
Pemerintah dorong penyerapan KUR alsintan
Dalam pengembangan mekanisasi pertanian ada dua strategi. Pertama, menurut Agung, selektif terhadap wilayah yang dikembangkan. Jadi setiap wilayah harus dilihat kesiapannya terhadap penerimaan alsintan, baik teknis, sosial dan ekonomi. Kedua, selektif terhadap teknologi. Baik teknologi sederhan, madya dan mutakhir.
Untuk mendukung mekanisasi pertanian, Agung menjelaskan, pihaknya melakukan identifikasi terhadap alat mesin pertanian yang sesuai dengan lokasi, pelatihan penggunaan dan perawatan alintan. ”Semuanya kita diberikan pendampingan agar program bantuan alsintan dari pemerintah sustainable. Pada akhirnya nanti dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan efisiensi tenaga kerja,” katanya.
Hasil perhitungan BSIP Mekanisasi Pertanian kebutuhan alsintan pada tahun 2025 cukup besar. Untuk traktor roda 2 sebanyak 419.704 unit, traktor roda 3 sebanyak 8.744 unit, combine harvester 23.075 unit, dan pompa sebanyak 466.338 unit.
Namun demikian Agung mengakui, tantangan mekanasisasi pertanian adalah bagaimana mengubah pola pikir petani untuk mau menggunakan alsintan. Selain itu, tantangan dalam penyediaan bahan bakar untuk alsintan.
”Dalam road map kebutuhan energi, tidak ada untuk sektor pertanian. Kalau begitu siapa yang mau menyediakan. Sekarang ini petani yang mau membeli solar untuk alsintan harus mendapat rekomendasi dulu dari lurah atau camat,” sesalnya.
Sementara itu, Nanang Widyanarko, Principal Business Consultant PRISMA menilai, peluang dan potensi pasar alsintan cukup besar, terutama untuk mengurangi ketergantungan tenaga kerja di sektor pertanian. Apalagi dalam komponen usaha tani, biaya untuk tenaga kerja hampir separuh dari total biaya. Misalnya, penggunaan combine harvester bisa menurunkan biaya usaha tani hingga 33 persen perhektar dan pengurangan tenaga kerja hingga 91 persen.
Catatan PRISMA, hampir 94 persen petani menggunakan traktor roda 2 untuk pengolahan lahan. Selain itu, metode penanaman dengan alsintan masih sangat rendah, petani yang menggunakan combine harvester hanya sekitar 16 persen.
“Artinya potensi pertumbuhan mekansisasi masih terbuka luas, terutama potensi untuk pengolahan lahan dan pemanenan,” katanya. Dengan kondisi lahan petani di Indonesia yang umumnya sempit dan harga alsintan juga cukup mahal, Nanang mengatakan, pihaknya mendorong tumbuhnya pengusaha penyedia alsintan.
Bagi pelaku usaha yang ingin terjun ke bisnis alsintan, Wahyu Adhi Nugroho, Shari’a Community Banking, Nano Bank Syariah mengatakan, pihaknya saat ini menyediakan skema pembiayaan yang bekerjasama dengan dealer alsintan. Mekanismenya nanti, pelaku usaha atau calon kreditur membeli ke perusahaan penyedia (dealer) alsintan.
”Kemudian customer baru diproses pinjamannya. Alsintan tersebut nantinya menjadi jaminan terhadap pinjaman tersebut. Jadi untuk mendapatkan pinjaman tidak bisa langsung ke bank, tapi harus berkolaborasi dengan dealer,” katanya.
Wahyu menambahkan, pihaknya telah mengembangkan skema angsuran yang disesuaikan income pelaku usaha. Misalnya, jika pendapatan dari alsintan tersebut tiga bulan sekali, maka angsuran dapat dibayar tiga bulan sekali juga. ”Rate pinjaman yang kami berikan juga kompetitif 10-14 persen pertahun, tergantung risiko usaha alsintan,” ujarnya.