masih membutuhkan tambahan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Pasalnya, luas lahan sawah yang dikelola kelompok tani mencapai sekitar 515 hektare sehingga penggunaan alsintan harus dilakukan secara bergantian.
"Kalau di sini selesai baru pindah ke lahan yang lain. Jadi memang masih antre karena luas lahannya cukup besar," ujarnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, para petani tetap optimistis.
Kehadiran Brigade Pangan dinilai menjadi salah satu motor penggerak modernisasi pertanian sekaligus membuka peluang lahirnya petani-petani muda yang siap melanjutkan sektor pertanian di masa depan.
Mereka berharap pemerintah dapat melanjutkan dukungan melalui perbaikan infrastruktur pengairan, normalisasi saluran menuju Segara Anakan, serta penambahan alsintan agar produktivitas pertanian terus meningkat dan regenerasi petani semakin kuat.