Wednesday, 21 October 2026


Sutarjo STJ Farm, Berbeda dengan Hasilkan Buah Naga Sehat

26 Apr 2019, 12:52 WIBEditor : Gesha

Sutarjo komitmen untuk menghasilkan buah naga sehat dan ikut dalam regenerasi petani

Karena kualitasnya, buah naga dari STJ Farm tidak cepat busuk dan bisa tahan selama 10 hari di suhu ruangan. Bahkan di kulkas bisa tahan 2 bulan tanpa adanya pembusukan. Dari segi rasa pun jauh lebih segar dibandingkan dengan buah naga sejenis

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Berbudidaya buah naga bisa dibilang sudah umum dilakukan oleh petani muda yang baru terjun di usaha hortikultura. Tapi tak banyak yang bisa sukses dan berjalan terus. Satu diantaranya adalah Sutarjo dari STJ Farm Bogor.

“Kalau tidak jadi yang pertama, jadilah yang berbeda. Karena itulah daya saing kita. Pembedanya, buah naga kami tidak pakai pestisida kimia,” tutur salah satu agropreneur muda dari Bogor, Sutardjo.

Namun, Sutarjo tidak mau disebut berbudidaya organik sebab masih menggunakan pupuk NPK dan KCl setahun sekali. “Kami nyebutnya buah naga sehat karena bagian buah itu tidak terkontaminasi kimia. Buah ini sama sekali tidak ada sama sekali penyemprotan (pestisida) sehingga tidak ada residu,” bebernya.

STJ Farm juga tidak memakai hormon pembesar buah, tetapi menggunakan sistem penyerbukan alami dengan bantuan tangan manusia/hewan seperti tawon, lebah, semut dan lainnya. “Rata-rata sekilo isinya dua buah, besar-besar,” tuturnya.

Karena kualitasnya, buah naga dari STJ Farm tidak cepat busuk dan bisa tahan selama 10 hari di suhu ruangan. Bahkan di kulkas bisa tahan 2 bulan tanpa adanya pembusukan. Dari segi rasa pun jauh lebih segar dibandingkan dengan buah naga sejenis yang dipasarkan.

“Alhamdulilah orang-orang Jabodetabek terutama Bogor sangat tertarik dengan buah yang sehat. Meski diluar harganya mahal atau anjlok, harga buah naga di STJ Farm lebih stabil yaitu Rp 25 ribu-35 ribu per kilogram. Kami main di kualitas, jadi tidak masalah,” tutur sarjana lulusan Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor (IPB)

STJ Farm dimulai tahun 2016 dengan dukungan PWMP dan suntikan dana dari Investor. Dengan menggunakan lahan 0,5 hektar di Cijeruk. “Kita juga kerjasama 0,5 hektar lahan di Balaraja, Banten. Keduanya untuk pengembangan buah naga sehat,” tuturnya.

Tak hanya buah naga, STJ Farm juga mengusahakan aneka buah-buahan lain seperti jambu kristal, alpukat dan lainnya. Menariknya, usaha buah sehat dari STJ Farm ini langsung menyasar pada end user seperti konsumen di perumahan-perumahan se-Bogor.

Bicara omzet, Sutardjo menuturkan omzet per bulan mencapai Rp 5 juta per bulan. Meskipun omzet per bulannya masih kecil, Sutardjo yakin jika hal tersebut bisa terus menghasilkan seiring dengan kesadaran masyarakat mengkonsumsi buah-buahan sehat.

Regenerasi Petani

Kesuksesan berbudidaya buah naga pun tidak hanya dinikmati sendiri oleh pria asal Rembang ini. Secara visioner, dirinya berkeinginan untuk ikut serta dalam regenerasi petani dengan caranya sendiri.

“Kami ingin bisa mencetak petani-petani muda yang memang concern dan gigih berjuang untuk bertani. Ini sekarang kami bina beberapa anak muda. Kami ajarkan bisnis pertanian yang bagus seperti apa. Nanti setelah 1 tahun bisa gabung ke saya atau bikin sendiri. Yang penting bagaimana mereka mau bertani ketika masih menjadi mahasiswa,” bebernya.

Setiap tahun setidaknya ada 3 kelompok yang dilatih oleh Sutarjo. Dan rata-rata mereka adalah mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB). “Memang trendnya semakin meningkat sekarang ini. Meskipun sedikit yang berlatih, setidaknya kami berusaha untuk turut mengugah mereka untuk kembali bertani,” tuturnya.

Untuk diketahui, Sutarjo merintis usaha pertanian semenjak masih menjadi mahasiswa dengan mengikuti Sarana Belajar Petani Sarjana (Sabisa) Farm. Lahan Sabisa Farm adalah lahan IPB yang dikelola Fakultas Pertanian (Faperta) IPB dan dipelopori oleh Gun Sutopo, alumni IPB yang sukses mengembangkan budidaya buah naga.

“Di Sabisa Farm, kami digembleng selama satu tahun saat semester 7 dan 8. Waktu itu satu angkatan ada tujuh orang. Sejak digembleng Pak Gun dan terbuka peluang kenal alumni yang wirausaha di bidang pertanian maka saya tertarik untuk terus bergerak (menjadi petani). Kenapa mau memulai,karena saya sebagai lulusan IPB ingin jadi petani sukses,” ujarnya.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018