Wednesday, 21 October 2026


Hardi, Milenial Kota Apel Penakluk Jambu Kristal Mertua

08 Mar 2021, 10:45 WIBEditor : Yulianto

Hardi , milenial Kota Batu yang kini membangun dunia usaha pertanian dengan komoditas jambu kristal

TABLOIDSINARTANI.COM, Kota Batu---Namanya Rakhmad Hardiyanto, ST (35). Namun lebih dikenal dengan panggilan Hardi. Nekat menanggalkan ilmu permesinan hasil kuliahnya di Universitas Brawijaya, Malang, ia banting setir ke dunia petanian, menekuni agribisnis jambu kristal.

Keterlibatan Hardi dalam dunia pertanian berawal saat dirinya menikah tahun 2012. Mertuanya petani dan memiliki sekitar 60 pohon jambu kristal yang dulu disebut dengan istilah jambu apel. Sebelumnya, sang mertua masih merawat dan menjual jambu berumur empat tahun itu secara tradisional.

Mengetahui rasa jambu enak, Hardi sering membawa jambu itu ke tempat kerjanya. Saat itu ia masih bekerja di salah satu Badan Usaha Milik Pemerintah Kota Batu. Karena diminati, ia mulai menjual ke teman kerja dan teman kuliah. Dari situlah, ayah dua anak ini melihat ada peluang besar terhadap komoditas yang satu ini.

   

“Di Jakarta harganya Rp 35.000 per kilogram (kg), sedangkan di sini banyak dan rasanya lebih enak. Ketika petani menjual seharga Rp 5.000/kg, saat itu saya sudah berani menjual dengan Rp 12.500/kg,” tuturnya.

Setelah penjualan mulai berjalan, Hardi yang baru enam bulan menikah memberanikan diri meminta izin kepada mertua untuk mengelola kebun itu. Gayung bersambut, sang mertua mengizinkannya. “Kelebihan jambu kristal mertua saya adalah jambu kristal Thailand, bijinya sedikit dagingnya tebal,” ujarnya.

Manajemen Profesional

Hardi kemudian memilih mundur dari pekerjaannya dan lebih fokus menata kebun. Bermula hanya ada 20 pohon induk, 60 pohon produksi, ia kemudian mendaftarkan ke Balai Pengawasan Sertifikat agar bibitnya bisa diperbanyak sesuai standar pemerintah. Tahun 2013 pohon induk milik Hardi mendapatkan sertifikat dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Timur.

Sejak itu, sebutan jambu apel yang tadinya melekat, resmi diganti dengan jambu kristal. Sertifikasi juga diberikan kepada benih turunannya (cangkok) yang dibagikan kepada para petani mitra. Bagi Hardi, sertifikasi sangat penting untuk menjaga keaslian genetika. Sebab, berbicara kualitas buah tidak bisa dipisahkan dari genetika.

“Pola penanganan yang lain, seperti perawatan dan pemeliharaan hingga standar operasional prosedur (SOP) memang bisa diubah namun genetika tidak bisa,” ujarnya. Kini Hardi juga menjadi produsen benih bersertifikat hasil cangkokan dan ovulasi. Pohon jambu miliknya dan petani mitra kini sudah mencapai 8.000 pohon.

Hardi juga mempelajari semua hal, mulai dari product, price, promotion, dan place (4P), termasuk memetakan pangsa pasar dan siapa konsumen yang bakal disasar. Pendekatan yang dilakukan Hardi bukan sekadar pertanian, tapi agribisnis dan enterpreneur di bidang pertanian.

Dalam manajemen, ia membagi usahanya dalam off farm dan on farm. Pembagian karyawan sesuai bidangnya masing-masing, mulai dari digital marketing, kontrol kualitas hingga bagian distribusi. “Mereka yang masih suka bertani dan bersentuhan langsung dengan lapangan juga diberi kesempatan. Artinya bagaimana aspek profesionalitas, bagaimana manajerial juga kita bangun. Jadi tidak sekedar bertani biasa,” ujarnya.

Dengan berkembangnya teknologi digital, Hardi pun memanfaatkan daring untuk menerobos pasar hingga luar daerah seperti Jakarta, Surabaya, Bali hingga Malaysia. Saat itu, pengiriman barang ke konsumen masih menggunakan kurir konvensional karena aplikasi pengiriman berbasis android belum muncul.

“Kenapa hasil bumi petani sulit masuk ke ritel modern. Ini karena mereka tidak punya manajemen. Esensi pertanian modern tidak hanya mencangkul di lahan tetapi juga mencangkul digital. Sasaran dan apa yang dilakukannya jelas,” kata suami dari Reisha Zuhriana, SE.

Sejak sembilan tahun silam Hardi telah menyasar pasar ritel di Malang dan Surabaya. Ia juga melayani konsumen yang ingin mendapatkan buah jambu kristal secara daring. Hardi bersama 37 petani mitra binaan (plasma) menghasilkan sekitar 1 ton  perminggu. “Saya tidak mematok produksi harian yang tinggi, karena kami lebih berbicara soal kualitas, cukup 150 kg perhari,” ucapnya.

Meski di pasaran saat ini harga jambu kristal bervariasi, ada yang menjual dengan harga lebih murah, Hardi tetap bersikukuh menjual jambu dengan Grade A harga Rp 15.000/kg, grade B Rp. 12.500/kg dan grade C Rp 10.000/kg.

Dalam membangun usahanya Hardi juga melakukan pemberdayaan petani. Bahkan diberharap ke depan kian bertambah generasi milenial yang menekuni dunia pertanian. Seperti apa yang Hardi lakukan? Baca halaman selanjutnya. 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018