Friday, 16 April 2021


Sosok Petani Milenial Hortikultura dari IPB University

21 Mar 2021, 06:11 WIBEditor : Ahmad Soim

Salah seorang petani milenial alumni IPB | Sumber Foto:Dok Awang Maharijaya

 

 TABLOIDSINARTANI.COM -- IPB University memperkuat motivasi saya terjun di bisnis hortikultura.   

Sandi Octa Susila (28 Tahun) Petani Milenial di Cianjur Jawa Barat mengatakan, itulah yang menjadi motivasinya terjun di bisnis sayuran sewaktu masih semester 5 di IPB University Jurusan Agronomi dan Hortikultura. Sampai sekarang, sudah 5 tahun bisnis sayurannya berjalan. Dia pernah dalam 3 hari memperoleh omset Rp 300 juta.

Sandi yang memenangi Kick Andy Heroes 2020, kini juga sebagai Ketua Duta Petani Milenial Nasional yang dikembangkan Kementerian Pertanian.

Dosen IPB University Dr. Awang Maharijaya yang juga Koordinator Teaching Industry Fakultas Pertanian IPB mengatakan bisnis hortikultura itu memag matching (cocok) untuk milenial seperti Sandi. “Yang utama untuk bisa sukses menjadi petani milenial adalah adanya kesadaran atau  jiwa wirausaha. Selanjutnya teknis bisa dikuasai,” tambah Dr. Awang yang juga Ketua Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB.

“Luar biasa, hebat, senang sekali, pintar pintar (wirausaha pertanian –red),” kata Guru Besar IPB Prof Justika Baharsjah yang pernah menjadi Menteri Pertanian dan Menteri Sosial melihat banyak mahasiswanya yang sukses menjadi Petani Milenial.

Kedepan lanjut Awang Maharijaya anak anak muda harus memegang peranan penting di sni untuk penyediaan pangan, gizi dan lain sebagainya.

Kita bersyukur menurut survey BPS tahun 2018, sebanyak 55,14 persen milenial ingin menjadi entrepreneur. Tinggal keinginan mereka itu bagaimana bisa kita salurkan ke bidang pertanian. Kita perlu tunjukkan bahwa prospek atau peluang pertanian itu bagus, kita berikan contoh contoh.

BACA JUGA:

Di Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB  kita juga ingin membangun sistem agribisnis baru yang lebih mantap   yang diisi oleh generasi muda kita. Maka kita temukan apa alasan milenial tidak tertarik ke pertanian, apa tantangan dan strategi untuk mereka agar sukses terjun sebagai petani milenial.

Hasil studi beberapa survey alasan anak muda kurang meminati pertanian karena masih memandang profesi ini kurang bergengsi, dengan resiko tinggi, jaminan masa depan kurang. “Ini tidak betul. Kesan itu muncul karena mayoritas petani miskin, lalu kaum muda menganggap pertanian bukan pekerjaan yang menguntungkan di banding dengan sektor industri dan lainnya. Ini perlu kita luruskan,” tambahnya.

Dr Awang mengungkapkan pernah menemukan pada saat membimbing alumninya dalam program Penumbuhan Wirasuaha Muda Pertanian (PWMP) kolaborasi dengan Kementerian Pertanian, mereka ada yang tidak dapat dukungan dari lingkungan, terutama orang tua. Ilustrasi menantu idaman mertua itu masih PNS, padahal paradigma ini harusnya sudah semakin berubah. Kita tidak bisa menyalahkan anak mudanya saja disini, tapi lingkungan oragtua, calon mertua itu juga harus mendapat informasi bagaimana prospek pertanian ke depan.

Yang perlu kita sadari kaum muda memiliki kendali akses yang terbatas  kepada sumberdaya. Pada sisi lain, proses industrialisasi, globalisasi di beberapa bidang profesi baru sudah mulai berkembang dan diminati generasi muda sebagai pengganti bekerja di bidang pertanian.

Milenial yang memulai terjun di binis pertanian yang terbatas akses sumberdaya dan kepemilikan modal perlu difasilitasi. Hasil survey di beberapa negara menyatakan bahwa milenial sulit sekali memperoleh rumah lahan dan lain sebagainya. Itu menjadi isu utama, sehingga perlu binsis pertanian yang memiliki siklus cepat, nilai produk tinggi, kreativitas tinggi, dan dinamis.

 

Strategi Bisnis Hortikultura: Milenial Banget?

 

Reporter : Som
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018