
Ganif, POPT Sumsel
TABLOIDSINARTANI.COM, Palembang - Ganif tidak lelah untuk memotivasi petani padi. "Saya motivasi petani, jangan harap dapat asuranai pertanian, tujuannya kita harus panen. Kita rugi kalau untuk dapat asuransi. Asuransi itu hanya untuk jaga jaga atau safety," kata Ganif, SP, MSi petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Provinsi Sumatera Selatan.
Di sela sela Apresiasi Pemberdayaan Permodalan dan Asuransi Pertanian yang diselenggarakan Direktorat Pembiayaan Pertanian Kementan, Ganif yang mengawali pekerjaannya sebagai Penyuluh Lapangan ini satu kesenangannya menangani asuransi pertanian yakni Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) adalah bisa membantu petani dan petani merasa terbantu. Kalau usaha tani padinya gagal, petani dapat modal untuk tanam kembali.
Dari segi pekerjaan, lanjutnya dia malah dapat tambahan pekerjaan dengan adanya program AUTP. "Yakni mengecek lahan petani yang mengklaim auransinya. Petaninya dimana, lahannya berapa luas, dan bagaimana serangannya," paparnya. Sementara, dana untuk supervisi dan untuk survei asuransi tidak tersedia.
Dari hasil penetapan dialah, para Penyuluh Lapangan Pertanian (PPL) bisa membawa bukti untuk mengklaim asuransi petani binaannya kepada perusahaan asuransi Jasindo. "Tanpa ada tanda tangan saya dan data dari saya, petani tidak akan bisa dapat klaim asuransi pertanian," katanya.
Ganif SP, MSi adalah tenaga fungsional POPT ahli muda dengan usia 56 tahun. Ia berkantor di Balai Perlindungan Tanaman Provinsi Sumsel, tugasnya di Kabupaten Banyuasin, Kec Muara Telang. terdapat seluas 23.133 ha sawah yang harus dikontrol. Terbagi 16 desa. Ada satu desa yakni Telang Karya yang terluas lahan sawahnya yakni 3000 ha.
"Saya tugasnya mengontrol wilayah dan kondisi geografisnya yang sungai. Kadang kewalahan," tambahnya. Pada tahun 1984-1986, Ganif adalah PPL. Dengan adanya Inpres no 3 tahun 1986, yakni saat ada peledakan wereng coklat, ia ditarik menjadi pengamat hama, ada 55 orang PPL waktu itu yang ditarik jadi POPT.
Dikesibukannya sebagai pegawai, ia mengambil kuliah S2 dengan biaya sendiri dengan niat untuk contoh buat anak anak. Dia merasa bekerja sebagai POPT biasa saja karena rutinitas. Pernah di lab tiga tahun, ikut menyiapkan akreditasi lab karena berlatarbelakang pendidikan Hama dan Penyakit Tanaman, lulus pada tahun 2000.
Wereng coklat pernah menyerang di Telang rata seluruh Banyuasin pasang surut, tahun 2018, tanam IP 100. "Alhamdulillah bisa diatasi, walau ada penurunan produksi, biasanya 130 - 140 karung, produksi turun jadi 90-100," ungkapnya.



