Sunday, 18 October 2026


Tanpa Background Pertanian, Daffa Sukses Kembangkan Eduwisata Anggur Firizco

02 Dec 2025, 14:22 WIBEditor : Herman

Muhammad Daffa Bagaskara Pemilik Kebun Anggur Ferizco

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Di saat banyak anak muda mengejar karier kantoran, Muhammad Daffa Bagaskara memilih jalur yang berbeda. Pemuda berusia 26 tahun ini justru terjun ke dunia pertanian dan berhasil mengubah kebun keluarga miliknya menjadi sentra anggur modern yang berkembang pesat.

Awalnya, kebun yang terletak di Pamoyanan Wetan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, dikelola sang ayah dengan komoditas utama buah tin.

Sebelum pandemi, buah tin masih memiliki daya tarik yang kuat di pasar. Namun memasuki 2021, permintaan menurun drastis dan produktivitas ikut merosot. Situasi ini memaksa keluarga mencari komoditas baru yang lebih prospektif.

“Ayah ingin mengganti komoditas, tapi saat itu saya belum punya dasar pertanian,” kenang Daffa.

Titik balik muncul pada 2022 ketika seorang rekan mempertemukan mereka dengan Tosan Aji, penggiat anggur yang memberikan wawasan baru.

Dari diskusi tersebut, Daffa melihat peluang besar pada anggur: buah populer, pasar luas, dan selama ini masih didominasi impor. Kesadaran itu menggerakkan mereka untuk beralih sepenuhnya ke budidaya anggur.

Atas rekomendasi ahli, ratusan pohon tin dicabut karena berisiko membawa penggerek batang yang berbahaya bagi tanaman anggur. Pada Maret 2022, proses land clearing dilakukan dan kebun keluarga resmi bertransformasi menjadi Kebun Anggur Firizco.

Sejak saat itu, Daffa mengambil alih pengelolaan penuh. Dua tahun awal menjadi masa yang tidak mudah. Lokasi kebun berada pada ketinggian 1.000 mdpl, membuat intensitas matahari tidak selalu ideal.

“Buah matang lebih lama, pertumbuhan lebih lambat. Tapi dengan disiplin perawatan, semua bisa diatasi,” jelas lulusan Administrasi Keuangan Publik Universitas Padjadjaran ini.

Kini, Firizco menanam sekitar 100 varietas anggur. Sebanyak 70 varietas fokus untuk perbibitan, sementara 20 varietas sudah berproduksi rutin.

Tiga varietas unggulan yaitu Dayang Sumbi Jabaragritec, Parahyangan Jabaragritec, dan Caramina Jabaragritec bahkan sedang dalam proses pelepasan dan pendaftaran. “Dayang Sumbi paling diminati sejak awal,” ujar Daffa bangga.

Sejak 2023, Firizco berkembang menjadi agro-eduwisata. Pengunjung dapat belajar budidaya anggur, menikmati ruang kreatif, bersantai di kafe, hingga mengikuti pelatihan di ruang pertemuan besar. Mereka juga menyediakan wisata petik anggur dengan harga Rp150.000 per kilogram.

Bila belum ada buah yang bisa dipanen, kegiatan penjualan bibit yang dibanderol Rp125.000–Rp500.000 lengkap dengan barcode panduan perawatan menjadi andalan.

Firizco turut membuka jasa konsultasi dan kini membina sejumlah kebun anggur di Sumedang, Ciparay, Bogor, dan daerah lainnya.

Untuk pasar buah segar sangat terbuka lebar. Karena Asosiasi Penggiat Anggur Indonesia (ASPAI) telah melakukan MoU dengan PT BIKI Makmur Bersama senilai Rp100 miliar untuk distribusi varietas Jupiter.

“Jadi, kalau ada pemula bertanya apakah pasar anggur ada, jawabannya sudah,” tegasnya.

Hingga kini, lebih dari 5.000 peserta telah belajar langsung di Firizco. Daffa berharap semakin banyak generasi muda terjun ke pertanian.

“Anggur adalah salah satu buah impor terbesar di Indonesia. Jika SDM siap dan program pemerintah mendukung, swasembada anggur bukan mimpi,” ujarnya.

Reporter : EKo
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018