Saturday, 05 September 2026


Dari 5.000 Jadi 40.000 Ekor, Pemuda Sidrap ini Buktikan Beternak Jadi Ladang Cuan

31 Aug 2026, 10:41 WIBEditor : Herman

Ardiansyah, Peternak Muda dari Desa Tanete, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan

TABLOIDSINARTANI.COM, Sidrap --- Bermodal ketekunan dan keberanian memulai, Ardiansyah perlahan membangun usaha peternakan ayam petelur yang kini berkembang pesat. Peternak muda asal Desa Tanete, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, tersebut kini mengelola sekitar 40.000 ekor ayam petelur.

Perjalanan itu tidak dibangun dalam waktu singkat. Ardiansyah mulai merintis usaha peternakan pada 2014 dengan populasi sekitar 5.000 ekor ayam. Dari skala awal tersebut, ia terus belajar, bertahan menghadapi berbagai tantangan, sekaligus mengembangkan usaha secara bertahap.

Lebih dari satu dekade kemudian, hasil kerja keras itu mulai terlihat. Populasi ayam petelur yang dikelolanya telah meningkat hingga sekitar 40.000 ekor. Produksi telur pun mencapai lebih dari 700 rak setiap hari.

Angka tersebut menggambarkan bagaimana usaha yang dimulai dari skala relatif kecil dapat berkembang menjadi peternakan dengan kapasitas produksi yang cukup besar. Bagi Ardiansyah, perkembangan tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan ketekunan dan konsistensi.

Namun, menjadi peternak ayam petelur bukan berarti perjalanan selalu berjalan mulus. Di balik meningkatnya populasi dan produksi, Ardiansyah masih harus menghadapi berbagai persoalan yang dapat memengaruhi keberlangsungan usaha.

Salah satu tantangan terbesar adalah fluktuasi harga telur di tingkat peternak. Saat ini, harga telur berada di kisaran Rp42.000 per rak. Menurut Ardiansyah, harga tersebut masih berada di bawah kondisi normal yang dapat mencapai sekitar Rp48.000 per rak.

Situasi itu menjadi tantangan tersendiri karena harga jual telur sangat menentukan kemampuan peternak dalam menutup biaya produksi sekaligus menjaga keberlanjutan usaha.

Persoalan lain muncul dari sisi kualitas telur. Ardiansyah masih menemukan sejumlah kendala, seperti telur dengan cangkang tipis atau lembek hingga ukuran telur yang belum seragam.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kualitas telur berkaitan erat dengan nilai jual dan penerimaan pasar. Karena itu, pengelolaan peternakan tidak hanya dituntut mampu menjaga produktivitas ayam, tetapi juga memastikan kualitas telur tetap baik.

Di sisi lain, kenaikan harga pakan turut menambah tekanan terhadap biaya produksi. Pakan menjadi salah satu komponen utama dalam usaha ayam petelur sehingga setiap kenaikan harga secara langsung dapat meningkatkan beban operasional peternak.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Ardiansyah memilih untuk tidak berhenti. Ia tetap melihat peternakan ayam petelur sebagai sektor usaha yang memiliki prospek dan peluang untuk terus dikembangkan.

Baginya, dunia peternakan tidak hanya memberikan peluang ekonomi bagi pelaku usaha, tetapi juga dapat menjadi pilihan bagi generasi muda yang ingin membangun usaha sendiri.

Karena itu, Ardiansyah mengajak anak-anak muda di Sidrap untuk tidak ragu memasuki dunia kewirausahaan, termasuk sektor peternakan.

“Saya ingin menyampaikan kepada anak-anak muda Sidrap, jangan takut untuk berwirausaha. Banyak peluang di sektor peternakan yang bisa dikembangkan,” ujar Ardiansyah.

Pesan tersebut lahir dari pengalaman yang ia jalani sendiri. Ketika pertama kali memulai usaha pada 2014, Ardiansyah hanya memiliki sekitar 5.000 ekor ayam. Kini, setelah lebih dari satu dekade, jumlahnya telah berkembang menjadi sekitar 40.000 ekor.

Pertumbuhan usaha itu juga memberikan dampak bagi masyarakat di sekitarnya. Peternakan Ardiansyah kini mempekerjakan empat orang karyawan yang membantu menangani berbagai aktivitas operasional sehari-hari.

Dengan demikian, usaha yang dibangun Ardiansyah tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi dirinya dan keluarga, tetapi juga ikut membuka lapangan pekerjaan serta menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

Meski demikian, Ardiansyah menyadari bahwa keberlangsungan usaha peternakan tidak hanya bergantung pada kemampuan peternak dalam mengelola kandang. Dukungan kebijakan dan perhatian pemerintah juga dibutuhkan, terutama ketika peternak menghadapi tekanan biaya produksi dan fluktuasi harga.

Ia berharap pemerintah daerah terus memberikan dukungan kepada peternak lokal agar mereka mampu mempertahankan sekaligus mengembangkan usahanya.

“Saya juga berharap pemerintah daerah terus memberikan dukungan dan perhatian kepada peternak lokal. Sementara untuk pemerintah pusat, semoga program SPHP dapat terus berlanjut dan 

Reporter : Suriady
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018