Wednesday, 21 October 2026


Closed Loop, Alternatif Atasi Rantai Pasok Pertanian Saat Covid-19

11 May 2020, 08:19 WIBEditor : Yulianto

Close loop dalam pertanian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Stok dan distribusi komoditas pertanian selama ini menjadi persoalan tersendiri. Guna mengatasi persoalan tersebut salah satu alternatifnya adalah dengan sistem closed loop.

“System closed loop supply chain merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi pemerataan stok komoditas,” kata Sakam Parwadi, salah seorang pakar rantai pasok saat Forum Group Discussion (FGD) mengenai pemetaan ketersediaan stok komoditas pertanian yang diselenggarakan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sakam Parwadi mengatakan, dalam Kostratani closed loop supply chain dapat dibatasi dalam lingkup masing–masing. Karena itu, Penyuluh Pertanian sebagai pelaksana di Kostratani perlu mengetahui secara rinci, mulai dari kegiatan pertanian dari hulu hingga ke hilir.

“Jadi membangun pertanian itu bukan hanya membangun lahan, namun yang utama adalah membangun sumber daya manusianya, sehingga BPPSDMP dapat lebih banyak berperan,” katanya. 

Rio Parnando dari PT Ranko Agro Nusantara menyampaikan, seharusnya kita juga menempatkan diri sebagai jembatan timbang yang menyeimbangkan antara petani dengan pasar, menanam apa yang diperlukan konsumen. Sedangkan konsumen memperoleh produk dengan mudah dalam lingkup daerah tersebut.

“Selain itu, perlu melaksanakan Gerakan belanja produk lokal secara nasional, sehingga produk pertanian semakin mudah terserap,” katanya. 

Rezzarir Frissandy dari PT Pupuk Kujang menambahkan, peran strategis pihakknya dalam program closed loop, salah satunya mengambil sampel tanah, menganalisa dan menghasilkan pupuk yang sesuai kebutuhan lahan. Dengan demikian, kostratani dapat semakin berperan nyata dalam pembangunan pertanian di wilayahnya.

“Sinergitas diperlukan dalam rangka tercapainya menjaga kestabilan ketahanan pangan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu secara teknis, Retha Amanda Dotulang dari PT Ewindo  menyatakan, siap membantu dalam hal perbenihan sesuai kebutuhan konsumen. Misalnya tanaman yang dapat tahan terhadap penyakit, sehingga dapat meningkatkan produksi yang tinggi dan menarik. 

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, BPPSDMP, Idha Widi Arsanti mengatakan, kegiatan FGD dilaksanakan dalam rangka untuk pemetaan ketersediaan stok komoditas pertanian. Dalam masa pandemi ini, ketersediaan pangan harus menjadi prioritas utama selain penanganan Covid-19 itu sendiri.

“Apalagi di beberapa daerah telah melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga dikhawatirkan terdapat daerah yang kelebihan stok dan ada juga daerah yang kekurangan stok pangan,” ungkapnya. 

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam beberapa kesempatan menyampaikan sektor pertanian menjadi harapan, tulang punggung ditengah upaya pemerintah dalam  menanggulangi Covid-19.  “Tanggung jawab penyediaan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia merupakan spirit bagi keluarga besar Kementerian Pertanian dan semua pelaku pembangunan pertanian, pertanian tidak boleh berhenti,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi menegaskan, Kostratani adalah pusat kegiatan pembangunan pertanian tingkat kecamatan, yang merupakan optimalisasi tugas, fungsi dan peran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.

“ Kostratani berperan sebagai pusat data dan informasi, pusat gerakan pembangunan pertanian, pusat pembelajaran, pusat konsultasi agribisnis, dan pusat pengembangan jejaring kemitraan,” tuturnya.

 

 

Reporter : Lutfi T.A/Rivana (BBPP KETINDAN)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018