Friday, 05 June 2020


Dengan Teknologi Jarwo dan Rice Transplanter, Petani Bantul Gertam Padi

20 May 2020, 07:10 WIBEditor : Yulianto

Petani Bantul saat memulai tanam padi dengan rice transplanter | Sumber Foto:Ismail

TABLOIDSINARTANI.COM, Bantul---Untuk menjaga ketersediaan pangan dan mengantisipasi dampak  pandemi Covid-19, petani di Bulak Blawong, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta di Kabupaten Bantul melakukan gerakan tanam padi serentak.

Hal ini seiring imbauan pemerintah melalui Kementerian Pertanian yang mendorong percepatan masa tanam untuk menghindari potensi kemarau panjang pada paruh kedua 2020. Selain itu mempertimbangkan laporan  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa masih terdapat curah hujan pada akhir Mei sampai Juni.

Gerakan tanam (Gertam) diawali dengan luas lahan 28 ha, memakai benih varietas Mekongga yang telah disemai lebih dahulu secara dapok.  Dalam budidaya mengadopsi teknologi jajar legowo (Jarwo) super 2 : 1, serta penggunaan mesin rice transplanter.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta telah merekomendasikan sistem tanam jajar legowo (jarwo) super sebagai metode tanam padi yang tepat bagi petani. Hal itu sebagai solusi menjawab makin menyutunya lahan pertanian di DIY  yang rata-rata mencapai 200 ha/tahun. Sedangkan inovasi sistem tanam jarwo diyakini dapat meningkatkan produksi hingga 20%.

“Gertam padi bertujuan untuk mendiseminasikan inovasi teknologi jajar legowo super 2:1 dan penggunaan alsintan,” kata Koordinator Penyuluh di BPP Jetis, Ismail.

Sistem tanam jarwo merupakan manipulasi lokasi pertanaman, sehingga memiliki jumlah tanaman pinggir lebih banyak dengan adanya barisan kosong. Dengan demikian, pertumbuhan dan perkembangan lebih baik, karena memperoleh intensitas sinar matahari yang lebih banyak.

“Dampaknya akan meningkatkan populasi yang tentunya akan meningkatkan  produksi dan kualitas gabah yang lebih tinggi,” katanya

Keuntungan lain teknologi ini lanjut Ismail, menjadikan lahan sawah lebih terbuka dan tikus tidak menyukai, sehingga meminimalkan hama penyakit dan memudahkan petani melakukan pemeliharaan.

Untuk membantu menentukan jarak antar tanaman padi dengan teknologi jajar legowo, petani di Bulak Blawong juga sudah menggunakan mesin transplanter sebagai solusi mengatasi kurangnya buruh tanam apalagi di musim pandemi Covid-19,” kata Ismail.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani (KT) Barokah, Yusron berharap dengan gertam ini dapat meningkatkan motivasi anggota kelompok untuk menerapkan inovasi jarwo. Dengan peningkatan produktivitas padi, berujung pada peningkatan kesejahteraan petani.

Sementara itu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta kepada seluruh penyuluh pertanian dan petani di Indonesia agar segera melakukan gerakan percepatan tanam padi dan jagung serentak.

“Kita harus bekerja lebih keras, lebih terpadu dan lebih gotong royong agar makanan rakyat bisa terjamin. Krisis pangan tidak boleh terjadi di Indonesia, kita hadapi dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah,” katanya.

Karena itu, SYL mengajak seluruh insan pertanian untuk menghadapi tantangan tersebut dengan dua langkah konkret, yaitu dengan penanaman yang lebih cepat dan momentum penyaluran sarana dan prasarana yang tepat. “Saya harapkan kerja sama dengan berbagai pihak lebih intens agar semua dapat berjalan dengan baik,” tegasnya.

Selaras dengan hal tesebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan, pangan adalah masalah yang utama dan menentukan hidup matinya suatu bangsa. Untuk itu petani harus tetap semangat tanam, olah, dan panen.

“Hal ini membuktikan pertanian tidak berhenti di tengah wabah Covid-19. Kepada penyuluh pertanian maupun swadaya diharapkan untuk tetap bekerja mendampingi para petani,” papar Dedi.

Reporter : Ira/Ismail/Yeniarta(BBPP KETINDAN)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018