Minggu, 18 Agustus 2019


Cara Kreatif Penyuluh Pertahankan Pertanian Jakarta Barat

08 Agu 2019, 15:54 WIBEditor : Gesha

Penyuluh Pertanian Ahmad dengan cara kreatifnya berusaha mempertahankan pertanian di Jakarta Barat | Sumber Foto:CLARA

Agar produk pertanian dan perikanan khas Jakarta tidak punah, dibuatlah Sentra Fora yakni sebuah tempat yang terdapat beberapa kios pertanian dan perikanan yang identik dengan Jakarta.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Menjadi seorang penyuluh pertanian memang harus mau terjun dalam kondisi apapun. Seoerti Ahmad di tengah hiruk pikuk kota metropolitan, Jakarta, tak gentar mengadu nasibnya menjadi seorang penyuluh pertanian. Bahkan dengan cara kreatifnya, untuk mempertahankan pertanian di Jakarta Barat.

“Jakarta tidak seperti yang kita bayangkan selama ini. Masih banyak potensi pertanian yang mampu digarap di ibukota negara,” kata Ahmad saat diwawancara tabloidsinartani.com. Wilayah kerja Ahmad, yakni di Jakarta Barat memang terkenal dengan daerah industri karena banyak pabrik-pabrik didirikan di sana. Di tengah industri, ternyata pertanian di Jakarta Barat cukup banyak ragamnya.

Ahmad mengatakan agar produk pertanian dan perikanan khas Jakarta tidak punah, dibuatlah Sentra Fora yakni sebuah tempat yang terdapat beberapa kios pertanian dan perikanan yang identik dengan Jakarta. “Cara kita mempertahankannya bukan hanya sebatas tanam saja, melainkan membuat sebuah sentra untuk mempertahankan pertanian dan perikanan yang identik dengan Jakarta. Selain itu, Sentra Fora juga dapat menampung kelompoktani binaan asal Jakarta Barat,” terangnya.

Tidak hanya itu, di Jakarta Barat juga terdapat dua kelompoktani yang fokusnya kepada tanaman sayuran, yakni Poktan Subur dan Poktan Sumber Rezeki. Sayuran-sayuran yang dihasilkan memang tidak beragam seperti di daerah sentra sayuran (Lembang, Wonosobo, dan masih banyak lainnya), tetapi mampu memenuhi permintaan sayuran di Jakarta Barat. Tidak hanya itu, di Poktan Subur mengembangkan Selada Betawi (selada asal Jakarta) agar tidak punah. “Memang bukanlah sayuran organik, tetapi budidayanya mengarah kepada ramah lingkungan,” ungkap Ahmad.

Kelompok Tani Wanita (KWT) asal Jakarta Barat pun turut berkontribusi dalam pertanian di daerahnya, yakni dengan memanfaatkan lahan terlantar dan menyulap daerahnya menjadi hijau royo-royo.

“Para wanita di sini turut mengembangkan pertanian di Jakarta Barat, yakni dengan menanam sayur-sayuran di lahan terlantar. Yang mereka tanam ini berupa bawang merah, daun bawang, kangkung, caisim dan bayam. Memang hasilnya tidak dijual secara massal, tetapi setidaknya mampu memenuhi kebutuhan untuk diri sendiri,” pungkas Ahmad.

 

 

Reporter : Clara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018