
Chairul Ikhwan
TABLOIDSINARTANI.COM, Sampang Madura -- Chairul Ikhwan melihat banyak orang bercocok tanam tapi hanya ikut-ikutan. “Orang lain bertani tembakau, ikutlah tanam tembakau. Orang lain tanam padi, ikutlah tanam padi. Budaya bertani dengan cara ikut-ikutan itu hasil pertanian pun ikut ikutan pasar,” katanya.
Ikhwan pun tidak mau menjadi yang ikut-ikutan. Dia punya lahan sekitar setegah hektar, letaknya di dataran tinggi. Lahan-lahan di sana ditanami tanaman tahunan seperti Jati, Mahoni, dan tanaman keras lain. Ini jenis tanaman yang bertahan waktu kemarau. Di sini tak ada sumber air. Ingin membuat sumur bor tidak memungkinkan karena dataran tinggi.
Ikhwan juga mencoba tanam tanaman buah dan sayur-mayur, seperti kedondong, kacang, nanas, terong, bayam. Sayangnya, sebagian tanaman itu saat kemarau tidak mampu bertahan.
Pada 2017, dia mendapatkan kesempatan belajar dan ikut pelatihan di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Malang.”Di sanalah, kami coba bertanya soal tanah sampai tanaman apa yang cocok untuk tanah jenis tertentu,” katanya.
Dalam forum pelatihan itu dia temukan jawaban tentang tanaman yang bertahan di musim kemarau. “Kami tanam mangga dan pisang. Memang sebelumnya kami tanam mangga 40 bibit tapi banyak mati karena digigit ternak masyarakat, terutama kambing,” kata Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura ini.
Setelah dari pelatihan, dia tanam 50 bibit pisang, sekarang sudah 400 batang dari berbagai jenis. Saat ini, setiap hari dia dan komunitasnya bisa panen minimal lima tandan.“Dari waktu ke waktu saya sendirian. Saya berpikir, tidak mungkin jika tetap mengerjakan semua itu seorang diri. Saya coba kumpulkan teman yang saya kenal dulu. Saya juga pilah, dalam artian mereka yang memang punya jiwa di pertanian,” katanya.
BACA JUGA:
Bermodalkan jejaring teman di banyak organisasi dengan ragam kultur, Ikhwan mencoba bertanya dari satu teman ke teman lain. Ternyata banyak juga yang suka pertanian. “Tahun 2020, Gubuk Tani Milenial resmi dibentuk bertepatan dengan pandemi COVID-19. Wabah ini menjebak kita untuk kerja di rumah bahkan hanya membuat kebosanan. Nah, untuk tetap menjaga produktivitas, kami makin yakin membentuk komunitas ini.”
Ikhwan mengatakan, Gubuk Tani Milenial diisi pemuda yang rata-rata berbasis pendidikan di luar pertanian. Ada tiga orang dari Akademi Keperawatan, dua laki-laki dan satu perempuan. Lalu, satu perempuan lulusan ekonomi. Kemudian, dari pendidikan Bahasa Inggris, Ikhwan dan ada dua orang sedang kuliah pada jurusan pertanian. Sakarang, anggota komunitas itu sudah 10 orang. “Kami Gubuk Tani Milenial memang berkomitmen, tidak banyak anggota tak masalah. Kami ingin buktikan kepada masyarakat dan Pemkab atau siapa sajalah, bahwa kami akan setia pada komitmen terlibat dalan dunia pertanian.”
Selain itu, katanya, mereka berusaha bertani dengan ramah lingkungan dengan pertanian organik. Mereka pun tidak memakai pupuk kimia.
Gubuk Tani Milenial, kata Ikhwan, berkomitmen mandiri dari segala hal dari tanam menanam, sediakan pupuk sampai bikin produk olahan dari hasil tani. Petani, katanya, harus hati-hati menggunakan pupuk. Karena itu bisa bahaya pada alam dan manusia.
“Kami buat kompos dari dedaunan. Digiling sendiri. Kotoran kambing dan sapi gratis di sini. Jadi itu kami manfaatkan, tidak pernah menggunakan pupuk kimia, apalagi harus membeli, bahan siapkan sendiri, kami buat pupuk alami, kayak jerami jadi kompos,” katanya. “Gubuk Tani Milenial sendiri memiliki program pembuatan pupuk bokashi dan organik. Bagi kami, harus punya program dari hulu ke hilir, mulai dari pupuk, pembibitan, sampai membuat produk, kami punya program,” imbuhnya.
Beberapa waktu sebelumnya, ada dari Dinas Pertanian memberikan kabar dan meminta Gubuk Tani Milenial ke Dinas Pertanian. “Ada info, kami diminta ikut pelatihan di Malang, juga ikut seleksi magang pertanian di Jepang.” Dari komunitas ini, Ikhwan dan Mabruroh yang ikut.
Untuk menyosialisasikan identitas komunitas ini, mereka memanfaatkan media sosial dan kaos anggota. Dari media sosial, Pemerintah Sampang, khusus Dinas Pertanian merespon keberadaan komunitas mereka. “Awalnya melihat di media sosial kami, lalu ada beberapa petugas Dinas Pertanian survei ke sini. Benar ada atau tidak. Bertanya program juga. Alhamdulillah sekarang] sudah ada sekretariat,” katanya.
Sekretariat Gubuk Tani Milenial bekerjasama dengan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Desa Aeng Sareh. Mereka sedang bangun greenhouse di sana. “Kebetulan di sana ada lahan kosong kami akan membuat greenhouse. Pembibitan pun, kami akan lakukan di sana. Pembuatan pupuk di sana. Sekretariat berukuran 10×8. Alhamdulillah gak harus ngontrak. Kebetulan koordinatornya anggota Gubuk Tani Milenial juga. Greenhouse sudah tahap pemasangan atap,” kata Ikhwan.
Gubuk Tani Milenial sudah kerjasama dengan salah satu supermarket untuk penjualan produk bumbu pecel, kripik pisang, pisang coklat (piscok) dan kripik bayam. “Produk kami lebih banyak camilan. Kami juga buat kripik dari bonggol pisang. Belajar dari Youtube. Daun untuk bungkus pepes dan bungkus makanan.”
Untuk keuangan, Gubuk Tani Milenial, mendapat dukungan 20 persen dari penjualan pisang miliknya. “Pisang itu milik saya, jadi 20% saya masukkan ke kas Gubuk Tani Milenial. Panen pisang tiap hari panen. Pernah panen sampai 30 tandan,” katanya.
Beberapa produk Gubuk Tani Milenial sudah memiliki SIUP dan harga terjangkau. Dia contohkan, bumbu pecel, memiliki kemasan dengan berat beragam, dari ¼ kg seharga Rp7.000, setengah kg Rp13.000 dan satu kg Rp25.000.
Dari Gubuk Tani Milenial ada saja yang tertarik bergabung. “Saya tanam sayur, bayam, sawi, kangkung dan lain-lain. Saya dengar informasi ini, akhirnya gabung. Saya baru gabung 2021,” katanya. “Sarjana atau orang berpendidikan bisa kerja sesuai ijazah. Tapi pertanian tetap tidak boleh ditinggalkan. Kita tidak bisa jadi konsumen terus. Tapi harus telibat dalam produksi, salah satu terlibat dalam pertanian,” kata Wasilah.
“Saya dapat ilmu dan relasi baru lewat Gubuk Tani Milenial ini. Saya temukan inovasi yang sebelumnya saya tidak tahu, seperti pembuatan kompos. Nambah skill juga.” kata Insanul Mubarok.
Insan punya pertanian hidroponik. Awal mula coba-coba hidroponik pada 2019 dan mulai membuahkan hasil pada 2020. Soal pendapatan dari cocok tanam ini, Insan tidak terlalu menjadi tujuan. Panen sayur yang dia tanam lebih banyak buat konsumsi sendiri dan sanak famili. “Lewat Gubuk Tani Milenial ini saya sadar, ternyata keterlibatan pemuda sangat perlu dalam dunia pertanian. Kalau bukan pemuda yang meneruskan kelak, siapa lagi?” kata Devina Wulandari, juga dari komunitas ini.
Dia berharap, Gubuk Tani Milenial berkembang dan dapat membuka kesadaran pemuda Sampang akan dunia pertanian.
===
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/