Jumat, 13 Desember 2019


Bantuan Tepat Sasaran, Petani Semangat Bertani

22 Mar 2019, 05:21 WIBEditor : Gesha

Petani merasakan langsung manfaat dari bantuan yang diberikan Kementerian Pertanian | Sumber Foto:NATTASYA

santri tani dan masyarakat Garut sangat menantikan ragam bantuan dari Kementan yang diyakini mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Garut --- Ragam bantuan sudah diberikan secara massif bagi petani di Indonesia, salah satunya Garut. Bantuan yang diberikan pun tepat sasaran dan tepat guna sehingga petani semakin bersemangat untuk bertani.

"Bantuan dan program program dari Kementan telah memberikan lebih dari Rp 1.5 Trilliun (untuk Garut) selama 4 tahun terakhir. Dampaknya? Alhamdulilah angka kemiskinan 2017 di 11.28 persen, pada 2018 turun jd 9.2 persen. Inilah bukti nyata sentuh masyarakat dan turunkan kemiskinan," tutur Bupati Garut, Rudy Gunawan disertai gemuruh tepuk tangan dari ratusan petani dari 25 kecamatan di Garut, Kamis (21/3).

Rudy mengatakan petani, santri tani dan masyarakat Garut sangat menantikan ragam bantuan dari Kementan yang diyakini mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

Seperti yang diungkapkan salah satu petani jagung dari Kampung Dangdeur, Desa Dangdeur, Kecamatan Banyuresmi, Jon Junaidi.

Dirinya mendapatkan bantuan Kredit Usaha Rakyat sebesar Rp 4 juta untuk musim tanam tahun ini. "Terbantulah dengan adanya KUR ini, buat modal usaja bertani lagi. Untuk ngupahin macul, beli pupuk, beli benih dan modal lainnya," tutur Jon.

KUR Rp 4 juta tersebut dipergunakan untuk modal usaha lahan jagung milik kelompoknya seluas 30 tumbak atau 5.000 meter persegi.

"Saya udah 2 tahun punya kartu tani, bisa mudah dapat KUR untuk modal usaha. Penghasilan dari jagung juga sedang baik. Bayar utang KUR bisa cicil lebih ringan dan pendapatan jagung, sisanya masih banyak. Lumayan meningkat lah ekonomi saya," beber Jon.

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh petani kopi dari Kampung Cibadak, Desa Kramat Wangi, Kecamatan Cikajang, Imin Apep.

Bersama Poktan Cibadak 3, dirinya mendapatkan bantuan bibit kopi sebanyak 10 ribu batang untuk peremajaan di lahan kopi kelompoknya seluas 10 hektar. 

"Sebelumnya pakai bibit asalan robusta. Sekarang dibantu pemerintah, Alhamdulilah sekali, " bebernya.

Bantuan dari Kementan ini sudah dua kali dirasakan dirinya. Pertama kali di tahun 2016, Imin mendapatkan bantuan bibit kopi juga.

"Total produksi saya hanya sekitar 15 ton per tahun dari 30 hektar yang menghasilkan. Luas lahan sebenarnya ada 50 hektar. Tapi yang 20 hektar lagi diremajakan dulu, belum menghasilkan," bebernya.

Jika dihitung produktivitas yang ada, lahan kopi Poktan Cibadak 3 sangat rendah yaitu hanya 0,5 ton per hektar karena menggunakan bibit asalan. Sangat jauh dibandingkan jika menggunakan bibit kopi unggulan yang bisa mencapai 3,5 ton/hektar per tahun.

"Bibit unggul ini diharapkan produksi bisa lebih meningkat. Sehingga perekonomian kami bisa lebih terangkat karena produksi bertambah. Harga juga sedang bagus karena permintaan kopi semakin banyak," tuturnya.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018