Senin, 26 Agustus 2019


Studi Banding Gratis ! Dewa Paprika dari Bandung Barat ke Thailand

21 Mar 2019, 23:11 WIBEditor : Gesha

Dewa Paprika (berbaju biru) mendapatkan kesempatan gratis studi banding ke Thailand untuk mengembangkan bisnis dan budidaya paprika | Sumber Foto:TIARA

memang kebanyakan komoditas sayuran harus berteknologi tinggi untuk memenuhi permintaan pasar. Karena segmen pasar dari paprika ini khusus.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung Barat --- Petani Millenial banyak terdapat di Kabupaten Bandung Barat. Bahkan memiliki pertanyaan kritis untuk keberlanjutan usaha mereka.

Salah satunya adalah Deden Wahyu atau yang biasa dipanggil Dewa. Dirinya merupakan petani paprika di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat (Jabar) yang hasil panennya diekspor ke Singapura.

"Benih paprika masih impor dari Thailand, apakah bisa dibuat bibit paprika di Indonesia dengan kualitas yang sama seperti bibit impor?," tanya Dewa pada Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman pada acara Sinkronisasi Program Pertanian dan Menyongsong Hari Krida Pertanian ke-47 Bandung Barat, sekaligus Launching Ekspor Paprika Kabupaten Bandung Barat ke Singapura, Kamis (21/3).

Menanggapi hal tersebut, Menteri Amran langsung memberikan putusan pada Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi untuk memberangkatkan Dewa sang petani paprika dari Kelompok Tani Dewa Family ini ke Thailand guna melakukan studi banding.

“Sayuran Kita ekspor ke beberapa negara. Paling tidak di Jabar ini ada 12 negara dari 32 jenis sayuran yang kita ekspor, salah satunya paprika,” kata Suwandi.

Terkait studi banding Dewa ke Thailand, menurut Suwandi memang kebanyakan komoditas sayuran harus berteknologi tinggi untuk memenuhi permintaan pasar, karena segmen pasar dari paprika ini khusus.

“Jadi di Jabar ini sudah menggunakan screen house,rain shelter, green house. Ada yang efisien, ada juga yang perlu investasi mahal. Bahkan airnya menggunakan sisitem irigasi tetes. Sudah dikontrol dengan komputer,” tambah Suwandi. 

Baginya, generasi pertanian milenial sudah ke arah sana. Bahkan pemasaran online juga pun telah diterapkan.

Mendapat kesempatan studi banding secara cuma-cuma dari pemerintah, membuat pria pemilik lahan paprika 6 ha ini tidak henti mengucapkan terimakasih pada pemerintah akan memanfaatkan ilmu yang akan diperolehnya untuk meningkatkan teknologi pertanian di wilayahnya.  

Pada 2000-2015 ia bersama anggota poktan Dewa Family bisa ekspor paprika hingga 40 ton per bulan, namun kini hanya mampu 10 ton per bulan.

Hal tersebut diakuinya karena hama dan penyakit tanaman semakin berkembang, meski begitu ia tetap menjaga kualitas tanaman budidayanya tersebut dengan tidak sembarang menyemprotkan pestisida.

Dengan begitu ia yakin ilmu yang nanti diperolehnya dari Thailand akan bermanfaat termasuk untuk meningkatkan jumlah ekspor paprika.

Mengenai harga, Dewa menerangkan untuk ekspor Rp 25 ribu per kg, untuk lokal (pasar swalayan) Rp 50 ribu per kg. Sedangkan untuk grade rendah yang dijual di pasar harganya Rp 20 ribu per kg.

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018