Monday, 21 September 2020


Permintaan Melonjak Saat Covid 19, Petani Buah Naga Ketiban Berkah

11 May 2020, 06:34 WIBEditor : Yulianto

Petani buah naga Banyuwangi mendapat berkah saat pandemi Corona | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjen Hortikultura

TABLOIDSINARTANI.COM, Banyuwangi---Pandemi Covid-19 yang hampir terjadi seluruh dunia, berdampak terhadap perekonomian, termasuk Indonesia. Bahkan membuat perdagangan ekspor dan impor menurun drastis.

Meski kondisi perekonomian kurang menggembirakan, tapi bagi Rukiyat, petani buah naga di Banyuwangi, justru ketiban berkah. Buah naga menjadi salah satu komoditas yang mengalami peningkatan permintaan pasar saat wabah Covid 19.

Bahkan kini petani  terus meningkatkan produksinya karena tingginya permintaan pasar. Pada April-Mei merupkan akhir panen raya di Banyuwangi. "Meskipun ada sedikit kendala pada distribusi produk karena mahal dan terbatasnya akses transportasi di masa pandemi Covid 19 ini, tapi secara keseluruhan lancar," ujarnya saat dihubungi di rumahnya di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Minggu (10/5).

Rukiyat adalah Ketua Kelompok Tani Pucangsari yang beranggotakan 35 orang. Ia salah satu champion komoditas hortikultura yang membina sekaligus memasarkan hasil kebun kelompoknya seluas 29,5 ha.

Total produksi buah naga kelompok tani kami sekitar 737,5 ton per tahun. Kami baru mampu memenuhi 50 persen dari permintaan dalam setahun. Total permintaan produk buah naga kepada kami sebenarnya 1.475 ton," tuturnya.

Rukiyat mengatakan, pada musim panen raya (Oktober-Maret) petani menjual hasil produksinya dengan harga berkisar Rp 4.000/kg. Sedangkan jika di luar musim, harganya bisa mencapai 3 kali lipat, bahkan mencapai Rp 20 ribu/kg. “Dengan harga standar Rp 4.000/kg, petani bisa mengantongi pendapatan Rp 120 juta/ha/tahun,” ungkapnya.

Dalam pemasaran, Rukiyat mengungkapkan, selain ke pasar lokal Banyuwangi dan sekitarnya, juga meliputi kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, Malang, bahkan sampai luar Jawa.

"Kami berharap pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian menambah luas pertanaman buah naga sekaligus memfasilitasi sarana panen dan pasca panen," katanya.

Sentra Terbesar

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi Arief Setiawan, menginformasikan bahwa Kabupaten Banyuwangi sebagai sentra produksi utama buah naga terbesar di Indonesia. Luasannya mencapai 2.479 ha dengan produksi 35.687 ton tahun 2019.  "Kami memasok hampir 80 persen kebutuhan buah naga dalam negeri,” ujarnya.

Petani menurut Arief, mampu berproduksi sepanjang tahun. Petani bisa memacu produksi buah naga dengan bantuan sinar lampu untuk membantu pohon buah naga berbunga dan berbuah di luar musim. Sinar ultraviolet yang dipancarkan lampu membantu fotosintesis.

Arief memaparkan, budidaya buah naga di Banyuwangi tersebar di beberapa kecamatan. Diantaranya Kecamatan Bangorejo, Purwoharjo, Pesanggaran, Siliragung, Muncar, Tegaldlimo dan Sempu.

Adapun Direktur Buah dan Florikultura, Kementerian Pertanian, Liferdi Lukman menjelaskan, Kementan saat ini ikut mendukung pengembangan buah naga di Banyuwangi.

“Tahun 2020 di sana kami berikan anggaran untuk intensifikasi buah naga seluas 60 ha. Diharapkan dengan pemeliharaan secara intensif, produksi buah naga yang dihasilkan nantinya akan meningkat serta berdaya saing,” kata Liferdi.

Liferdi mengakui, mengonsumsi buah naga secara teratur dapat memperkuat imunitas tubuh sehingga sangat cocok dikonsumsi pada kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Buah naga mengandung vitamin C hingga karotenoid yang berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan daya tahan tubuh.

“Hal ini dapat menangkal radikal bebas serta mencegah infeksi bakteri serta virus masuk ke dalam tubuh, karena kandungan zat gizi makro dan mikronya yang lengkap," terang Liferdi.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menegaskan, akan terus mendorong agar petani buah naga mampu menghasilkan produk bermutu, berdaya saing dan ramah lingkungan. Selama ini petani buah naga Banyuwangi selalu didampingi agar mampu menghasilkan buah naga bermutu yang mampu memenuhi standar ekspor.

Sebagai langkahnya, telah dilakukan General Administration of Customs of the People’s Republic of China (GACC) sebagai perwakilan Pemerintah Tiongkok yang melakukan kunjungan lapang keh Banyuwangi pada Januari. Kunjungan itu untuk  memverifikasi calon kebun buah naga yang akan diekspor produknya ke Tiongkok.

Menyikapi hal ini, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) selalu menegaskan untuk meningkatkan konsumsi hortikultura lokal. Tujuannya tak lain untuk menampung produksi petani sekaligus meningkatkan imun.

 

Reporter : Kontributor
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018